Membangun Kejayaan Islam Melalui Budaya Literasi

“Kemenangan umat Islam bukan dengan pedang, tetapi dengan pena”. Kurang lebih itulah perkataan yang dikeluarkan dari mulut seorang ulama tersohor, Syaikh Yusuf Qardhawi. Jika dilihat dan dirasakan pada konteks saat ini, perkataan ini memanglah sangat tepat dengan kondisi saat ini. Karena saat ini ummat Islam tengah kehilangan budaya literasinya.
Kita bisa mengambil kisah dari turunnya wahyu pertama surat Al-‘Alaq ayat 1, saat malaikat Jibril menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad SAW. Pada saat itu, kondisi di Jazirah Arab sangatlah buruk dan kacau. Banyak pembunuhan, kejahatan, perbudakan, berbagai perkawinan yang merugikan pihak perempuan. Tapi pada saat itu, Islam datang dan mampu memperbaiki kondisi Jazirah Arab saat itu dengan ajarannya yang tidak memaksa dan penuh hikmah.
Tapi mengapa ayat yang pertama kali diturunkan adalah surat Al-Alaq ayat 1 yang artinya “Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan”. Mengapa ayat yang pertama kali turun adalah ayat yang menjadi bagian dari literasi, yaitu membaca. Dari peristiwa itu kita bisa menyaksikan dan mengambil pelajaran bahwa pentingnya tradisi literasi dalam membangun ilmu.
Sejak saat itu, peradaban Islam bisa dibilang semakin berkembang bahkan maju. Ayat-ayat al-Qur’an yang turun diabadikan dalam tulang-tulang, daun-daunan, pelepah kurma, dan media-media lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa semangat dalam membangun peradaban ilmu sangatlah tinggi pada saat itu. Semangat itu terus ditempa sehingga menghasilkan kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan
Setelah itu, pada masa kekhalifahan dibangun berbagai tempat-tempat yang menunjang dalam pembangunan peradaban ilmu. Tempat-tempat seperti Daar al-Hikmah dan berbagai tempat menuntut ilmu, belajar, dan berbagai perpustakaan. Dari pembangunan-pembangunan itu melahirkan sumber daya manusia yang berilmu dalam peradaban.
Berbagai cendekiawan dan ilmuan mulim lahir di berbagai bidang. Berbagai bidang sosial, ekonomi, politik, sastra, saintis, pembangunan, dan bidang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Islam mulai maju dengan pentingnya budaya literasi. Dari literasi akan berujung pada bangkitnya peradaban Islam.
Namun sayangnya di zaman yang serba maju ini justru kita umat Islam belum bisa memaksimalkan segala bentuk peluang keuntungan yang ada. Literasi saat ini, lewat hal yang sederhana seperti membaca berita dan membuat artikel belum bisa kita maksimalkan. Bahkan, banyak dari kita yang hanya membaca headline dan gambar beritanya saja, setelahnya membuat opini yang mengada-ada. Berbagai artikel dan ruang penulisan online kini banyak diambil alih oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, menyebarkan hoax, dan memancing keributan antara kedua belah pihak.
Dimana peran kita sebagai umat Islam yang mempunyai peran untuk menyampaikan kebenaran dan memeriksa segala kabar yang ada? “Sampaikanlah dariku walau satu ayat,” kata sang nabi dan kalimat ini termaktub dalam kitab Shahih Bukhari. Mungkin kita sering mendengar hal ini sampai bosan dan abai, padahal hadis singkat ini memiliki makna yang dalam di zaman modern ini.
Semoga kita bisa memaksimalkan dan memasifkan segala peluang kebaikan yang ada di era ini lewat budaya literasi.