Tren Niqab Masisir: Motif dan Dialektika

Pada zaman dahulu, niqab sepaket dengan berbagai kekangan yang membatasi perempuan untuk pergi keluar rumah, bersosialisasi dan mendapatkan pendidikan. Hal inilah yang mendorong Qasim Amin berjuang membebaskan perempuan pada masanya dari niqab dalam karyanya Tahrir al-Mar’ah. Sejalan dengan perubahan zaman dan arus globalisasi, saat ini niqab identik dengan citra kesalehan seorang perempuan.

Seiring interaksi dengan warga Mesir, Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) mulai mengadaptasi gaya hidup orang Mesir, salah satunya gaya berhjab. Baik yang meniru model tumpuk ala Timur Tengah yang memang lagi booming di kalangan pecinta fashion maupun yang meniru mengenakan niqab. Golongan yang kedua ini menarik diamati, bahkan meskipun di Indonesia sendiri niqab bukanlah barang baru. Ada dari mereka yang memang telah berniqab (atau berniat berniqab) sejak dari Indonesia, dan ada pula yang baru mengenakannya di Mesir.

Secara umum terdapat dua model berniqab di kalangan Masisir, yakni niqab arab yang berupa kain penutup wajah dan kening disertai tali, biasanya diikatkan di luar jilbab dan berwarna gelap. Yang kedua adalah model yang juga banyak dikenakan oleh mahasiswa asal Malaysia dan Thailand., yaitu jilbab kain lebar segi empat yang menjuntai dari atas kepala dan biasanya menutupi seluruh bagian punggung dan kedua bahunya sampai titik otot triseps, sepaket dengan penutup wajah yang dikenakan sebelum jilbab dan mempunyai warna-warna yang lebih bervariasi.

Beberapa tahun terakhir, Masisir yang “berhijrah” mengenakan niqab jumlahnya meningkat, terutama dari kalangan anak-anak baru, dan Masisir yang baru berganti status menikah. Benarkah niqab di kalangan Masisir hanya menjadi tren? Apa yang sebenarnya melatarbelakangi Masisir memutuskan berniqab di Mesir?

Jawabannya terlalu beragam, namun bisa dipetakan menjadi beberapa bagian. Pertama: sebagian besar mereka adalah orang-orang yang sudah berniat berniqab sejak masih di Indonesia namun belum sempat melaksanakannya karena berbagai sebab. Entah belum siap, ataupun karena niqab masih dianggap asing di kampung halamannya. Yang lainnya karena diperintah orang tua atau disarankan oleh orang terdekat, dengan tujuan menjaga diri dari bahaya fitnah atau tindak kejahatan. Ada pula yang motifnya menutup diri karena trauma pelecehan seksual — dalam bentuk apapun- yang pernah dialaminya. Tidak ketinggalan mereka yang berniqab dengan alasan semacam “ingin sempurna menutup diri”, “agar dapat mempersembahkan kecantikan hanya pada yang halal”, dan alasan-alasan serupa yang kedengarannya religius namun terkadang menggelikan. Biasanya golongan terakhir inilah yang tidak punya motif kuat sebagaimana kelompok-kelompok sebelumnya, sehingga mereka terpengaruh dan mengikuti jejak temannya yang sudah lebih dulu berniqab.

Dari sekian banyak alasan tersebut, sebenarnya dapat ditarik dua benang merah: rasa aman dan terlindungi. Mereka merasa nyaman ketika orang-orang melihat mereka dalam keadaan menutup wajah. Ada beberapa orang yang tidak suka wajahnya dilihat lekat-lekat oleh orang lain, dan perempuan sebagai makhluk yang paling besar rasa malunya tentu wajar jika merasa risih. Maka niqab adalah salah satu cara mereka merasa terlindungi dari pandangan-pandangan orang yang seolah hendak menerkam. Mereka jadi punya kekuasaan untuk membatasi pandangan orang terhadap mereka, dan bebas untuk membatasi orang-orang yang bisa saja men-judge ekspresi wajah mereka. Apalagi sebagai anak rantau yang kadang-kadang tersesat atau bingung arah jalan, niqab bisa menutupi ekspresi bingung dan lugu mereka, sehingga dapat mengurangi resiko bahaya dari tindak kejahatan atau keisengan yang bisa saja muncul.

Kedua: niqab adalah hal umum di Mesir, yang akhirnya membuat mereka merasa mantap dan tidak canggung untuk mengenakannya.

Sejauh ini, tidak ada tantangan yang berarti bagi mereka untuk berniqab. Ketika seorang Masisir memutuskan berniqab, mungkin ada reaksi kaget atau pangling dari kawan-kawannya. Tapi itu hanya awal-awal, dan selanjutnya akan kembali seperti biasa. Toleransi antara Masisir yang berniqab dengan yang tidak mengenakannya amat tinggi di sini, mereka saling menghormati satu sama lain. Tidak ada pembicaraan yang menyinggung perasaan atau apapun berkenaan dengan pakaian. Tidak seperti di Indonesia yang mana niatan untuk berniqab kadang justru mendapat tekanan dari orang-orang terdekat yang tidak setuju. Atau sebaliknya, orang-orang yang berniqab kadang memandang rendah yang belum berniqab dan menganggap mereka belum sempurna menutup aurat.

Terlepas dari perbedaan pendapat para Ulama mengenai hukumnya, niqab bagi penulis cenderung masuk wilayah hurriyyah syakhshiyyah atau kekuasaan pribadi seorang perempuan atas tubuhnya yang harus dihormati sebagaimana hak manusia lainnya. Sebagaimana yang kita ketahui, faktor sosial, politik, ekonomi, atau iklan produk-produk kecantikan di teve telah banyak mendorong banyak perempuan untuk menyesuaikan standar kecantikannya di luar kesadarannya. Maka niqab di sini menjadi sumber kebebasan, di mana perempuan terbebas dari komersialisasi tubuh untuk kepentingan bisnis maupun hal ihwal penampilan yang seringkali menjadi belenggu baginya.

Dari sini terlihat jelas, bahwa niqab memang tidak bermaksud membatasi gerak perempuan. Justru dengannya perempuan bebas beraktifitas tanpa perlu merasa insecure dengan penampilannya maupun pandangan orang lain. Dengan niqab pula, perempuan akan dinilai lebih dari peran dan kemampuannya, bukan semata karena kecantikan wajahnya atau perhiasannya.

Namun, dengan segala manfaat menutup wajah — yang dalam beberapa hal menyerupai fungsi topeng bagi penjahat- ada beberapa hal yang harusnya dijadikan perhatian bagi mereka yang berniqab. Mengingat wajah adalah penanda pertama untuk mengenali seseorang, dan hanya perempuan yang terlihat wajar mengenakan niqab dan menutup wajah dalam keseharian, sedangkan laki-laki tidak. Yakni waktu dan keadaan di mana mereka wajib membuka niqabnya, baik dengan alasan keamanan seperti ketika masuk bank atau hotel dan kebutuhan seperti ketika ujian atau pemeriksaan medis. Bahkan menurut Syaikh dr. Yusri Jabr al-Husni, ketidakpatuhan terhadap kewajiban membuka niqab pada waktu-waktu tersebut adalah suatu jarimah (kesalahan yang bisa dihukum). Hal ini sedikit banyak bertolak belakang dengan kecenderungan sebagian Masisir yang berniqab untuk anti-memperlihatkan wajahnya di saat yang diperlukan, seperti ketika mengumpulkan foto untuk perpanjangan visa maupun untuk pemeriksaan identitas diri lainnya. Padahal jelas wajah bukan termasuk aurat yang berdosa bila disingkap.

Di sisi lain, ada juga sebagian mereka yang justru menghias bagian matanya dengan celak, maskara atau bahkan lensa kontak. Atau memakai pakaian maupun perhiasan yang mencolok seperti gelang atau bros besar yang pada akhirnya mengaburkan konsep “menutup kecantikan” dengan menonjolkan sisa bagian yang terlihat.

Pada kenyataannya, seseorang yang berbicara dengan seseorang yang berniqab hanya dapat menebak ekspresi lawan bicaranya melalui mata atau gesture tubuh — karena itu yang bisa dilihat. Ketika niqab itu diiringi dengan berhias, maka niqab pun berubah menjadi hiasan yang terkadang justru menggoda rasa penasaran tentang keindahan wajah dibalik kain penutup tersebut, semacam “matanya saja indah, apalagi wajahnya”. Dalam keadaan seperti ini, niqab kehilangan fungsinya.

Meski niqab sudah tidak lagi menjadi simbol belenggu perempuan sebagaimana pada zaman Qasim Amin, namun tidak serta-merta boleh bersikap semaunya. Memang benar bahwa tujuan utama niqab hanya untuk menutup wajah. Namun paling tidak, citra kesalehan yang terlanjur melekat pada niqab jangan seenaknya dirusak oleh perilaku yang kurang pantas seperti berkencan berdua saja dengan pacar atau mengumpat dengan perkataan yang tidak layak.


NB: Artikel ini dimuat di rubrik opini buletin Teratai PCI Fatayat-NU Mesir edisi April 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.