Percayalah, Sesuatu yang Tenang Selalu Menyimpan Misteri

Review for Haruki Murakami’s The Strange Library

Source: The Guardian

Saat menjadi mahasiswa baru, beberapa tahun silam, saya mulai rajin mengunjungi perpustakaan untuk kabur dari pengaderan senior. Setelah itu, saya senang mengunjungi perpustakaan kampus untuk membaca justru pada saat musim libur. Karena pada saat itu perpustakaan sangat sunyi.

Saya punya satu tempat membaca favorite. Di antara jendela dan rak buku paling belakang. Banyaknya buku dan kinerja pustakawan membuat saya atau pengunjung lainnya akan kesulitan mencari buku. Pada rak buku yang diberi label ‘sastra’, saya tidak memiliki ketertarikan terhadapnya. Justru pada rak paling belakang itu saya menemukan beberapa buku yang akan membuat saya selalu menuju deretan kursi dan meja itu setiap mengunjungi perpustakaan. Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Vladimir Nabokov, dan Putu Wijaya adalah nama-nama yang paling saya ingat mengisi rak itu. Selain membaca, tempat itu juga membuat saya betah menulis. Baik tugas atau cerita fiksi yang kadang tiba-tiba mengisi kepala saya.

Saya sangat sering lupa waktu jika membaca atau menulis di sana. Tak hanya sekali dua saya terpaksa bolos kuliah karena tidak sadar waktu. Pula, saya kadang menjadi pengunjung terakhir yang meninggalkan perpustakaan dan diusir halus oleh pustakawan yang mematikan lampu. Saya sempat membayangkan apa yang akan saya alami jika saya terjebak di dalam perpustakaan. Membaca The Strange Library mengingatkan saya pada memori tersebut.

Point of view novel ini adalah orang ketiga di mana sang narator memperlihatkan kepada pembaca bagaimana dia mendapatkan masalah di perpustakaan. Sang narator adalah tipikal anak baik-baik yang sangat dekat dengan ibunya. Rasa ingin tahunya yang tinggi membuatnya rajin mengunjungi perpusatakaan. Dia juga seorang anak penurut dan cenderung menghindari masalah. Namun justru kedua hal tersebut yang membawanya kepada suatu masalah yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Ada tiga hal yang diajarkan oleh sang ibu yang membuatnya harus menjalani tiga hari terburuk dalam hidupnya.

“If you don’t know something, go to the library and look it up.”

Pada perjalanannya pulang dari sekolah, dia penasaran bagaimana pajak dikumpul pada masa dinasti Ottoman. Pada hari itu pula dia hendak mengembalikan buku perpustakaan yang dipinjamnya, How to Build a Submarine dan Memoirs of a Shepherd. Dia tidak mau terlambat mengembalikan buku perpustakaan, karena dia harus selalu tepat waktu sebagaimana yang ibunya ajarkan.

Setelah menanyakan buku mengenai pengumpulan pajak pada dinasti Ottoman, seorang librarian yang baru pertama kali dia lihat di perpusatakaan yang rajin dia kunjungi memintanya menuju ruang 107 yang berada pada basement perpustakaan. Dia mengetuk pintu ruang 107 dan tak ada respon yang menjawabnya. Dia hendak pergi namun kembali dia ingat pesan ibunya, “If you knock on a door, you have to wait there until someone answers.”

Seandainya dia memutuskan untuk melangkah menjauhi pintu 107 dan tidak mengikuti pesan ibunya, tentu cerita lain terjadi dan dia tidak akan ditawan dalam sebuah sel bawah tanah sebuah perpustakaan.

Gaya menulis dengan sudut pandang anak kecil dan deskripsi serta dilengkapi ilustrasi membuat buku ini mudah dipahami dan saya merasa diam-diam ikut berjalan di belakang narrator sejak dia menyusuri koridor menuju ruang 107. Namun dengan tema yang lebih sinis dan gelap, buku ini tidak bisa dikatakan buku untuk anak kecil.

Karakter dan setting dalam buku ini anonim. Tak disebutkan di kota mana perpustakaan tersebut berada. Saya tidak cukup paham dengan gastronomi, tapi jika melihat dari makanan yang diantarkan ke dalam sel baca saya sangat yakin settingnya bukan di Indonesia. Makanan tersebut tidak lazim dikonsumsi di sini, seperti sosis Toulouse dengan salad kentang, stuffed snapper, grilled Spanish mackerel, white asparagus, salad lobak dan toge, croissant, donat, cokelat panas dan cookies, atau teh hitam dan madu.

Namun di kota manapun Perpustakaan Aneh tersebut berada, sama halnya di kota ini, pemikiran bahwa perpustakaan adalah tempat yang miskin dan kurang diperhatikan melekat di masyarakat yang suka membaca dan membuat perpustakaan menjadi tempat yang begitu penting.

“How could our city library have such an enormous labyrinth in its basement? I mean, public libraries like this one were always short of money,” (page 12)

Lewat buku ini, Murakami menawarkan alternatif kenyataan. Bahwa tempat setenang perpustakaan pun bisa berbahaya.

“Why did something like this have to happen to me? All I did was go to the library to borrow some books.” (Page 25)

Hal tersebut yang diungkapkan narator setelah seorang lelaki tua dari ruangan 107 mengantarnya melewati labirin pada basement perpustakaan tersebut menuju ruang baca yang tak lain adalah sebuah sel kecil. Pada sel itu dia harus membaca tiga buku tentang pajak pada masa dinasti Ottoman sebelum otaknya dimakan oleh si lelaki tua.

“Because brains packed with knowledge are yummy, that’s why. They’re nice and creamy. And sort of grainy at the same time.” (Page 25)

Saya khawatir buku ini dijadikan alasan aneh untuk tidak lagi mengunjungi perpustakaan. Karena saya pun jika hidup di realitas The Strange Library, saya tidak akan rajin membaca buku dan mengunjungi perpustakaan.

Judul: The Strange Library | Tahun:2014 (Cetakan Pertama tahun 2005) | Penulis: Haruki Murakami | Diterjemahkan oleh: Ted Goosen | Jumlah Halaman: 96 halaman  | Penerbit: Harvill Secker, London

*Sebelumnya tulisan ini pernah dipost di Revi.us

Like what you read? Give Sani Latief a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.