Melepas Plester
Tuhan selalu menempatkan kita dalam situasi yang tak terduga. dijanjikanya hal-hal luar biasa yang baru bisa diartikan seiring berjalannya waktu, ajaib. ajaibnya lagi ketika kau dipertemukan dengan sosok yang mengerti dirimu utuh, tanpa perlu ia melihat pakaian dalam apa yang kau kenakan.

kau tak akan pernah sendiri bahkan dalam sepi.
rumah kontrakan berwarna putih dan berpintu besi, sudah berapa malam kuhabiskan malam di dalammu? bercerita mengenai akademis hinga pesimis-pesimisnya hidup. selalu menyediakan cerita baru dan hal lama yang diusung lagi ke permukaan. lengkap elemenku digodok disini. selatan kau air, tengah api, dan utara kau angin. mediaku melengkapi keempat elemen dasarmu.
bahagiaku disini kadang tercipta di atas kursi bambu, mengangkat kaki diantaranya dan kalian ada dalam ruang masing-masing. sang air memutar lagu melayu, sang tengah memutar lagu-lagu top 40 terkini, dan angin terbawa suasana hati dalam setiap lagu yang dipilihnya. malioboro kecil tercipta seketika dan aku menjadi wisatawan yang tinggal menjajaki satu persatu-satu ruang kalian, melihat apa yang ditawarkan hari ini. aku ingat betul pertama kali aku menginjakkan kaki, masih bertanya-tanya lokasi ketiga elemen ini, mengaggumi besarnya dunia kalian disini. pembicaraan pertama memang selalu menjemukan, terlebih membawa kepentingan pribadi, membawa buah tangan otak untuk kubagi satu per satu. kita mungkin sudah berjabat 4 tahun lalu, kenapa baru kali ini aku bisa masuk sedalam ini. Tuhan mulai bermain dengan ketertakdugaannya. semua berjalan lancar, bahkan kalian selalu tak pernah menolakku ketika menggedor-gedor pintu besi kalian untuk kepentingan pribadiku. kalian orang-orang baik yang dikemas sepaket. aku umbar statement “ini rumah keduaku kini”
mungkin ini tak sepelik kontrakan berwarna hitam kemarin. sangat kontras tembok kalian melengkapi. hitam dahulu dan putih kini, kombinasi seimbang di duniaku yang abu-abu. lalu sang air dan api mengeluarkan apa yang kalian bisa suguhan, dari whisky hingga racikan daun linting imajinasi. dan beruntungnya aku bisa menyaksikan kalian hilang sadar diterpa lampu warna-warni. aku kalian bawa masuk selapang ini, lebih luas lagi. untuk urusan pemegang area utara, masih setia mengenakan plester kuningnya. bayangan visual yang hanya di otakku kadang tak elak benar. kau bisa jujur lewat emosi muka yang kau berikan, sedang untuk menanggapinya ada hal yang menggantung dibibirmu. lucu, kau masih terbang dibawa luka masa lalumu.
proses yang menguras tenaga sudah selesai sebagian, kini aku harus senantiasa menghampiri si manusia berplester kuning. aku selalu ada di belakang kursi kerjamu, memperhatikan punggumu, mencur-curi pandang tentang apa yang kau tekan di genggaman tangan kananmu. beruntungnya adalah aku tak perlu menyaksikan plester yang menutupi mulutmu itu dari kedudukanku. suka tak suka, geliat punggumu yang katakan.
waktu sudah mengiringi malam-malam dengan pembicaraan yang disusun sedemikian rupa demi melancarkan kepentingan. kau mulai berbalik memperhatikan aku yg bercerita mengenai apa saja yang aku kerjakan dan yang aku risaukan. kau masih diam, namun kini aku bisa melihat warna wajahmu, area yang tak tertutup plester kuning. segan masih hadir, namun entah kenapa ada dorongan kau harus tahu dulu siapa aku sesungguhnya.
sebelum kuberikan kau tentangku, salah-satu hal terbesar dalam hidupmu tahun ini hadir, dan aku diantaranya. aku masuk kini dalam ceritamu, kartu dari masa lalu keluar, ada queen disana, kartu bergambar hati yang terselip sudah setengah windu lalu. kau rindu rasanya menatap dan memegangnya secara nyata, dan waktu mengujungkan itu. salahku atau salahmu? itu juga jelas bukan salah waktu, lucu? tak ada yang bisa dipersalahkan.
kuajak kau bermain house of card, menumpuk kartu hingga mengerucut ke atas. puncaknya kartu hati ratu yang kau temukan kini. dengan terbalik kita sama-sama melucuti setiap kartu dari atas ke bawah. ah, kutemukan kau sudah merasa memiliki kartu itu dari lama, namun plester yang menutupi mulutmu hingga kini yang menahannya. semua ada di kepalamu sendiri hingga waktu pula yang membuktikaan keadaan perasaanmu. aku tanah sebagai mediamu kagum dengan pola berfikirmu.
aku lebih baik menyukai dengan cara diam-diam, tanpa orang itu tahu apa yang aku inginkan, karena itu soal aku, soal perasaanku, tak akan berimbas ke hal lain. perasaanku kacau kini, semua seakan salah, aku pun menghakimi diriku sendiri.
pilihanmu itu, itu. arogansiku berkata 180 drajat berbalik dengan pembenaran yang terlontar barusan. aku main sruduk di setiap keadaan apa lagi jika menyangkut soal hati. ah.. kaupun berbicara demikan dengan masih menempelkan plester kuning itu dimulutmu. aku belum tahu hal lainnya hingga semalam, tepat semalam.
kita makan hati bersama di depan samsat. hati ayam, hati manusia siapa tahu rasanya, untungnya demikian. kau kini berani mengeluarkan suara yang terpendam. komunikasi verbal kini tersinergi maksimal setelah kita sama-sama menyelam selama dua bulan terakhir. lama juga perusasiku untuk dapat melihat bibirmu, melihat getaran lidahmu.
lebih dari itu, sesungguhnya kau ingin menciptakan rumah yang nyaman untuk orang sekitarmu. kau pecinta kebersihan sama seperti aquarius-aquarius yang ku kenal jauh sebelummu. kau selalu menjadi cerminan rumah yang sempurna untuk orang-orang yang mampu mengartikan gerikmu. namun, waktu jugalah yang membuktikan orang-orang mana saja yang tahu tentang rumah yang selalu coba kau bangun itu. dan tadi malam kau mengingatkanku. jujur aku cuma dapat berucap terimakasih, karena memang kontrakan ini kusebut sebagai rumah ke dua beberapa bulan terakhir. dan kau menciptakan sinergi yang sama dalam arti kata rumah. dimana ada kau yang tak malu lagi membukakan pintu, mematikan ac, sekadar mempersilahkan aku merokok di dalamnya.
setahun tepat hari ke 20, bulan ke 8, usia kalian akan menginjak setahun berada di balik pintu besi ini. namun, yang sering hinggap didalamnya cuma kau tahun ini. kau bercerita ini sangat terbalik dari tahun sebelumya, karena waktumu kau habiskan di ibu kota. setahun pula kalian bisa saling meneduhkan , membakar semangat, dan saling menyejukkan satu sama lain dengan persona kalian. aku sebagai medianya, hanya mampu menyaksikan masih pada kedudukanku di kursi bambu.
sebentar lagi akan berbeda, rumah yang kalian sediakan sebagai rumah keduaku rasanya tinggal menunggu waktu. jujur aku selalu rinduku masih ada disini. ada amarah yang tertahan, ada tawa yang menggema, ada diam yang berarti, ada kalian bertiga yang selalu menawarkan apa yang kalian punya di balik almari masing-masing. kalian memang benar rumah sesungguhnya. aku akan pulang sekarang ke rumah pertama dan tak tahu lagi jika Tuhan mengizinkan aku lagi berhenti di rumah-rumah selanjutnya.