[ chs_wooseok ]

Basic Information — ;

Birth Name; Joo Haejoo (주해주).
Given Name; Choi Jiyong (최지용).
Called as; Jiyong.
Date of Birth ; October 31, 1990.
Age; 27.
Hometown; Gangnam, South Korea.
Current Place; Incheon, South Korea.
Gender; Male.
Blood Type; B.
Sign; Scorpio.
Religious Beliefs; Agnosticism.
Sexual Orientation; Homosexual.
Occupation; Prefect & Elite Advisor at Cheongna Dalton School.
Email ; jji_yong@outlook.com3
Line/kkt/twitter/instagram; jjiyong

Personality — ;

RHETI Enneagram Type : The Achiever

  • Logic oriented; being able to recover quickly from setbacks and to charge ahead to the next challenge.
  • Has a habit to expect everything too much, or maybe people called it overthinking altho not overacting.
  • Achivers are energetic, optimistic, self-assured, and goal oriented.

Personality Type : INTJ

  • Independent and decisive, but judgemental.
  • Hard-working and determined, but overly analytical.
  • Open-minded, but careless.
  • Lacking concentration; his focus can be easily divided in one second.

Temperaments Type : Phlegmatic

  • Relaxed and quite.
  • Are accepting and affectionate.
  • Consistent, rational, curious and observant but sometimes could be passive-aggressive.

Background Story — ;

Hanyalah seorang pemuda biasa yang terlahir dari wanita tak biasa. Derasnya hujan yang turun seakan menjadi saksi bisu atas tangisan seorang ibu akan lahirnya bayi laki-laki yang diberi nama Choi Haejoo. Saat itu, ketika para perawat menafsirkan tangis yang terlihat sebagai sebuah bentuk haru dan bahagia, namun yang pasti faktanya tidak demikian; sangat bertolak belakang.

Sebab adanya kelainan mental yang ia miliki, sang wanita sangat mendambakan lahirnya seorang anak perempuan. Sang wanita sangat mengimpikan ia dapat memiliki buah hati secantik dirinya. Sang wanita sangat berharap lahirnya anak perempuan yang akan menemaninya seumur hidup. Namun memang takdir selalu punya cerita lain.

Obsesi sang wanita yang begitu besar pada akhirnya berujung pada perlakuan tak normal yang diajarkan dan dilakukan kepada sang anak. Bandana, gaun, ikat rambut dan jepit rambut seolah menjadi teman keseharian sang anak, Haejoo. Benda-benda manis dan imut selalu ditunjukkan kepadanya, membuat Haejoo secara alamiah menyukai hal-hal tersebut.

Hampir 5 tahun hidup, Haejoo hidup seperti itu. Ia tidak mengenal jati dirinya. Ia tidak pernah mengerti alasan mengapa ia selalu ditertawakan anak-anak yang lain, ia tidak pernah mengerti bagaimana caranya ia harus bersikap.

Hingga tahun pertama saat dirinya masuk sekolah dasar, ia memberontak.

< 1st POV>

11 Desember 1996; 20:47 KST.

“Tidak mau!”

“Haejoo-ya…”

“Eomma, cukup! Aku ingin berhenti. Aku benci Aurora. Aku tidak suka gaun itu. Aku tidak ingin didandani lagi. Aku ingin membuang semua boneka dan gambar-gambar itu. Aku– ”

“Haejoo!”

Ibu berteriak. Ibu meneriakiku tepat didepan wajahku untuk yang pertama kalinya. Raut wajah yang marah jelas terpancar dari mata Ibu. Baru pertama kali aku melihat Ibu seperti ini.

“Ya, kamu laki-laki. Lalu, apa salahnya jika laki-laki menjadi cantik?! Kamu sudah terlahir cantik, Haejoo-ya. Bahka Ibu bisa mendandanimu menjadi lebih cantik. Kamu tidak perlu pedulikan laki-laki atau perempuan tapi yang pasti kamu cantik. Sadarkan dirimu!”

Masih dengan teriakan-teriakan amarah, Ibu berucap tanpa mengalihkan satu detikpun tatapan tajamnya padaku. Aku takut.

“Tapi, Eomma…”

“Apalagi?! Penjelasan mana yang belum juga kau mengerti, hah?!”

“Tapi mereka bilang… aku la– “

Plak.

Pipiku memanas seketika. Sakit. Rasanya, dada ini sesak. Terlebih saat manikku kembali menatap manik sang Ibu untuk meminta penjelasan. Tidak ada raut penyesalan disana. Ibu masih terlihat marah. Aku yakin, Ibu masih tidak terima dengan apa yang mereka katakan kepadaku.

Tapi kenapa, aku dipukul?

“Eomma, apa salah jika aku la– “

Plak.

Kali ini kurasakan kedua pipiku memanas.

“Jangan pernah berani kau mengungkit masalah ini lagi, mengerti?!”

12 Desember 1996; 02:16 KST.

Setelah menaiki 4 bis secara bergantian, setelah puluhan kilometer dilalui, setelah beberapa receh koin yang tersimpan dalam jaket telah habis, kini aku meringkuk dalam gelapnya malam. Udara dingin memelukku erat, seakan mereka tak ingin aku bertemu dengan kehangatan kembali.

Entah dimana aku saat ini. Entah apa yang akan terjadi padaku nanti. Yang kutahu hanyalah apa yang ingin aku lakukan.

Pergi sejauh mungkin.

Dari rumah. Dari sekolah. Dari teman-teman. Dari Ibu.

Tidak hanya tubuh ini, seakan suarakupun ikut membeku sebab dinginnya malam. Aku tidak memiliki kekuatan untuk berdiri, bahkan berucap. Hanya suara isak tangis yang menandakan adanya aku di sudut lorong kecil ini.

Kala dingin masih nyaman menyiksaku, seketika kurasakan sentuhan hangat pada pundak. Kudapati figur seorang pemuda tengah berlutut dihadapanku tengah tersenyum saat ini.

Kutatap pemuda itu penuh mohon pertolongan. Dan yang kudapatkan tidak lagi tatapan mengintimidasi layaknya orang-orang di sekelilingku, namun sebuah ketenangan.

Kepalaku diusapnya. Bahuku ia tepuk. Senyum pemuda ini kian merekah.

“Namaku Choi Minsoo. Mau ikut denganku?”

Aku melihat uluran tangannya yang terarah padaku. Sungguh tidak ada lagi ketakutan yang hadir. Walau aku tidak sepenuhnya percaya, namun aku tidak peduli dengan kejadian apa yang akan terjadi nanti. Akhirnya, ada orang yang merengkuhku selain Ibu.

Dan yang kutahu pasti, aku tidak dapat mengontrol degup jantung ini kala menerima uluran tangannya.

< End of 1st POV >

10 tahun lamanya Haejoo tumbuh menjadi pemuda biasa. Sang kakak angkat, Choi Minsoo memberikan identitas baru untuknya, yang seakan membuat Haejoo terlahir kembali sebagai seorang Choi Jiyong.

Sangat sederhana namun tetap istimewa, kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupannya selama ini. Berterima kasih kepada otak jeniusnya, masalah pendidikan dapat dengan mudah ia lalui. Berterima kasih kepada nasib baiknya, masalah ekonomi tidak perlu ia pikirkan. Berterima kasih kepada paras indahnya, masalah wanita dapat dengan mudah ia atasi.

Namun tidak untuk masalah hati.

Bermula dari rasa kagum yang dimiliki sebab sang kakak terlihat begitu hebat menahan berbagai cobaan hidup, perlahan kekaguman tumbuh menjadi rasa yang tidak wajar. Terlebih juga karena ia diajarkan bagaimana menjadi laki-laki seutuhnya agar dirinya diterima di masyarakat. Walaupun pada akhirnya Haejoo tak bisa menerima *itu*, seutuhnya.

< 1st POV >

25 Juli 2006; 19:42 KST.

“Hyung, aku suka Hyung.”

Lagi-lagi degup jantung ini tak bisa terkendali. Kepalan tangan kueratkan; mewakili rasa takut akan reaksi kakak nanti. Entah kakak bisa menyadarinya atau tidak, aku tidak peduli.

Namun hanya berselang sepersekian detik, aku melihatnya tersenyum. Lagi-lagi senyum yang selalu membuatku tenang. Rambutku diacaknya. Kekehan kecil terdengar darinya.

“Memang tidak salah aku mengangkatmu sebagai adik.”

Setelah kekehan kecil terlontar, Hyung berdiri. Ia melangkah menjauh, meninggalkan aku yang masih terduduk disini.

“Hey, ayo pulang!”

Aku tahu, ada yang salah denganku.

< End of 1st POV >

10 tahun berlalu dan kini Haejoo telah menggenggam berbagai prestasi, baik akademis maupun non-akademis. Hal tersebut membuat dirinya mampu diterima di salah satu sekolah ternama yang terletak di Incheon, Korea Selatan.

Cheongna Dalton School.

Menjabat sebagai Pembina Prefect & Elite, membuat Haejoo –yang kini dikenal sebagai Jiyong– harus rela hidup berpisah dengan sang kakak di Busan. Kini ia harus menggantikan posisi sang kakak yang telah jerih payah mengemban beban dirinya selama 20 tahun. Tujuannya bekerja hanyalah satu, untuk memperoleh finansial yang lebih dari cukup demi sang kakak.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.