KERJA KERJA KERJA

Beberapa waktu yang lalu, di tempat saya bekerja dimana itu yang banyak sekali para pegawai pabrik-pabrik dari perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dan juga PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) yang dalam rangka turunnya regulasi mengenai Upah Minimal, telah terjadi aksi demo dari para pegawai pabrik-pabrik tersebut yang selanjutnya akan saya sebut sebagai buruh. Para buruh tersebut memprotes akan kehadiran regulasi mengenai Upah Minimal yang dinilai belum sesuai akan kebutuhan mereka. Namun apakah kebutuhan kita sebagai humanz bisa dihitung untuk memberikan angka minimal yang sesuai bagi para pelaku usaha maupun para buruh tersebut? Mungkin bisa. Tapi itu membutuhkan suatu perhitungan dan analisis yang matang, dan menurutku angka yang dihasilkan sebagai Upah Minimum tersebut bukanlah suatu angka yang absolut yang dapat menentukan kelayakan hidup para buruh. Memangnya Upah Minimum itu berlaku sebagai Tuhan yang dapat menentukan rejeki para buruh?~

Kita sebagai manusia dilahirkan ke bumi yaitu untuk bekerja atau bisa dibilang berusaha untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Kadang yang kita inginkan itu selalu bertabrakan dan tidak sesuai akan penghasilan yang kita peroleh dari hasil usaha kita. Jadi sebenarnya apa yang kita usahakan selama ini adalah atas dasar kebutuhan kita, dan kebutuhan kita itu tercipta atas dasar hasrat dan nafsu dari dalam diri kita. Pada dasarnya kebutuhan para humanz itu sederhana, dari segi biologis contohnya hanya membutuhkan untuk makan, bernafas, reproduksi, dll. Tapi kapitalisme merubah itu semua menjadi sangat kompleks, rumit, dan penuh dengan improvisasi yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan. Dan menyalahkan kepada sistem perekonomian masa kini itu adalah sama saja dengan menyalahkan kepada diri para humanz sendiri, karena semua itu adalah hasil dari daya cipta para humanz. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa bekerja adalah sesuatu yang essensial dari kehidupan para humanz yang tidak dapat kita hilangkan.

Menurutku para buruh melakukan aksi protes atas dasar Upah Minimum yang akan diberlakukan itu adalah sesuatu yang nihil. Para buruh memang mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat dan memberikan opini, dan mungkin aksi protes itu adalah sebagai wadah protes kepada para pelaku usaha atau para pemodal. Para buruh menilai bahwa para pemodal dan para pelaku usaha itu tidak pernah bekerja, mereka dari kecil sudah kaya dan mempunyai uang yang sangat banyak hingga turun menurun, namun sebenarnya itu adalah pemikiran yang sempit akan kurangnya pengetahuan. Apabila para buruh mengetahui akan hal itu, mengapa dia tidak memulai usaha sendiri saja? para buruh mungkin akan membalas dengan jawaban, “lah gimana saya mau usaha? modal aja kagak punya”. Dan mungkin itu adalah jawaban yang sekali lagi sangat sempit dan kurangnya wawasan. Disini saya bukan mencoba untuk memihak kepada para pelaku usaha atau para pemodal, tapi disini saya hanya mencoba mengkaji bahwa sebenarnya para pemodal asing datang ke negara kita untuk melakukan aksi bisnis sehingga telah tercipta lapangan pekerjaan bagi para kita pribumi yang ada disini. Mungkin kita sebagai buruh selain mendapat upah yang diberikan dari para pemodal, kita juga akan mendapatkan pengetahuan dan pembelajaran dari proses-proses ketika bekerja di perusahaan para pemodal. Sehingga kita dapat mengambil ilmu nya dan mulai untuk membuka usaha sendiri yang berdikari.

Kapitalisme selain dicap sebagai penghisap para buruh yang bekerja di bawah tekanan dan jam kerja, sering juga dicap akan terciptanya kehidupan konsumeritas. Menurut kafka, kita hidup di dalam siklus yang penuh akan birokrasi dan administrasi yang membuat kita stuck di dalam labirin yang tidak ada finishnya yang disebut dengan istilah Kafkaesque. Dan menurut saya itu juga memang benar adanya, tapi mungkin itu adalah suatu bentuk untuk bahan kesadaran kita, bukan sebagai bahan akan aksi protes kita dan mencoba menghancurkan sistem yang ada saat ini. Melainkan bagaimana caranya kita mengharmoniskan kehidupan yang peace dan namaste di dalam sistem yang sedang berjalan saat ini. Contohnya, apabila kita mendapatkan upah dari para pemodal, tidak seharusnya kita membelanjakan kepada barang-barang yang tidak penting seperti digging vinyl hingga harus membelanjakan satu toko, lalu membeli action figure yang detail sekali hampir mirip dengan orang asli yang harganya berjuta-juta dan membeli makanan yang banyak sekali tetapi tidak untuk dimakan melainkan hanya untuk bisa difoto di sosial media kalian, dan masih banyak lagi. Kita ini hidup dalam keadaan halusinasi, menyalahkan kepada pihak lain tetapi tidak pernah menyalahkan kepada diri kita sendiri. Betapa egoisnya diri kita ini. Regulasi Upah Minimum tercipta atas dasar keadilan kedua belah pihak, bukan atas dasar kebutuhan para buruh yang egois.

Mungkin kita harus mencoba mengubah pola pikir kita bahwa sebenarnya kita ini adalah seorang pelayan dengan status sebagai tamu di bumi ini. Selain kita bekerja akan kebutuhan kita. Kita juga bekerja atas dasar goodwill atau niat baik kita yang membutuhkan akan keahlian kita, maka dari itu terciptalah kontrak kerja demi terciptanya trust atau kepercayaan. Dan regulasi dan hukum dan peraturan dan birokrasi dan administrasi dan tetek bengek lainnya juga itu adalah hasil kerja para humanz yang berasal dari goodwill atau niat baik mereka untuk membantu para humanz yang lain untuk menciptakan trust atau saling mempercayai satu sama lain. Bukan atas dasar demi menghisap para buruh atau apapun yang diceritakan oleh teori konspirasi dan cocoklogi yang kalian percayai itu. Melainkan itu hanyalah sebagai efek samping atau gelaja nya saja. Adam Smith menciptakan buku The Wealth of Nations atas dasar goodwill bukan atas dasar menghisap, Karl Mark menciptakan buku Communist Manifesto atas dasar goodwill bukan atas dasar menciptakan pemerintahan yang otoriter. Semua paham ideologi filsafat ekonomi dan tai kotok lainnya itu adalah sebagai pembelajaran, dan bukan sebagai panutan yang kita pahami secara murni dengan tidak membolehkan ide-ide lainnya masuk ke dalam otak mereka. Apakah ini berlaku juga dalam islam sebagai identitas? mungkin di lain waktu saya akan bercerita mengenai hal itu, yang dikarenakan pemikiran saya masih dangkal akan hal sensitif tersebut. Boom!

Like what you read? Give dwiki hardika a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.