Resolusi 2019, #BelajarJadiMinimalis

Rasanya tulisan ini seperti sebuah janji di tahun 2019 sekaligus apresiasi bagi diri saya untuk bisa berpindah dari gaya hidup amburadul ke gaya hidup yang lebih terstruktur, gaya hidup minimalis-ala saya.

Secara sadar, saya baru mengenal gaya hidup minimalis sekitar 6 bulan lamanya. Secara tidak sadar mungkin saya sudah menjalaninya pelan-pelan selama hampir 2 tahun. Mungkin di antara kalian juga secara tidak sadar sedang mengalaminya saat ini.

Gaya hidup minimalis jika dikutip dari The Minimalist, Minimalism is a tool to rid yourself of life’s excess in favor of focusing on what’s important — so you can find happiness, fulfillment, and freedom. Saya sendiri mengamini apa yang disebutkan mereka. Menurut saya, esensi dari gaya hidup minimalis adalah pilah. Iya, bagaimana cara kita memilah mana yang mau kita simpan dan mana yang sudah saatnya disingkirkan karena sudah tidak lagi memiliki nilai dan manfaat terhadap kita. Pemilahan ini tergantung dari pribadi masing-masing. Bisa jadi kamu dan saya berbeda.

Saya selalu membagi tiga pos untuk setiap barang yang saya miliki; simpan, jual dan donasikan.

Cara ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Joshua Becker dalam websitenya Becoming Minimalist. Ia berbicara mengenai The Four-Box Method sebagai salah satu cara dalam melakukan de-cluttering. Dalam penerapan metode ini, saya sendiri tidak membaginya menjadi empat, namun tiga.

Image Source: Pinterest
Lalu apa sebenarnya yang menjadi motivasi saya untuk menerapkan gaya minimalis? Ada beberapa yang menjadi motivasi saya antara lain;
  1. Sesak

Pernahkan kamu berada di satu tempat yang entah kenapa rasanya selalu tidak betah, sesak dan sumpek? Nah itu yang saya rasakan. Kebetulan pada saat itu saya ngekost dan rasanya kamar selalu penuh dengan barang-barang. Barang-barang yang seperti apa? Ada 3 jenis barang yang ada di kamar:

  • Barang yang benar-benar dipakai setiap hari.
  • Barang yang LUPA kalau barang itu ada dan tidak pernah dipakai (biasanya berupa oleh-oleh, souvenir pernikahan, hadiah dari pembelian barang tertentu dan lainnya).
  • Barang yang tidak dipakai tapi rasanya SAYANG untuk dibuang, dijual atau diberikan ke orang lain.

Tiga jenis barang inilah yang mengisi kamar saya hingga penuh. Saya pun yakin sampai saat kalian membaca tulisan ini, mungkin tiga jenis barang di atas juga ada di kamar kalian.

2. Energi Tidak Baik Berasal Dari Barang-Barang yang Tidak Dimanfaatkan

Saya meyakini bahwa barang-barang yang tidak dimanfaatkan dengan baik akan memberikan energi negatif kepada manusianya. Sebagaimana yang saya alami, energi negatif tersebut mempengaruhi mood saya di dalam kamar, seperti: meningkatkan sifat malas, konsumtif dan tidak betah di dalam kamar sendiri. Tidak hanya itu, barang-barang yang tidak dipakai dengan baik juga akan menumpuk debu dan tungau. Bukan hanya energi, penyakitpun datang.

3. Prihatin Pada Bumi Yang Semakin Tua

Image Source: Pinterest

Sedih enggak sih dengan keadaan bumi sekarang yang sudah semakin tua dan dalam keadaan tidak sehat saat ini? Kalau bukan dari kita yang mulai, siapa lagi? Dulu saya adalah orang yang careless dengan sesuatu yang berbau lingkungan. Pake sedotan plastik, males bawa tumbler ke mana-mana dan masih nimbun banyak plastik karena alasan SAYANG plastiknya bagus apalagi kalau belanja dari luar negeri dan barang branded.

Namun, seiring dengan keadaan bumi yang sering dilanda bencana alam, banyaknya kasus ikan di laut yang tercemar oleh sampah, miris sekali rasanya ya. Kita enak pakai dan minum/makan hanya beberapa menit, bumi yang harus merasakan sakitnya selama berpuluh-puluh tahun karena plastik dan limbah lain yang sulit terurai 😣

4. Kepuasan Batin

Image Source: Pinterest, edited by me

Setiap saya merasakan sesak, sedih dan akhirnya mulai tergerak untuk melakukan decluttering dan aksi green living lainnya, hati saya seperti menemukan oase baru. Ada kepuasan batin yang tidak bisa diungkapkan karena merasa lega dan bahagia melihat akhirnya barang yang tidak kita gunakan lagi atau kita LUPA menggunakannya, kini dimiliki oleh orang yang jauh lebih menghargai barang tersebut.

Buat saya, menjadi seorang minimalis dekat dengan hati ikhlas dan bebas. Ikhlas untuk merelakan barang-barang tersebut hilang dari pandangan kita dan tidak kita miliki dan bebas dari tanggung jawab akan barang-barang yang sudah tidak lagi bermanfaat dan bernilai untuk kita. Saya selalu merasa bertanggung jawab atas semua barang yang saya miliki, jadi begitu saya ikhlaskan kebayang kan rasa leganya? 😃

5. Penghasilan Tambahan

Satu lagi yang jadi motivasi saya adalah saya berhasil mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil decluttering. Wah happy banget rasanya. Selain bebas dari barang-barang tidak bermanfaat, barang kita bisa dimiliki oleh orang yang lebih membutuhkan dan kita pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Saya menjualnya di akun aplikasi Carousell @ Kirim Kirim Plaza dan sesekali di Instagram saya @cslestari.

@Kirimkiriman in Carousell

Di penghujung tahun 2018 kemarin, movement #BelajarJadiMinimalis akhirnya lahir dalam sebuah akun Instagram @lyfewithless. Saya ingin banyak membagikan semangat dan aksi-aksi kecil untuk hidup lebih minimalis dan green living kepada teman-teman. #BelajarJadiMinimalis sendiri adalah ruang bebas untuk sharing, giving dan selling mengenai gaya hidup minimalis dan eco-friendly. Di dalamnya akan banyak konten-konten yang berisikan aksi-aksi kecil dari saya dan teman-teman di sekitar atau dari followers kami yang melakukan aksi minimalism dalam hidupnya. Karena konsepnya “Belajar” jadi konten yang kami dapat kebanyakan dari apa yang kami alami dan lakukan sendiri atau ilmu yang kami dapat dari literatur ataupun pengamatan di berbagai sumber dalam aktifitas sehari-hari.

@lyfewithless in Instagram

Di tahun 2019 ini saya berharap bisa menjalani gaya hidup minimalis dan eco-friendly secara konsisten. 1 langkah kecil dari kita bisa berdampak begitu besar bagi lingkungan dan juga batin kita.

Nah kalau kalian kira-kira kenapa sih tertarik menjalani gaya hidup minimalis dan green living? Sharing di kolom komentar yuk 😃

Jangan lupa Follow @Lyfewithless di Instagram untuk sama-sama #BelajarJadiMinimalis yaa! :)