Kesan Pertama Kota Suci Turin

Foto di atas gue ambil setibanya gue di bandara Casella di kota Turin, 16 April 2016, tepat satu tahun yang lalu.

Malam itu gue tiba di Turin, kota suci untuk para Juventini, seorang diri dari Paris. Dijemput oleh tuan rumah Airbnb yang akan gue tinggali selama di sana. Seorang guru matematika dan Juventino.

Di jalan menuju rumahnya, kami mengobrol tentang Juventus, tentang kegagalan menuju semi-final Liga Champions oleh Bayern Munchen, yang kami setujui bahwa pemain Juventus bermain baik di dua laga. Juga mengobrol tentang pengalaman dia dan istrinya yang sudah dua kali ke Indonesia.

Masih tajam di kepala gue bagaimana mobil dilaju dengan kencang di jalan kota Turin yang sudah sepi. Sampai akhirnya kami melintasi bangunan yang menjadi alasan gue datang ke sana: Juventus Stadium.

Gue bergumam norak di dalam mobil sambil mata gue nggak lepas dari bangunan itu. Seraya laju mobil dilambatkan dan kaca bagian gue duduk diturunkan oleh dia, dia berujar, “go ahead, take a picture.

Gue balas dengan ragu karena sudah malam dan dia terlihat buru-buru, “nah, I can do it tomorrow.

Seakan alam pun mendukung, lampu lalu lintas yang akan dilewati berubah menjadi merah. “Now, go, do it. I know you want to.

Damn right, I want to, signor.

Gue buru-buru mengeluarkan iPhone gue dan mengambil gambar di atas. Setelah mengambil gambar itu gue lalu menyimpan iPhone gue.

Detik-detik sisa lampu merah gue gunakan untuk memandangi bangunan itu, dengan mata kepala gue sendiri, telanjang tanpa perantara, tanpa pixel di layar kaca, khusuk.

That’s it. That is Juventus Stadium.

The home where my favorite football players play.

The home where we win and lose together, as a fan and a club.

The home of my passion, my inspirations.

The home of the team that weekend’s match results set my mood for the week.

The home of Juventus football club, naked in my eyes, as is.

Mobil mulai melaju lagi, gue menaikkan kaca jendela seraya bergumam dalam hati, “It’s happening, the dream that comes true. Let’s have fun tomorrow.


Sesampai di rumahnya, kami disambut oleh istrinya yang kurang lancar berbahasa Inggris. Mereka tinggal berdua di sebuah bangunan flat kecil khas Eropa.

Gue ditunjukkan kamar tidur dan kamar mandi untuk gue. Nggak lama, mereka pamit untuk pergi berdansa dengan teman mereka sampai pagi.

Setelah pertandingan di keesokan harinya, gue langsung pamit dengan mereka untuk kemudian ke stasiun kereta untuk ke Milan malam itu juga.

Bersalaman, gue berjanji kalau ke Turin lagi gue akan ke tempat mereka lagi, juga jika mereka ke Jakarta mereka berjanji akan menghubungi gue.

Kalau ada satu sesal saat itu yang gue simpan sampai sekarang, ialah gue nggak mengambil foto dengan mereka berdua.

Amazing people.