Hai Anak Mami!
Kesan pertama untuk seorang anak bungsu, ya itu dia anak mami. Kadang suka dibilang manja, enggak mandiri, bisanya cuma mint-minta ke orang tua. Mulai dari makan, belanja sampai sekolahpun masih maminya yang ngurusin. Katanya anak sulung suka iri deh sama anak bungsu, karena apa yang diingin pasti diturutin.
Tapi, ‘katanya’ itu mitos atau fakta sih? Dan inilah salah satu pernyataan resmi dari anak mami itu sendiri, yaitu aku. Eitss ,jangan salah paham dulu ya! Aku bukan termasuk anak mami,melainkan anak bungsu itu. Jadi aku sebagai anak merasa biasa-biasa aja. Enggak manja, enggak anak mami apalagi anak bawang. Saat ini usiaku 18 tahun, dan itu bukan lagi bisa disebut anak mami. Memang saat bayi sampai sekitaran SD, mungkin aku layak untuk disebut anak mami. Karena semua urusan pasti ibu aku dong yang lebih tau. Kayak soal nyiapin makan, nyetrika, nyuci baju dll. Jarang banget anak di bawah usia 10 tahun bisa dengan sendirinya berinisiatif ngelakuin hal itu. Bener toh? tapi ada juga sih yang memang udah cukup mandiri di usia segitu.
Beranjak aku SMP, mulai tuh aku nyuci baju dan nyetrika sendiri. Ya lumayan lah bisa ngelakuin kedua hal itu. Karena kenapa? seorang perempuan itu akan menjadi tumpuan dasar rumah tangga nantinya guys. Dimana seorang istri harus dituntut bisa masak, bisa beres-beres, belanja dsb. Nah oleh karena itu, manja menurut aku itu bukan manja soal rapihin baju, masak atau sejenisnya. Manja yang baik dan benar itu, saat kamu bisa minta uang jajan dan negosiasi waktu main. Haha. Bukan deh. Manja yang baik itu di mana kamu bisa meminta suatu hal yang kurasa itu sangat penting untuk hidup kamu. Misalnya manja karena pengen disayang dan diperhatiin.
Mungkin kita masih bisa bersyukur, karena masih ada yang memperhatikan kita, yaitu ayah dan ibu. Bahkan keluarga besar kita. Tapi, yang menyedihkannya. Masih banyak anak-anak terlantar di luaran sana yang belum bisa mendapatkan kasih sayang sepenuhnya. Kemarin malam(11/09/18) pukul 20.30 WIB, saya bertemu dengan seorang anak kecil berusia sekitar 8–10 tahun. Dia memikul sebuah karung yang tak seberapa beratnya jika dibandingkan dengan karung berisi beras. Dengan engapan dadanya, aku udah bisa liat kalau anak itu sangatlah lelah.Terdiam dan melamun di tepi jalan Jatinangor. Aku sendiri melihatnya merasa kasihan. Betapa lainnya anak itu dengan kebanyakan anak pada umumnya. Bermain, belajar ,beristirahat pada waktu seperti itu. Namun dia harus tetap mencari nilai demi nilai mata uang untuk mencukupi kehidupannya. Tanpa berpikir panjang, ibuku memberikan sepeser uang yang tidak cukup besar tapi mungkin sangat berharga di mata anak itu. Dia pun tersenyum sambil menatap ibuku sembari mengatakan “nuhun bu”, atau terima kasih.
Tak sanggup rasanya aku berada dalam kondisi itu, walau dengan hanya membayangkannya saja. Tapi anak itu, mashaallah sangatlah tabah. Oleh karena itu, untuk para anak mami, bersyukurlah. Karena Anda salah satu yang beruntung. Dan untuk yang bukan anakbmami, berusahalah untuk jadi seorang anak mami. wkwk. Becanda dengg
Di sini aku menceritakan soal anak itu, bukan karena kasihan saja. Tapi akan lebih baik jika Anda atau siapa saja yang membaca tulisan ini bisa peduli terhadap nasib orang di bawah kita. Di saat kita masih bisa meminta-minta pada orang tua, maka kita harus memanfaatkan pemberian itu dengan sebaik mungkin. Dan alangkah lebih baiknya lagi jika sebagian dari itu kita sedekahkan untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.
Salam peduli anak Indonesia🙌