Ratusan Lilin Menyala Dan Lagu Nasional Menggema Di London, Ratusan WNI Di London Lakukan Aksi Damai Untuk Dukung Ahok

Ratusan Lilin Menyala Dan Lagu Nasional Menggema Di London, Ratusan WNI Di London Lakukan Aksi Damai Untuk Dukung Ahok

Cultureindo.com — Aksi simpatisan untuk Gubernur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama, ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada Sabtu malam (13/5), aksi dukungan untuk Ahok juga dilakukan oleh ratusan WNI yang tinggal di London. Ratusan WNI berkumpul di kawasan Westminster, London sambil menyalakan lilin.
 
 
 
 Dilansir dari CNNIndonesia, Aksi yang dilakukan oleh para WNI ini, sebagai wujud dukungan dan solidaritas untuk pembebasan Ahok yang saat ini tengah tersandung kasus pidana karena kasus penodaan agama yang dilakukan Ahok beberapa waktu lalu.
 
 
 
 Dalam aksi damai tersebut, para WNI menyalakan lilin sambil menyanyikan beberapa lagu nasional. Antara lain Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia Pusaka, dan Garuda Pancasila.

Ratusan WNI Di London Lakukan Aksi Damai Untuk Dukung Ahok

Doc. CNNIndonesia
 
 “Bebaskan Ahok! Bebaskan Ahok!” seru ratusan massa yang berkumpul sejak sore hari di depan kawasan wisata London Eye tersebut.
 
 
 Aksi solidaritas ini dikoordinasi oleh Lenah Susanty, seorang WNI yang tinggal di London. Aksi ini mulai digagas setelah ramai diberitakan tentang kasus yang menimpa Ahok menyangkut penistaan agama, sehingga membuat Ahok harus divonis 2 tahun penjara oleh hakim. Untuk menunjukan solidaritas mereka, WNI yang tinggal di London dikumpulkan untuk melakukan aksi damai menyalakan lilin sebagai wujut dukungan untuk Ahok.
 
 “Kami merasa Ahok tidak memiliki kesalahan, tapi ada tekanan sehingga dia masuk penjara,” kata Koordinator aksi, Lenah Susanty, kepada CNNIndonesia.com.
 
 
 Bahkan aksi yang dilakukan oleh para WNI yang tinggal di London ini, bukan hanya di ikuti oleh warga berkebangsaan Indonesia saja. Melainkan beberapa warga Inggris juga ikut andil berpartisipasi dalam aksi ini sebagai wujut simpati. Lenah dan WNI lainya yang ada di London menghawatirkan, jika kasus yang menimpa Ahok ini nantinya malah bisa memecah belah persatuan karena adanya Pro dan kontra dari dua kubu yang berlawanan.
 
 “Kami prihatin melihat apa yang terjadi dan ingin Indonesia menjaga Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila,” ujar Lenah. 
 
 
 Bahkan Salah satu warga Inggris yang ikut dalam aksi damai itu juga ikut memberi komentar, dia turut prihatin atas apa yang menimpa Ahok karena bisa memberi dampak yang cukup luas.
 
 
 “Kasus ini tidak hanya berakibat pada orang Kristen tapi juga seluruh warga Indonesia. Kamu tidak bisa menghakimi seseorang atas apa yang diucapkan,” ujar Mark Sheil, warga Inggris yang turut hadir dalam aksi solidaritas itu. 
 
 
 Sheil juga cukup menyayangkan sekaligus mengkritik proses pengadilan di Indonesia yang tidak berdasar pada bukti yang kuat, sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan proses hukum di Inggris.
 
 
 
 Pada sidang yang dilakukan 9 Mei lalu, Ahok divonis bersalah dan mendapat hukuman 2 tahun penjara karena melanggar pasal 156a Kitab undang-Undang Hukum Pidana. Namun menurut seorang aktifis HAM, Indria Fernida yang tinggal di London, pasal tersebut sebenarnya melawan prinsip demokratisasi.
 
 “Pasal itu bisa digunakan oleh siapa saja untuk mendorong pihak-pihak yang dianggap menodai agama. Padahal keyakinan yang dilakukan secara damai itu dilindungi negara,” ujar Indria. 
 Kasus yang dialami Ahok sendiri bermula, ketika Ahok diduga melakukan penistaan agama dalam kunjungan kerjanya ke Pulau Pramuka, Kepulauan seribu, dengan mengutip surat Al-Maidah ayat 51.
 
 
 
 Pada kala itu ada yang merekam pidato Ahok tersebut dan potongan pidato Ahok tersebut diunggah oleh Buni Yani, sehingga menimbulkan kontroversi. Dan hakim akhirnya memutuskan Ahok divonis 2 tahun penjara kareana telah mencederai perasaan dan memecah belah kerukunan umat Islam.
 
 
 
 Namun, mantan anggota Dewan Pers, Abdullah Alamudi, turut berkomentar, bahwa Ahok memiliki hak untk mengemukakan pendapatnya.
 
 
 “Ini ancaman kebebasan berbicara karena banyak orang tiba-tiba jadi ahli agama dan menghajar orang, ini gejala menyebabkan orang takut berbicara,”
 
 
 Kata Alamudi yang juga ikut dalam aksi damai di London tersebut. /fai

Click to Post

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.