Saya Bukan Tiko

He eh. Saya bukan Tiko. Kenalin, saya Cyndy. Saya 100% orang Indonesia asli. Melalui post ini, saya ingin mencurahkan isi hati (ceileh) yang lumayan menggelitik hati, jiwa, dan raga ini.

Saya lahir dan besar di Bali. Papa saya dari Kupang, NTT. Mama saya dari Kediri, Jawa Timur. Dari kecil, kami sekeluarga tinggal di daerah Sanur – Bali, satu gang kami penduduknya datang dari beragam suku dan agama. Ada keluarga Batak, Jawa, Ambon, Bali – ada yang beragama Hindu, Islam, Kristen dan kami semua hidup berdampingan bersama-sama. #ilovebali

Itu sekitar 20 tahun lalu, waktu saya masi muda :P Sekarang saya berdomisili di Singapura. Semenjak saya pindah ke Singapura untuk melanjutkan kuliah 8 tahun lalu, saya mengenal banyak sekali teman Indonesia dari berbagai daerah. Pada suatu hari, di dalam sebuah percakapan di siang hari…

Friend A: “Hah, si itu jadian sama tiko? Yang bener aja?”
Friend B: “Iya, mana mungkin bonyoknya setuju.”
Me: “Siapa Tiko?”
Friend A: “Tiko itu orang pribumi, Cyn. Maksudnya bukan Chinese.”
Me: “Hooo…”

Hari itu saya belajar 1 kosakata baru, yaitu Tiko. Maksudnya ya natives atau orang pribumi indonesia. Maklum, saya besar di lingkungan yang lumayan dari suku yang beragam. We do get along, live in peace and harmony. Kata Tiko sama sekali nggak ada di kamus saya.

Nevertheless. That remarks was totally racist. And they said it in front of me. Anyway, I forgave them because they are blind enough to say that in front of a girl whose skin were kinda brown :P

Layaknya teman-teman Chinese yang nggak suka di panggil Cina, saya pun agak risih kalo ada yang menyebutkan kata Tiko. Kata Tiko lumayan membawa konotasinya negatif seperti; “berkulit hitam/ sawo matang”, “tidak punya manners”, “dekil”, “jorok”, “miskin”, “kurang berpendidikan” dan sejenisnya.

Likewise, kata ‘Cina’ pun melekat ke konotasi negatif seperti; “pelit”, “licik” dan sejenisnya. Dan saya males banget nget sama orang yang bilang kaya gini:

“Ih, liat tu Ko Budi. Gaji karyawannya kecil banget dibandingin sama untung yang dia dapet. Cina abis gila.”

Ok fine, mungkin Ko Budi itu bukan boss yang kurang memberikan welfare yang sepadan ke anak buahnya, tapi haruskan kita menyematkan kata ‘cina’ ke dia? Ini rasis and it’s not cool at all.

Bagi saya, the Chinese are the most hardworking people in the world. Kita semua tau, banyak dari mereka are business owners and they work very hard to send their kids to the best schools overseas. Teman-teman saya di Singapura itu mostly Chinese and they are just normal human beings like you and me. Foto dibawah ini adalah (sebagian dari) teman baik saya dan seperti yang kalian lihat, 95% of them are Chinese. I love them just like my own brothers and sisters.

“Indians don’t hate the British. Indians hate each other.”
— Russell Peters

Komedi satir Russell Peter ini memang lumayan eye-opener. You see, ini bukan hanya masalah perbedaan warna kulit aja, tapi juga masalah kebencian yang kita bawa turun-temurun dari nenek moyang kita, dan secara tidak sadar kita masih mengadopsi pemikiran dan prejudice itu. Dalam hal yang kecil sampai hal yang besar. Until marrying someone whose from a different race is a big hoo-haa – it sucks man, imagine having the fear to be outcasted from your own family.

Saya bukannya ignorant, tapi beneran. Suer. Baru di Singapura saya tau kalau di tahun 1998 ada kasus pembantaian teman-teman saya yang Chinese di Jakarta, Surakarta, yang dimulai dari Medan. Untuk seorang Cyndy yang tinggal di Bali, berita ini ngga sampai ke telinga saya. Tahun 1998, saya masih umur 9 taun dan belom ngerti masalah beda warna kulit bisa sampe begitu parahnya. Umur 9 taun saya masi main layangan, keluar rumah pake singlet dan kolor main petak umpet sama anak tetangga. Setelah mendengar kejadian itu, hati saya berkecamuk marah, geram, kenapa orang bisa setega itu menjarah, melecehkan wanita di depan suaminya sendiri, dan membunuh dengan cara yang sangat keji.

Pemikiran rasis dan standar ganda ini bisa dibilang lumayan ngeri. Saya mengerti betul bahwa kita hidup di dunia yang rusak. Saya mengerti betul bahwa kejadian 98 benar-benar menorehkan luka yang sangat dalam bagi teman-teman Chinese saya. I feel you and can understand the agony of being horribly treated in the land we supposed to call our home.

Therefore post is really for you, my friends, whom unknowingly say such words in your daily conversations. Those who said ‘cina’ and ‘tiko’ in a demeaning way. Death and life is in the power of tongue. Boleh kok, dari pribadi masing-masing mulai berubah untuk bisa saling menerima, terbuka dengan perbedaan, belajar untuk mengambil sisi positif dari satu sama lain, dan hidup berdampingan.

Selagi masi di dalam suasana Imlek di tahun baru monyet, mari belajar dari monyet-monyet lucu ini. Speak no evil. Speak blessings instead. See no evil. See the good in others instead. Hear no evil. Hear God’s wisdom instead.

Speak no evil. See no evil. Hear no evil.
Let your speech at all times be gracious (pleasant and winsome) Colossians‬ ‭4:6‬ ‭AMP‬‬

Salam damai,
Cyndy Messah
Orang Indonesia