Indonesia toward Industry 4.0
PAN Brothers — perusahaan tekstil yang memproduksi merek terkenal seperti Uniqlo, Adidas, The North Face, H&M dan IKEA, telah menggunakan berbagai teknologi 4.0, seperti artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Augmented Reality (AR), Advanced Robotics, dan 3D Forming dalam rangkaian proses produksinya. AI digunakan dalam membantu proses jahitan virtual, sehingga dapat menentukan keputusan tanpa kehadiran klien — yang kebanyakan dari Amerika dan Eropa. IoT digunakan sebagai sarana monitoring dari proses produksi hingga distrubusi, sehingga dapat memastikan keamanan dari rantai nilai produksi mereka. Robot telah membantu proses otomasi produksi tekstil.
PAN Brothers adalah satu dari sekian perusahaan yang telah dan merasakan revolusi Industri ke-empat atau Industry 4.0. Jadi, kenapa lagi ada alasan untuk tidak menerapkan Industri 4.0 di Indonesia?
Presiden Jokowi, dalam pidatonya pada April 2018 menyinggung perihal Indonesia dan Revolusi Industri 4.0, yang begitu nyata di pelbagai belahan dunia. Salah satu langkah kongkrit yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi gelombang revolusi ini adalah dengan membuat Roadmap atau peta jalan tentang apa yang akan dilakukan Indosesia kedepan, dalam Making Indonesia 4.0.
Industry 4.0
Industry 4.0 dicetuskan oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel, dalam pidatonya pada tahun 2015. Walaupun masih menjadi bahan perdebatan, tapi rasanya wajar jika di zaman yang dipenuhi inovasi disruptive ini layak disebut sebagai revolusi dari zaman Industri ke-tiga. Klaus Schwab (2017) dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution mengatakan bahwa Revolusi Industri 4.0, dengan dukungan kemajuan pesat teknologi, akan membawa kita pada kondisi transisi revolusi teknologi yang secara fundamental akan mengubah cara hidup, bekerja, dan relasi organisasi dalam berhubungan satu sama lain. Hal kursial yang harus diperhatikan oleh pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat luas bahwa kita harus memahami dengan bijaksana gelombang revolusi industri 4.0 ini sebagai tranformasi dari sejarah manusia kedepan.
Menyoal tentang inovasi distruptive, yang telah banyak mengubah tata kehidupan di Indonesia, sebut saja dengan adanya belanja online, ojek online, dsb, muncul pertanyaan baru apakah Indonesia siap menghadapi gelombang revolusi Industry 4.0 ini?
Tantangan dan Peluang Indonesia menghadapi Industri 4.0
Kelebihan yang dimiliki oleh Industri 4.0 meliputi teknologi yang menyertai revolusi ini, sebagai contoh adalah ilustrasi kasus PAN Brothers dalam pembukaan artikel ini, bahwa dengan teknologi yang mereka punya dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Teknologi seperti AI, IoT, Robotic, terbukti menjadi poin plus dari revolusi Industri 4.0 ini.
Sementara kekurangan dari Industri 4.0 berbarengan dengan perkembangan teknologi itu sendiri, masalah seperti privasi data yang sangat rawan digunakan sebagai senjata tersembunyi bagi mereka yang tidak bertanggung jawab, masalah lapangan pekerjaan yang tergerus dengan adanya otomasi di berbagai bidang dan mulai diganti dengan robot, hingga masalah legal atau hukum yang selalu kalah cepat dengan inovasi disruptive.
Peluang Indonesia masuk dalam Industri 4.0 sangat besar, mengingat dengan bonus demografi yang diperkiran sampai tahun 2040 dengan usia produktif yang maksimal, akan mampu menuntun Indonesia menghadapi Industri 4.0. Hal lain yang dapat menjadi pertimbangan adalah kesiapan pemerintah dan pihak industri. Lagi-lagi seperti ilustrasi PAN Brothers diatas, atau perusahaan tekstil lain di Indonesia yang mulai menerapkan Industri 4.0 dalam operasionalnya, membuktikan bahwa Indonesia telah siap menyongsong Industri 4.0. Pemerintah juga tanggap dalam menghadapi revolusi ini, Pemerintah melalui Kementrai Perindustrian bersama dengan Presiden telah mengeluarkan roadmap berupa Making Indonesia 4.0, yang salah satu isinya adalah tentang lima sektor manufaktur unggulan: (1) industri makanan dan minuman, (2) tekstil dan pakaian, (3) otomotif, (4) kimia, dan (5) elektronik. Kelima area manufaktur tersebut berkontribusi besar terhadap PDB dan memiliki daya saing internasional.
Ancaman itu sendiri muncul karena bonus demografi yang begitu banyak namun gagap akan teknologi, juga mental mereka yang belum siap untuk menyambut Industri 4.0, sehingga Industri 4.0 malah akan menimbulkan pengurangan lapangan pekerjaan yang lebih signifikan. Ancaman lain muncul adalah terkait infrastruktur yang belum merata di Indonesia, hal ini akan menghampat adopsi Industri 4.0
Jadi, Apakah yang harus Indonesia lakukan dalam menyambut Industri 4.0
Informasi
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah penyebaran informasi mengenai Industri 4.0, karena masih banyak perusahaan di Indonesia, khususnya menengah ke bawah yang masih belum melek akan revolusi ini. Pemerintah mengantisipasi Industri 4.0 dengan sangat baik, salah satu yang dilakukan adalah pembuatan Roadmap Making Indonesia 4.0.
Selain sektor industri, pemerintah juga telah membuat program bagi mahasiswa di Indonesia untuk menjadi Duta Revolusi Industri 4.0. Program ini diinisiasi oleh Staf Khusus Kepresidenan yang memilih 3 orang mahasiswa terbaik untuk menjadi Duta Revolusi Industri 4.0. Salah satu Duta Revolusi Industri 4.0 adalah Muhammad Hilmi Asyrofi, mahasiswa berprestasi dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung (ITB). Hilmi, mendapatkan kesempatan untuk menghadiri konferensi di Eropa tentang AI, dan bertugas untuk menyebarluaskan informasi Industri 4.0 kepada khayalak di Indonesia.
Sumber Daya dan Inovasi
Sumber daya manusia amatlah penting dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, dengan bonus demografi yang Indonesia miliki dan kemampuan yang mumpuni akan teknologi sehingga mampu mewujudkan Industr 4.0 sesuai dengan apa yang telah pemerintah kehendaki. ”Bukan negara dengan penduduk jumlah besar yang alan menang dalam persaingan tetapi negara dengan SDM yang mampu menghasilkan inovasi yang menang,” kata M Nasir, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi
Infrastruktur
Peningkatan infrastruktur khususnya di bidang TI akan sangat membantu mewujudkan Industri 4.0, karena infrastruktur TI adalah pondasi yang mendasari Industri 4.0. Penggunaan IoT, Robot, AI yang memadai akan sangat membantu melakukan transformasi industri menuju Industri 4.0
Legal
Inovasi distructive yang sering kali mendahului peraturan pemerintah harus segera dibenahi. Tanpa payung hukum yang jelas akan mengakibatkan industri ragu akan penggunaan teknologi dalam menyongsong Industri 4.0. Penegakan hukum juga penting untuk memastikan ekosistem Industri 4.0 berjalan dengan baik dan aman.
Begitu pentingnya revolusi Industri 4.0 ini sehingga gagap / kurang tanggapnya bangsa ini dalam menyambutnya akan berimbas pada beberapa sektor, seperti lemahnya daya saing produk-produk dari Indonesia, kurangnya inovasi di berbagai bidang.
