why do I have such a weak self esteem

I could be so easily hurted, I will think about others attitude towards me way too seriously. My fear of rejections or being unwanted is just too much.

and today something hurted me.

gue saat ini sedang di masa awal menjabat jadi manager di sebuah organisasi, yang tingkat kesulitan untuk jadi bagian dari organisasi itu aja udah tinggi, apalagi jadi manajer. Bisa dibilang, organisasi yang lagi gue geluti ini adalah organisasi yang profesional, diakui oleh orang banyak, dan isinya juga orang orang yang -menurut ekspektasi gue- berdedikasi dan tau cara berorganisasi yang baik

awalnya, sebelum gue jadi manajer, gue jadi ‘anak baru’ dulu. sebelum join organisasi ini jujur aja gue cuma iseng2 apply. tapi iseng2nya gue adalah iseng2 yang bertanggung jawab dan totalitas. Karna buat gue, all or nothing. Ngelakuin sesuatu setengah2 itu rugi sendiri, capeknya kekuras, tapi hasilnya ga maksimal. so yeah, singkat cerita akhirnya gua daftar buat jadi anggota organisasi ini karna dipikiran gue organisasi ini udah begitu besar dan punya nama, mungkin disini gue bisa mengasah diri gue untuk lebih berkembang.

dengan keadaan ga berharap-berharap amat, gue jalanin semua tahapan seleksinya yang bisa dibilang lumayan panjang dan melelahkan. but finally, gue diterima buat jadi ‘anak baru’ di organisasi ini. iya, finally gue jadi bagian dari organisasi ini setelah dengan sabar dan niat ngikutin semua prosedurnya. usaha emang ga pernah menghianati hasil, InsyaAllah.

tapi, jadi ‘anak baru’ di organisasi ini belum ada artinya. gue cuma ganti status, tapi belum ada role apa-apa. itulah bedanya organisasi ini dengan organisasi lain. kalo di organisasi lain, ketika kita belum jadi apa-apa, kita akan mendaftar ke organisasi tsb untuk mengisi posisi tertentu dan begitu diterima langsung dapet jobdesc. kalo disini, ketika diterima, yang berubah hanya status. ketika ada role yang kosong, gue harus mendaftar lagi, dan diseleksi lagi melawan “anak baru” lainnya untuk mengisi role tersebut. artinya, ngulangin tahapan seleksi dari awal lagi. kalo seorang anak baru ga daftar untuk ngisi peran apa-apa,maka selamanya dia akan berstatus anak baru yang gaada kerjaan sama sekali.

nah singkat cerita, role pertama yang ditawarin ke para anak baru ini adalah Manajer. gue coba apply ke posisi ini, karena gue pikir ini kesempatan. gue tanya temen2 gue yang sesama anak baru, pada daftar apa engga, tp ternyata pada ga daftar, mereka bilang anak baru gaboleh langsung jadi manajer.

tapi logikanya kan kalo emang anak baru gaboleh langsung jadi manajer, ya gabakalan ditawarin ke grup anak baru dong rolenya? hehe. ya gitu, akhirnya gue tetep daftar, because you’ll never know if you never try kan. kalo emang akhirnya ga lolos atau emg ga dibolehin, yaudah atleast gue udah nyoba, daripada kesempatan lewat gitu aja.

nah akhirnya gue daftar, tahapan pertama adalah ngisi form di sebuah link, dan disuruh isi mau pilih manajer di functional mana. Karena passion gue Human Resource, jadilah gue daftar jadi bagian yang berhubungan dengan itu. kemudian abis ngisi link, tim recruitment nya ngirim suatu booklet ke email gue yang isinya pertanyaan personal + pertanyaan wawasan tentang bidang gue itu.

mulai bingung dari situ, gue gatau apa2 tentang bidangnya, karna gue anak baru yg literally blm ada pengalaman apa2. sempet pengen mundur sih. Tapi ternyata untuk mengisi booklet itu diperbolehkan dan bahkan dianjurkan untuk coaching sama ketua functional-nya. Nah kalo misalnya sampe dianjurkan, berarti emang udah diantisipasi kan kalo calon-calon manajernya belom terlalu menguasai bidangnya, makanya difasilitasin coaching itu untuk lebih mengenal bidangnya. dari situ gue coba usaha lagi

gue akhirnya ngontak ketua functional gue. Alhamdulillah orgnya nyambung buat ngobrol, dan kita seangkatan jadi gue ga canggung2 amat. Jadilah nih gue banyak nanya. saking banyaknya nanya gue sampe minder dan minta maaf bgt2. tp kata dia gapapa nanya2, malah bagus. oke, gua gatau itu basabasi apa beneran bagus ya..gue se clueless itu

akhirnya booklet gue selesai keisi semua. gue kirim lah tu booklet ke email panitia recruitmentnya. right after I sent my booklet, a line group invitation popped up. nama grupnya “Manager Applicants”

hal pertama yang gue lakuin -setelah klik join group- adalah ngecek member grupnya, mau tau siapa aja yang apply.

surprisingly

very surprisingly

dari 70an anak baru, yang apply buat jadi manajer ternyata gue doang

g u e d o a n g

sisanya adalah orang2 yang ga gue kenal, tapi gue tau mereka adalah staf di term sebelumnya. karna emang pathnya harusnya dimana2 ya gitu, staf-manajer-bph. of course, mereka udah kenal satu sama lain. atauu ya atleast, kenal beberapa. sedangkan gue, gakenal siapa siapa kecuali orang yang dulu se SMA sama gue atau yang sefakultas sama gue

itupun ga ada yang deket

gue merasa terjebak..tp gatau terjebak apa

di satu sisi gue gasalah kan ya apply? karna emang ditawarin, dan ya kalo mereka nawarin anak baru buat jadi manajer, berarti mereka -para bph- sudah mempersiapkan diri kalo sewaktu waktu ada anak baru yang jadi manajer. I mean, siap dengan segala bimbingan dan be as informative as they can to help this new manager.

kemudian setelah berpikir keras dan sedikit mengumpat “kenapa anak baru lain gaada yang apply, apa takut apa gimana, kenapa gaada yang sepemikiran sama kaya gue untuk manfaatin kesempatan ini”, gue dengan penuh kebijaksanaan langsung ngontak ketua functional gue.

gue bilang :

ada nggak, selain gue, yang apply buat jadi manajer lo di bidang ini? kalo ada, biar dia aja, gue mau mundur, gue yakin dia lebih berpengalaman.

alesan gue ngomong kaya gitu adalah

  1. gue minder, tbh. merasa ga pantes, dan merasa jadi “apaandah” sendiri karna terlihat seperti gue terlalu ambis, karena no other newies yang apply
  2. gue gamau buang2 energi gue untuk ngikutin seleksi ke tahap selanjutnya,karna kalo emang ada selain gue, otomatis, pasti dia yang jadi manajer. jadi mendingan ngomong dari awal ya ga? drpd udah all out, tp hasilnya udah tau pasti kalah. kalo gue jadi ketua functionalnya juga, gue pasti hire yang lebih berpengalaman sama organisasinya. so yeah since I was just a newies I thought its better to stop this.
  3. gue gaenak juga sama ketua functionalnya. di seleksi tahap2 selanjutnya, pasti gue bakalan super banyak nanya lagi kaya pas ngisi booklet. bisa dibayangin kan, selain usaha gue percuma, gue juga nyusahin orang kalo tetep lanjut daftar disaat ada orang lain yang lebih deserve the role.

kemudian ketua functionalnya bales chat gue

“gaada kok. kenapa emang?”

ga ada

ga ada :))))

jadi 100% gue bakalditerima. karna role ini gamungkin kosong.

gue ga seneng, gue bingung. seneng karna mungkin ini bakal jadi pengalaman yang seru, jadi manajer di organisasi besar. tapi bingung, belajar darimana gue? se sabar apa nih ketua functional gue buat ngajarin gue semua hal dari A sampe Z??

gue yakin si ketua functional gue juga bingung, mungkin dia ngerasa apes juga. karna gaada pilihan lain selain gue,si anak baru ini. mungkin dia kesel banget sama gue. tuh kan, gue insecure lg

yaudah singkat cerita gue jadi manajer di functional ini. di sini ada 2 manajer lain selain gue, jadi pengurusnya ada 4. 1 si ketua, 3 manajer.

akhir2 ini, kita ber 4 lagi sering rapat, baik itu ketemu langsung atau online. dan setiap kali rapat, gue langsung berasa mau resign saat itu juga.kenapa?? karna gue cuma bisa bengong. mereka ber tiga suka ngobrol hal yang ga gue ngerti. ketawa haha hihi atau ngomongin sesusah apa project yang mereka pernah pegang, gue gatau harus gimana..akhirnya gue diem aja. emang gangerti :( apalagi banyak istilah-istilah asing di organisasi ini, dan sebaran organisasi ini tuh komplex bgt22

gatau, harus jadi silent reader di grup atau passive member sampe kapan.

tapi setiap gue merasa down, gue mencoba untuk sabar lagi, karena di first meeting, mereka bertiga cukup welcome ke gue dan kita ber 4 janji untuk saling membantu satu sama lain, intinya mereka ngerti kondisi gue yang nihil pengalaman. lagi-lagi, gue gatau ini beneran apa basabasi…

puncak dari kesabaran gue dengan segala tekanan ini adalah hari ini.

ketika mereka bertiga rapat-tanpa mengundang gue

gue disuruh nyusul, kata ketua functionalnya.

perasaan gue lgsg gaenak, tp gue mencoba no hard feeling dengan ngasih respon yang tetep stay cool “yah kenapa gue nyusull sihh emang kalian mau ngomongin apaa? wkwk”

positive thinkingnya gue saat itu adalah, karena organisasi ini projectnya super banyak dan komplex, maka mungkin aja mereka bertiga lagi ada di suatu project yang sama, jadi harus rapat

tapi sampe detik ini pertanyaan gue gaada yang jawab dan chat gue has been read by 3 people :)

gatau harus positive thinking dari sisi apanya lagi

mungkin, mungkin mereka mendiskusikan cara untuk menolong job2 gue karna gue still not capable to be a proper manager

mungkin, si ketua functional lagi bingung gimana cara nyelesaiin job2 gue mendatang makanya dia minta bantuan 2 manajer lain

kalo emang iya, gue merasa lebih tertekan lagi tbh. karena berarti gue merepotkan orang, seenggaknya, merepotkan ketua functional gue karena gue nambahin beban pikiran dia. gue menyita waktu 3 orang itu untuk rapat.

tapi ini GRnya dan nethinknya gue aja

tapi gue gatau aslinya gimana, ya gitulah, menurut gue keterbukaan dalam suatu tim itu penting banget untuk ngebangun chemistry

untuk kejadian hari ini, dengan chat gue yang ga dibales ini, udah ngasih nilai minus di mata gue untuk orang-orang yang ada di organisasi ini.

gue ga kesel sama sekali sama mereka kok, cuma, ternyata I’ve set too high expectation towards the people in this organization

semoga kedepannya gue bisa lebih berbesar hati sama apapun yang mengecewakan deh

anak HR gaboleh gampang baper kan ya, harus bisa cheer others up! apalagi ke diri sendiri ya kan hehe :(