Mimpi dalam Harlan

Starry Night by Spoiled-Kitten; found in deviantart.com

Pada bulan Desember lalu, tepat seminggu setelah kepulanganku, aku bertemu seorang remaja bernama Lulu yang entah kenapa tiba-tiba berada di kamarku.

Malam itu dalam sebuah percakapan telpon aku menangis. Kamar gelap dan aku tidak memerhatikan hal lain selain mengelap air mata dan ingusku. Setelah percakapan aku akhiri, Lulu telah ada duduk bersila membelakangiku. Entah sejak kapan. Tepat di hadapan rak buku. “Jika kamu keluar nanti tolong tutup rapat pintunya.” kataku padanya.

Aku terbangun dari tidur nyeyak dan kutemukan Lulu masih pada duduknya. Novel Trainspotting terbuka di pangkuannya. “Biasanya membaca dalam gelap akan merusak mata.” kataku tanpa menolah padanya. “Apalagi membaca novel dengan bahasa Scots.” “Menangis hingga mata bengkak memang bisa membuat tidur nyeyak.” balasnya. Aku merasa tidak perlu membalasnya karena aku tahu dia mengejekku.

Aku memunggunginya, membuka buku dan membaca. Biasanya membaca atau sekedar pura-pura adalah cara tepat menghindari percakapan yang tidak diinginkan. Tapi Lulu yang berubah cerewet tak bisa dihindari, kecuali aku mengusirnya atau aku yang keluar dari kamar.

Dia terus mengoceh meski aku tak sekalipun menoleh padanya. Dia diskorsing dari sekolah dan minggat dari rumah. Ibunya yang cerewet dan ayahnya yang pendiam. Hobby bermain game online membuatnya keseringan bolos sekolah. Dia terus bercericit tanpa henti. Dari keluhannya pada jaringan providernya hingga betapa tolol dan membosankan teman dan gurunya.

Hampir sejam dia mengoceh menimbulkan rasa ibaku. Aku menoleh dan melemparkan tatapan kesal.

“Siapa namamu?”

“Lulu.”

“Itukan biasanya untuk cewek.”

“Heh? Apa guna kau jejal banyak buku berbau feminist di rakmu?”

“Yah, namamu memang aneh. ”

“Aku bisa melakukan apa saja dengan baik. Mungkin karena itu aku bernama Lulu.”

“Okay, Lulu the lulu! Then, what are you doing here?”

“Karena kamu telah kembali, Harlan memintaku mencari tahu apakah sudah dekat waktunya untuk dia pulang.”

*

Aku dan Harlan berpisah sekitar lima bulan sebelum aku meninggalkan kotaku. Sebenarnya dia adalah suami yang setia. Entah setia atau bodoh. Atau mungkin terlalu mencintaiku. Harlan tidak pernah marah jika aku tidur dengan lelaki lain. Aku tanpa rasa bersalah sedikitpun melakukannya berulang tanpa merahasiakannya. Tidak sekalipun.

Aku dan Harlan berpisah bukan karena dia tidak lagi tahan dengan perselingkuhanku. Karena aku tidak lagi punya tempat untuk lari, jadi aku memintanya pergi. Tentu saja dia menolak awalnya. Dia mencintaiku. Terlalu mencintaiku. Dia tahu aku juga mencintainya. Tapi tidak sebesar cintanya padaku. Dia rela duduk menemaniku dan membiarkan pundaknya basah oleh air mataku saat pasangan yang lain menyakitiku. Harlan begitu sabar dan bodoh.

Di saat aku sibuk mengejar jadwal ujian akhir, Harlan selalu menemaniku. Setiap malam dia memijat punggung dan kakiku. “Kamu pasti capek,” katanya. Dia selalu menemaniku belajar, atau sekedar membaca novel. Tak jarang dia membacakan aku beberapa cerita sebelum tidur. Ketika aku tertidur saat membaca, keesokannya akan aku temukan sebagian tubuhku terbungkus selimut dan buku semalam telah berpindah ke atas meja. Harlan selalu tidur setelahku dan bangun lebih pagi dariku. Setiap kali aku membuka mata, kutemukan dia duduk di sudut tempat tidur. Membaca buku atau sekedar memandangiku.

*

Hubunganku dengan Harlan cukup aneh. Aku bertemu dengannya pertama kali di dalam mimpi. Aku dan Harlan akan menikah. Tentu saja pernikahan yang dirancang oleh keluarga. Aku yang belajar sangat jauh dari kampung diberitahu akan dinikahkan dengan seorang pemuda yang merupakan anak dari seorang kenalan ayah. Hanya beberapa hari setelah ayahku dan ayah Harlan saling mengenal dan mereka telah begitu berani tanpa memikirikan resiko apapun untuk merencanakan pernikahanku dan Harlan.

Tanpa berpikir panjang aku langsung menerima tawaran Ayah. Sejak kecil aku sangat ingin menikah di usia muda. Terlebih lagi perjalanan asmaraku sebelumnya selalu berakhir pahit.

Dalam mimpi kedua, aku pulang di penghujung bulan Ramadhan. Hari Ibuku menjadi begitu sibuk dengan segala persiapan lebaran. Terlebih siang itu. Aku keluar dari kamar setelah mengeram di bawah selimut bersama novel The Casual Vacancy hingga tertidur. Kadang aku tertidur saat membaca. Apa lagi jika hujan. Di dapur ramai oleh mereka yang mempersiapkan sajian buka puasa. Aku memang belum keluar kamar setelah sahur tadi. “Karena kamu sudah pulang jadi ayahmu mengadakan buka puasa bersama hari ini.” Bibi Neng menjawab tatapan heranku mendapati rumah yang ramai. “Kamu sudah bertemu calon suamimu?” Kujawabnya dengan gelengan.

Harlan yang baik, badannya tinggi dan atletis, tampan, cerdas, bekerja di sebuah perusahaan BUMN dan anak bungsu dari seorang pengusaha. “Dia bisa main musik. Dan yang paling penting sangat suka membaca. Seperti kamu.” Dari sekian informasi dari bibi Neng dan kerabat lainnya, tak seorang pun yang memberi tahu namanya. Mereka hanya menyebut Harlan dengan dia, calon suamimu, atau anak kenalan ayahmu. Ayah juga tidak sekalipun menyebut nama Harlan, apalagi memperlihatkan bagaimana rupanya.

Aku tidak mencurigai apapun dari motif perjodohanku dengan Harlan. Ayah tidak sedang terlilit utang hingga menikahkanku dengan seseorang yang berpenghasilan besar. Yah, kalau pun memang benar Ayah memiliki utang yang banyak, pastilah dia atau Ibu telah menceritakannya. Tak satupun rahasia mereka simpan dariku.

Aku meninggalkan dapur dan kembali ke kamar. Kembali melanjutkan bacaan hingga alarm untuk mandi sore berbunyi. Menjadi cucu pertama yang lama dinantikan membuat mereka sangat memanjakanku. Juga terlalu protektif dengan pergaulanku sejak aku remaja. Aku dibesarkan di lingkungan di mana mereka yang tinggal di sana adalah keluarga besarku. Bukan hanya dari pihak Ayah, tapi juga dari pihak Ibu. Sebelum menjadi suami isteri, ayah dan ibu adalah dua sepupu jauh.

Setelah mandi aku berjalan menyusur kampung, mengenang kembali masa kecilku. Aku terhenti di sebuah lapangan. Dulu di sekelilingnya beberapa pohon tumbuh rimbun. Sekarang tempat itu menjadi sekarat gersang. Pada beberapa tempat kembali terbayang bagaimaan teman-teman seusiaku bermain. Anak perempuan main lompat tali, dan anak laki-laki bermain bola sedang yang lainnya bermain kelereng. Banyak kenangan terlintas namun aku tetap pada posisiku. Menonton mereka. Tak ada aku di salah satu kerumunan mereka yang bermain.

Suasana ramadhan sangat terasa menjelang magrib. Aku berjalan kembali ke rumah. Di sepanjang jalan dan di pekarangan masjid anak kecil bermain-main. Aku berhenti dan menyaksikan mereka sejenak sebelum akhirnya melanjutkan langkahku pulang. Di depan lorong sebuah mobil sedan hitam terhenti. Seorang laki-laki turun dan mobil tadi berbelok ke dalam lorong menuju rumahku.

Langkah kaki membawaku semakin dekat dengan orang tadi. Aku tahu dialah Harlan, calon suamiku. Bukan dengan mencocokkan informasi yang aku dapat dari bibi Neng dengan sosok lelaki tak kini berjarak kurang dari sepuluh langkah di hadapanku. Tapi dari desiran yang membuncah di dadaku. Seperti aliran listrik yang menyengat tiba-tiba tapi memberi rasa nyaman. Debaran dan getarannya semakin keras saat kami hanya berjarak hitungan dua inchi saja.

Aku sedikit mendongakkan kepala untuk menatap wajahnya. Dia memiliki kumis tipis di bawah hidungnya yang mancung. Potongan rambutnya rapi. Ada tahi lalat kecil di pipi kirinya. Dia melemparkan kehangatan dengan senyumnya. Dia sedikit melebarkan kedua lengannya dan aku lingkarkan milikku di tubuhnya. Aku tidak peduli jika ada yang memandangi kami berpelukan di tepi jalan. Dia akan menjadi suamiku. Aku akan menjadi isterinya. Dia orang asing pertama yang aku peluk di pertemuan pertama. Aku tidak peduli apakah ada tubuh atletis di balik kemeja abu-abu yang dia kenakan. Yang aku tahu pelukannya adalah pelukan pertama yang memberikan ketenangan dan rasa nyaman.

Aku dan Harlan akhirnya menikah. Aku dan Harlan tidak dipusingkan dengan repotnya segala persiapan pernikahan. Keluarga yang mengurusnya. Aku dan Harlan cukup mempersiapkan diri dan menjaga kesehatan. Pernikahan pun dilaksanakan seminggu setelah lebaran, pada mimpi ketiga.

Setelah ijab kabul, sebelum pesta meriah digelar di malam hari. Kedua keluarga berkumpul dan duduk melingkar. Aku dan Harlan menyalami dan meminta doa mereka. Satu per satu. Banyak wejangan yang diterima. Aku dan Harlan menikah di usia yang sangat muda. Aku baru saja menyelesaikan kuliahku. Terlebih lagi, hanya ada waktu seminggu untuk saling mengenal sebelum menikah.

*

Aku terbangun dan Harlan telah selesai mandi. Aku dan Harlan hidup di kota di mana dia bekerja. Aku kembali melanjutkan kuliahku. Dia akan menemaniku ke kampus sebelum ke kantor. Kadang pulang pun bersama bahkan kadang dia menemaniku makan siang.

Hidup bersama Harlan tidak menghindarkanku dari perselingkuhan. Tapi aku dan Harlan menolak menyebutnya seperti itu. Aku memiliki hubungan dengan lelaki lain, kadang beberapa lelaki sekaligus. Aku tidak merasa bersalah melakukannya. Harlan pun tidak keberatan dengan itu.

Dia tetap bersetia padaku. Dia pernah berniat menjalin hubungan dengan perempuan lain meski aku telah memintanya berkali-kali. Harlan begitu mencintaiku. Dia sering muncul saat aku sedang bertengkar dengan lelakiku yang lain. Ketika aku menangis, dia akan datang memberikan pelukan atau sekedar mendengarku bercerita.

Aku meminta Harlan pergi karena aku tidak lagi punya tempat tujuan. Aku memintanya pergi bukan karena kadar cintanya padaku berkurang. Dia tetaplah suami sabar yang menjadi tolol karena cintanya.

“Pergilah, Harlan. Kau boleh kembali ketika cintaku padamu telah lebih besar dari cintamu padaku.”