Ibrani 13:4

Terbersit sedikit impian sekaligus ketakutan sebangun tidur. Tentang anak perempuan saya kelak, tentang gadis kecil yang kusaksikan sendiri proses lahirnya. Tentang gadis kecil yang saya antar ketika bersekolah, tentang gadis kecil yang akan saya antarkan pula ke depan altar.
Mungkin keinginan saya akhir-akhir ini mempunyai seorang anak. Anak yang kusematkan namanya dalam doa ketika bangun pagi-pagi seperti ini. Anak yang mungkin selalu akan kutulis kisah perkembangan dalam hidupnya. Anak yang kuwarisi jutaan legenda dan ceritera yang nenek dan ibuku bacakan dulu sebelum tidur. Sangat menyenangkan walaupun kini hanya bisa berangan.
Kuingin mempunyai anak pertama seorang perempuan, selanjutnya pastilah seorang lelaki. Saya akan mengajarkan ia sebagai pemimpin yang baik untuk adiknya. Banyak orang beranggapan bahwa perempuan lebih cepat dewasa dari pada lelaki, pasti sangat menakjubkan ketika ia bisa membela martabatnya dahulu kemudian keluarganya. Akan kudekap kau nak, takkan kubiarkan waktu menurunkan semangat berjuang hidupmu.
Kujanjikan tempat terindah di bumi, pundak ayahmu ini. Kuajak kau terbang dan menari di atas punggungku. Seperti Zeus yang mengajak Europa mengelilingi dunia. Kujanjikan kau aman di sampingku, menyediakan bekal untuk hidupmu kelak.
Kubelikan kau buku harian berwarna coklat, dengan nama ayahmu ini di kiri bawah sampulnya. Kan kuajak kau melukis dunia disitu. Akan kuikuti duniamu dalam aksara bawah sadarmu. Ya akan ku ajarkan pula kau bernyanyi, agar aku tau apa isi hatimu. Mungkin ketika kau beranjak remaja nanti kau tak mau lagi kugenggam. Memilih menutup diri dalam kamarmu. Namun, ayahmu ini akan menempelkan telinganya di daun pintumu. Akan kudengar kau memutar lagu apa, akan kudengar kau bernyanyi di nada apa, akan kutunggu di depannya ketika kau terisak. Pintu tak akan kuketuk, kau memiliki waktumu sendiri. Tugasku menjagamu meski kau tak tahu.
Ketika kau menginjak sekolah atas, akan kubiarkan kau membuka gerbang pertemananmu, aku tak akan menyalahkan kau terlibat dalam komunitas, aku jg tak akan melarang kau merokok maupun menenggak civas maupun bakonang. Namun pastikan kau menceritakan padaku setelahnya, rasanya, dan efeknya di dalam tubuhmu. Jika kau pulang dalam keadaan setengah sadar di dini hari, akan kutopang tubuhmu, dan akan kubiarkan kau mengeluarkan isi perutmu di bajuku. Tak masalah, akan kusibakkan rambutmu dan kubisikkan. ‘Rasanya akan sama jika kau terus mengulang malam tadi’
Lantas kau mengenal cinta remaja, lagu yang kau putar di dalam sana yang menceritakannya. Aku tersenyum selagi bersendau-gurau bersama ibumu di ruang keluarga. Kami mendengar kau menelpon dengan nada manja. Akan kutertawakan pula ketika kau keluar kamar dengan parfum yang kau ambil dari almari ibumu. Mengantarkan kau yang kini keluar ditemani sosok lelaki pilihanmu. Genggamu kini tak sekuat dulu, kau lebih lama menggenggam tangan yang sudah mendapatkan hatimu. Kulemparkan senyum ketika suara kendaraan dari teman lelakimu itu mulai menyala, melambaikan tangan dan berdoa agar kau baik-baik saja bersamanya.
Lantas waktu menggiringku bersama ibumu menuju takdir tiap manusia, tua. Kini waktu pagi kedua orangtuamu lebih banyak dihabiskan di beranda. Mencabuti uban dan menghitungnya. Sembari menunggu adik laki-lakimu yang kini sudah SMA. Sedang kau sudah hampir lulus menjadi sarjana. Ibumu kerap menceritakan bahwa ia kerap bertukar kabar bersama ibu laki-laki yang sering kau bawa bermalam-minggu. Aku tersenyum mendengarnya, namun waktu seolah melambat. Mengingat kau yang dulu kusematkan doa ketika masih bersatu bersama lindung lahirmu. Kubelai wajah ibumu, kami sama-sama menteskan air mata karena waktunya hampir tiba. Kugenggam tangan ibumu, merasakan kembali dahulu ketika ia menggeram, memaksa kau menyaksikan kami menunggu. Hingga tangisammu nyaring, lambat laun berganti menjadi tawa. Tugas kami sebagai buku bersampul coklat hampir selesai.
Wajahmu yang kerap kau lukis dengan tabur warna-warni menegaskan kau siap macak dan masak. Kau cantik sekali hari ini dibalut kebaya berwarna merah-muda dengan topi bertali di atasnya. Kami berdua yang mendahulu menepuk-tanganimu ketika kau maju di mimbar sana. Maaf kami membuatmu malu, namun ini satu-satunya apresiasi yang perlu kami tunjukkan padamu, karena kami yang sering memergokimu tidur di ruang tengah demi mengerjakan tugas rumahmu.
Kugenggam tanganmu untuk keribuan kali, kau lebih cantik kini. Wajahmu semakin mempertegas kau menjadi perempuan yang dewasa. Mirip ibumu dahulu. Kau meminta maaf padaku atas segala salahmu, kupeluk erat kau dan membisikkan ‘ini sudah jadi tugasku, selalu menghantarkanmu nak’ kau menangis sejadinya di bahuku. Bahu yang selalu menjadi tempat larimu ketika dunia seakan tak berpihak, sampai kini. Sudah jangan biarkan air mataku mengotori pakaian serba putihmu ini. Ayahmu ini juga harus bisa berjalan tegap di atas karpet merah kan? Agar terlihat kuat seperti hari-hari biasanya. Pintu terbuka, organ dan orkestra menggema memantul-mantul mengganggu burung gereja yang tiba-tiba beterbangan dalam ruangan. Semua berdiri, menatap anak perempuanku yang menggenggam tanganku erat. Waktu berjalan lambat kembali, kutak lepas menengadah memandangi salib besar di depan sana. Kau sering menoleh ke arahku nak, kau nampak heran dengan apa yang kupikirkan. Kutarik nafas panjang, dalam hatiku terus berdoa berucap syukur. aku cemburu dengan laki-laki di depan altar sana, yang menunggu genggamu berpindah di tangannya. Ini sudah waktunya, melepaskan kau memilih cintamu kini. Namun sematkan dalam hatimu nama ayahmu, sebagai cinta yang menghantarkan kau kemanapun langkahmu, waktumu dan juangmu.
Ibrani 13:4
Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.
Kusampaikan pada lelakimu untuk yang terakhir, ‘bila kau berhenti menggamnya akan kau hakimi dulu kau di depan kayu salib’