zZzZz
di badan ini, jiwa saya bergeming melihat sebanyak apa daki yang telah luluh, dan sebanyak apa keringat yang telah keluar dari pori-pori saya. Jiwa saya bersemayam tanpa dasar meski dia berada dangkal di belakang kulit ari badan ini. Saya selalu berucap pada diri bahwa yang terpenting hanya untuk bisa hidup saja. Tidak perlu muluk-muluk menjadi ini dan itu. Tidak perlu kesepian karena saya takakan pernah sendiri. Tak perlu senang toh pada akhirnya kita akan selalu menjadi manusia yang keki: bikin salah di kala taktepat. Dan untuk urusan satu itu, takada waktu yang tepat.
Tapi kita terbiasa bangkit. Melek dengan sadar tanpa mesti tidur terlebih dahulu. Suara, suasana, hati, raga, semuanya menjadi ringan ketika kesadaran masuk dari lubang-lubang paling kecil. Berhinggap dari luar semesta raya dan masuk ke semesta raya lagi. Berputar-putar sampai akhirnya lelah dan kadung bergerak. Takada lagi soal mengenai berhenti atau lanjut. Semuanya ada dan sama saja. Kembali pada titik yang sama dalam hitungan mikrosekon, hal itu terus berputar-putar di sana.
mengejang-ngejang dengan lagu yang keras sudah tidak bisa lagi diterima. Musik yang indah selalu bisa dinikmati di kala apa pun. Tulisan yang indah bisa jadi pelipur lara ketika uang habis. Dan, gambar yang bagus jadi candu di kala bosan. Semuanya baur dalam kesendirian. Masing-masing tercipta karena adanya satu sama lain.
Selamat malam dunia! Saya datang tanpa persembahan, bukan karena saya malas, atau kurang suatu apa pun, tetapi ini semua hanya keengganan yang terjadi begitu saja. Saya taksuka persembahan, mempersembahkan atau dipersembahkan. Jadi selamat malam juga untuk pagi, siang, dan malam!
Ya, malam!
