Turunnya Kabut di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

Tak ada yang salah dengan kabut yang mampir di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, aku hanya ingin membagikan kebahagiaanku selama di sana.

Kabut turun bersama hujan yang menyelimuti seisi penghuni Tahura

Rabu kemarin, aku memang tak ada jadwal kuliah. Sebelumnya, berniat bangun ketika teriknya matahari yang membangunkanku, tapi aku ingat hari itu aku sudah punya janji bertemu temanku sekaligus berkeliling Tahura. Melalui perdebatan panjang dan tidak jelas yang biasa kami lakukan, akhirnya kami berangkat juga ke sana.

Di perjanjian awal, kami akan bertemu sekitar pukul 09:00–10:00, nyatanya kami memang sama-sama plin-plan dan ngaret, sehingga kami berhasil tiba di Tahura sekitar pukul 12:20. Tak menjadi masalah, karena hari itu cuacanya kami prediksi aman, terlihat terang-benderang.

Tentang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

Jika kamu yang membaca tulisan ini, berniat untuk berkunjung, akan aku beri tahu letak pastinya, yaitu di Dago Pakar, tepatnya berada di antara Desa Ciburial, Desa Langensari dan Desa Cibodas, Cimenyan, Kota Bandung. Luas tempat wisata alam ini sekitar 527 hektar, sehingga hutan ini terbentang dari daerah Dago Pakar hingga Maribaya. Entah berapa kilometer pastinya, yang pasti puluhan. Taman hutan raya ini bisa dikunjungi dari pukul 06:00–18:00 (berdasarkan ulasan dari Google).

Mengapa dinamakan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda? Singkat saja, alasannya untuk menghormati dan mengenang jasa Bapak Djuanda Kartawidjaja, pahlawan nasional yang berasal dari ranah Sunda.

Menginjakkan Kaki di Tahura

Tidak cukup jauh dari pusat kota, mungkin sekitar 15 menit kami sudah bisa tiba di sana. Temanku sempat bicara soal tiket masuk Tahura, Rp15.000. Hebatnya, kami masuk tanpa membayar tiket. Bagaimana bisa? Cukup aku dan temanku saja yang mengetahui caranya hahahaha….

Dari luar terlihat cukup sepi, kami mulai dengan berjalan dari parkiran motor menuju pintu masuk Tahura. Awalnya, aku berpikir taman ini terlihat tidak begitu luas jika dilihat dari pintu masuk. Ternyata aku salah meramal, kalian harus tahu berapa puluh kilometer jarak yang kami tempuh!

Goa Jepang dan Goa Belanda

Setelah berjalan cukup jauh dari pintu masuk, akhirnya kami sampai di Goa Jepang, tapi kami hanya melihat dari luar. Bukan hanya karena temanku tidak mau masuk, tapi aku pun ragu-ragu. Maklum, aku memang penakut.

Kami memutuskan untuk menelusuri Tahura lebih jauh melalui jalan yang sudah di aspal dan cukup lebar untuk dilewati dua orang. Mungkin ratusan atau bahkan ribuan pohon pinus, damar, dan pohon-pohon tinggi lainnya berjajar sepanjang jalan yang tak bisa kusebutkan satu per satu. Adanya penjelasan tentang nama dan kegunaan pohon yang tertempel di batang pohon, merupakan ide bagus. Setidaknya, aku menjadi tahu ada banyak jenis pohon lain, selain pohon pinus.

Aku berjalan lagi bersama temanku yang mengaku sudah tiga kali menelusuri hutan itu, hingga akhirnya kami menemui Goa Belanda. Kami juga hanya memperhatikan dari luar saja. Titik cahaya di ujung goa yang menjadi pintu keluar terlihat cukup jelas, jadi aku hanya meramal saja kalau goa itu tidak begitu panjang.

Di sekitar kedua goa tersebut, banyak penyewa senter dan ojek yang akan sangat sering dijumpai. Bahkan kata temanku, beberapa di antara mereka cukup memaksa pengunjung yang lalu-lalang. Tak perlu aku gambarkan lebih lanjut, Goa Jepang dan Goa Belanda, pada umumnya sama saja seperti goa pada umumnya, gelap dan punya banyak cabang juga di dalamnya.

Bersua Rusa Tahura

Semakin jauh kami berjalan, rupanya jalanan semakin rusak, berbatu-batu dan becek. Di tengah-tengah jalan, tiba-tiba hujan menyerbu. Kami tetap berjalan dengan mengandalkan satu payung untuk menyusuri hutan itu. Hujan semakin deras disertai angin, beruntungnya, ada tempat berteduh dekat sungai yang mengalir. Bercengkrama menjadi ide tepat sambil menunggu hujan menjadi cukup reda.

Berkat temanku yang bisa dianggap sebagai warga lokal Tahura ini, aku di ajak mampir ke penangkaran rusa yang tak jauh dari tempat kami berteduh. Kami naik ke semacam rumah pohon dan dari atas terlihat rusa-rusa yang nampak tak terurus. Jajaran pohon-pohon tinggi, kabut, dan kandang rusa menjadi paduan yang pas untuk dijadikan pemandangan. Tak lama setelah menggoda rusa dan berfoto-foto di sana, kami memutuskan untuk keluar dari Tahura.

Kami sempat mampir ke jembatan yang tak ku ketahui namanya, tapi cukup panjang dan tidak ada orang satu pun di sana. Akhirnya kami melanjutkan jalan menuju pintu keluar, jalannya sama saja seperti yang kami lalui dari pintu masuk. Cuaca masih berkabut dan dingin, tapi untungnya hujan tidak mengguyur kami seperti tadi.

Tak terasa akhirnya kami hampir sampai ke pintu keluar dan hujan pun sudah reda. Setelah aku menengok jam tanganku, ternyata sudah pukul 15:30! Rupanya, tak terasa, kami telah menghabiskan sekitar 3 jam untuk menyusuri seisi hutan tersebut. Cukup menarik, pikirku. Mungkin karena kami tiba di sana pada hari kerja, jadi jumlah pengunjungnya masih bisa dihitung jari, layaknya aku pemilik Tahura itu.

Sebenarnya, masih banyak destinasi yang bisa kami kunjungi, seperti museum dan monumen Ir. H. Djuanda atau air terjun atau artefak kebudayaan purba. Sayangnya, waktu dan cuaca tidak mendukung, sehingga kami rasa tidak perlu dipaksakan.

Jarang-jarang aku bisa berkunjung ke tempat wisata alam terbuka seperti ini. Mungkin sejak dua tahun belakangan. Pemandangannya sangat indah dan tentu tidak membosankan bagi mereka yang menyukainya.

Teruntuk kamu, yang sudah bersedia menemaniku untuk melihat dan menelusuri tempat baru yang begitu tenang dan indah, terima kasih. Aku harap kamu tidak kapok menunjukkan tempat-tempat seru seperti ini. Kamu tak perlu khawatir, aku janji tidak kagetan lagi, kok!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Clementia Maria Stephanie’s story.