Pulang

Pesta AlGa

aku tak lagi mengiba, karena sudah cukup rasanya bagiku untuk memperjuangkan suatu hal dalam bentuk cangkemisasi. semalam aku mengalami hal baru dalam gerbang supra ketiga, dimana semua hal disekitarku berubah menjadi asap keabuan. sesak nafasku diburu dingin pasir pantai dan sapuan angin dingin. lemah aku bersila hampir goyah dihantam ombak selatan. namun lagi-lagi tak ada yang tahu dimana aku sebenarnya sekarang? kehidupan keberapahkah ini?

orang-orang yang kutemui kubukakan pintu dengan lebar di delapan penjuru. aku tanpa tameng, tanpa segan menawarkan apa saja yang ada di dalam rumahku yang sesungguhnya kosong. ya, hakikat laki-laki adalah mengantarkan. menggandeng hingga hilang sudah beban yang dipikir akan ditanggung bersama. kehidupan sosok yang ada di depan, samping, belakang, dasar, atas dan segala arah. seperti pembicaraan di bawah mendung kala itu, belajar mencintai dapat didapat dari memelihara hewan. kau beri ia kebutuhannya, ia memberikan cinta meskipun tak membalas segala upaya dalam memenuhi kebutuhan hewanmu. hakikat.

lalu supraku terantuk asap dupa, dimana halu mulai mengusai tanpa alkohol yang mengalir hingga otak, ini terasa nyata dan tak bisa kuceritakan dengan orang yang berdiri di atas rasionalitasnya. hai putri, kau tak tampak malam ini, bukannya romansa kita kadang terjalin di malam jumat pertengahan bulan. namun kini kau tak kuantar lagi, aku hanya membawa diriku sendiri dengan ratus meditasi yang kubeli setahun lalu. kusisakan satu di tas, berharap kau mengambilnya sendiri di rumah. namun jangan dulu, kau kini enggan mampir. kau tahu aku terjerat rantai dunia yang mengikis kepercayaanku. karena mencintai dan kepercayaan adalah hal yang haruslah seimbang katamu. namun kini kau egois dengan tak mengingatkanku, bahkan di rumah sang atas kemarin yang kukunjungi aku tak mendapatkan apapun dari sang empunya.

mungkin kini aku kembali lagi bukan menjadi pribadi yang menggandeng, bukan menjadi pribadi yang ingin menjadi pahlawan di segala hal, bukan pribadi yang ingin didengarkan, bukan pribadi yang memikirkan banyak hal dari sebuah perihal kecil. aku harus berpikir babakan hidupku sendiri, egois seperti dirimu yang tak menyapaku di pintu rumahmu.

aku pulang sekarang, ke rumah yang sebenarnya, berhenti berlari, aku butuh rehat dari isi otakku yang menghapus keinginanku. selamat jalan kehidupan pribadi-pribadi di sampingku. sampai jumpa saat kau tahu hakikat menghargai orang yang mau menjamumu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.