Takbir

Di jalanan masih ramai teriak kumandang ke maha Esa-an, aku enggan pulang dr tempat yg biasa aku buat untuk membunuh ego.

Kota besar, nama sesungguhnya untuk nama sebuah tempat. Langkah pengunjung makin ramai, belanjaan mereka bertumpuk di keranjang biru. Anak kecil sibuk membuka-tutup kulkas es krim, mencoba meraih barang paling bawah. Ibu2 membandingkan harga kue. Sang bapak menunggu di luar sembari menghidupkan rokok. Kasir bolak balik mengembalikan barang retur, mengembalikan yg tak sesuai dengan kantong pembeli. Semua riuh dalam satu ruangan. Pasar swalayan yg mendadak seperti pasar pagi. Anak muda di deretan mejaku juga enggan pulang, tertawa keras menyaingi kumandang di jalan.

Langit berhias api warna-warni. Aku sempat larut pada suasana, memang sendiri tak selamanya sepi. Api keberapa kunyalakan, menyabung nafas. Tuts ponsel masih kupegang rata setiap hurufnya. Pertama kali aku merasa benar2 bersyukur waktu ini. Memikirkan perihal beberapa waktu belakangan. Semuanya akan kembali di posisi kosong esok hari.

Jabat tangan penanda semua salah lebur, katanya

Esok permulaan baru, esok semuanya tersenyum menyambut tangan-tangan, ramai-ramai memamerkan hidangan, menertawakan peristiwa setahun belakangan..

Ahh.. Ini lah yang membuat aku selalu ingin mengulang setiap tahunnya. Bukan esok, tp malam ini..

Anak kecil keluar, duduk di trotoar. Tergesa membuka bungkus es krimnya. Menjilatnya dengan mata yang berbinar. Nyala-nyala lampu lalu-lalang di depannya menyinari wajah polosnya. Ia sungguh tau menikmati momen saat ini. Berkali-kali kidapati ia jg turut bersenandung, menyuarakan kebesaran Tuhan. Es krim masih setengah, ada banyak lelehan di tangan kananya. Sang ibu keluar membawa dua kantong belanjaan.bapak sudah masuk ke mobil. Anak itu buru2 menghampiri ibunya merengek membawakan belanjaan. Ibu sempat menolak, namun ia tak enak dengan beberapa pasang mata yg memperhatikan tingkah laku anaknya yg merengek keras. Diberikannya satu kantong besar yang ia bawa. Anak kecil itu menyambut dengan wajah penuh kekuatan. Es krim berpindah ke tangan kiri, kini kedua tangan itu penuh lelehan. Beberapa detik anak kecil itu memegang kantong berisi banyak belanjaan. Pandanganku beralih.. Ketika kemabali, belanjaan yang dibawa anak kecil itu tumpah berserakan.. Sang ibu mendorong anak itu, menahan amarah, menahan malu..

Es krim jatuh ke lantai, anak tersungkur ke trotoar, ibu membereskan belanjaannya, bapak masih di dalam mobil tak memperhatikan peristiwa di luar.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.