Obrolan terakhir di loteng kontrakan berwarna hitam

Kucing hitam kita belum sebesar sekarang, belum banyak yang dia ketahui tentang sang pemeliharanya. Ia masih kerap memperhatikan kita berbincang mengenai masalah yang datang, masalah yang tumbang. Dulu kita sama-sama sepakat menaruh lampu warna-warni dan kursi bambu untuk menikmati senja. Dulu kita sama-sama ingin menghiasi ruang ini dengan lampu emergency yang sama-sama menampakkan wajah merah kita ketika berbincang ditemani sebotol beer. Dulu kau duduk menghabiskan malam pergantian tahun dengan sahabatmu dengan wine toasting di dua kursi kerja tua di samping tandon air. Dan dulu kita menangis bersama dikala tengah bercanda.

Depan kita langit merah, memantulkan hingar kota. Namun kita malah menertawakan diri sendiri karena justru merenung jauh dari bingar disana.

Somewhere only we know, yang kini kita tak bisa menempatinya kembali. Bukan hak kita juga untuk terus menikmati ruang yang sama. Itu berarti untukku. Andai aku orang kaya kuperdayakan lembaran uangku untuk membeli ruang kita itu.

Aku datang dengan cara malu-malu. Bukan dayaku untuk langsung masuk tanpa permisi, berambisi untuk dekat dan tinggal saja hampir tiada. Kita masih membawa kepala masing-masing. Sekedar duduk dan bercerita keseharian, belum banyak mengenal, tapi sudah tak segan untuk memeluk.

Lantas kau memperkenalkan dirimu, melunakkan kepalamu, menaruh hatimu untuk sama-sama dinikmati. Kita bersantap mengenai pribadi. Menghabiskan malam, menghirup asap bersama. Lalu kita tak malu bersenggama satu dengan yang lainnya, mencari nikmat dalam rasa sakit pribadi. Kami tak sadar sama-sama telanjang di loteng. Kau ceritakan sakitmu karena biru di masa lalu, kau yang lain bercerita mengenai pergumulanmu dengan atasanmu, kau yang satu menceritakan tenggelammu dalam perasaan. Ah kami bisa sangat prematur dalam hal kedekatan.

Sawah yang berubah menjadi kostan yang menjadi pemandangan utama dari sini kerap juga jadi sorotan. Ngalor-ngidul kita berbicara mengenai dunia yang ‘katanya’ sedang berpendar. Masalah semakin banyak, namun kami sama-sama ‘ada'.

Lantas yang lain memutuskan untuk mengakhiri masa kontrak, kini ia terbeban dengan hasil senggama dengan sang pacar. Bahkan sebelum kau cek gumpalan darah yang belum genap 2 bulan, kami sempat meyakinkanmu di samping tandon orange ini. Sepulangnya, sang kau menangis di ujung sambungan telepon.

Bagaimanapun itu ponakanku, aku ingin yang tebaik untuknya, vo.

Aku paham benar rasa itu, otak kirikupun kram mendengar tangisnya. Iya, kau calon ibu.. Kau ingin isi dari rahimu meneruskan politik kepentingan negara ini nantinya.

Hingga akhirnya semua keadaan berubah menjadi lebih baik, waktu memang penyembuh paling ampuh. Waktu pula yang membuktikan kita masih ada untuk sekedar merapatkan kedua tangan. Sama-sama berharap semua yang terjadi adalah yang terbaik. keputusan untuk pindah tempatpun disepakati. Kini masing2 kau berumah masing-masing. Menikmati temaram lampu kota dan berusaha tertawa dibahwah naungan sinarnya.

Kau patah hati lagi, kau pergi ke kota besar mengejar mimpi, kau kini menjadi ibu, aku tetap menertawakan kejadian loteng di masa lalu. Namun sudut matahari di sudut ruang tengah itu membuatku rindu melihat kalian telanjang lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.