Sang Anak

Saat mata menutup kehidupan dunia di malam hari. Terdengar suara teriak kesakitan dan kesedihan. Dentuman tembakan membabi buta keadaan lapangan merah yang berdebu, hingga berteteskan darah yang pekat warnanya. Seorang anak kecil mati ditembak dalam keramaian, dan seorang dewasa mati ditikam keserakahan dunia. Banyak kematian dimana-mana yang mengharuskan air mata terus mengalir deras, banyak dan banyak sekali keserakahan akan sesuatu hal yang harus mengorbankan hal yang penting. Kini, para anak kecil tidak bisa menikmati masanya yang bahagia dan menyenangkan. Bermain, komunikasi, dan tertawa riang, kini, semuanya hilang begitu saja. Sedangkan orang dewasa hanya tertawa melihat kematian seseorang yang dicintainya, bukan karena kehilangan. Tapi, karena keserakahan yang membutakan mata hatinya.

Alam pun menangis melihat dunia yang sedang dilanda keserakahan manusia. Kini, hanya Tuhan yang bisa menghentikan semua kejadian tersebut, padahal Tuhan, tidak memulai dan tidak ingin terjadi. Melainkan, manusialah yang memulai kehancuran yang telah dibuat dengan keserakahan dan ambisi untuk menguasai dunia dan ingin berlimpah kekayaannya. Sedangkan anak kecil, tinggal di dalam ruang tanah yang berukuran sempit dan di sekat kayu-kayu djati. Sunggguh minim cahaya dan udara untuk bernafas dalam ruang tanah yang ditempatinya. Hanya suara yang samar terdengar oleh anak kecil, seakan memanggil dengan nada lembut dan menenangkan.

Terlihat sesosok wanita yang mempunyai sayap, wajah yang bersinar, dan senyum yang begitu indah. Menyapa sang anak kecil itu dengan lembut. Sang anak kecil melihat dengan mata yang berbinar-binar melihat wanita yang datang menghampririnya dengan senyuman. Wanita bersayap mengulurkan kedua tangannya untuk mengajak bermain dan melihat keadaan yang ada disekitar. Sang anak pun meraih kedua tangan yang diulurkan oleh wanita bersayap, dan meraka pun terbang sembari melihat keadaan yang ada disekitar. Kini, matahari mulai tenggelam dengan menyinarkan cahaya jingga yang begitu indah untuk dipandang, tapi, untuk dinikmati tidaklah mudah, karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk dinikmati keindahannya.

Saat terbang bersama wanita bersayap, anak tersebut melihat kedua orang tuanya yang sedang berdiam di samping batu berbentuk persegi panjang dengan ukiran yang begitu indah, lalu sang anak kecil menyapa kedua orang tuanya. “Ayah, Ibu!” sang anak memanggil dengan nada yang ceria. Tapi, tidak ada tanggapan dari panggilan sang anak tersebut.

“Ayah, aku udah sampai, hehe. Maafin aku kalau terlambat datang.” Sang ayah pun hanya terdiam dan tidak menanggapinya.

“Hai, Ibu, aku pulang! Hehe” tidak ada tanggapan juga.

Lalu, sang anak kecil melihat kedua wajah orang tuanya, terlihat air mata yang mengalir melewati pipinya. Seketika angin sendu menghampirinya dengan syahdu dan daun-daun kering berguguran, seperti mengartikan pertanda. Sang anak pun kebingungan dengan kedua orangtuanya yang meneteskan air matanya dan menghadap ke batu ukiran tersebut. Wanita bersayap pun mengajaknya pergi dari tempat itu, supaya si anak kecil tidak tahu, bahwa dia telah mati. Tetapi si anak kecil menolak, karena ingin berbicara dengan kedua orang tuanya yang sedang meneteskan air matanya di hadapan ukiran batu tersebut.

“Nak, ayo kita pergi darisini, aku akan mengajakmu ketempat lain. Biar kamu tidak kesal. karena saat kamu menyapa dan berbicara tidak ada tanggapan sama sekali” lalu, sang anak kecil mengikuti sang wanita bersayap untuk pergi dan meninggalkan kedua orangtuanya yang sedang berdiam diri di depan batu itu.

Sang anak kecil dan sang wanita bersayap pun meninggalkan tempat tersebut. “kita mau kemana?” kata anak kecil tersebut. “kita akan pergi sesuai arah angin melintas” kata sang wanita bersayap. Anak kecil itu hanya bisa terdiam dan kebingungan, “apa yang dimaksud dengan pergi sesuai arah angin? Mau kemana kita sebenarnya? Dan apa rencana dari wanita bersayap mengajakku terbang yang tidak tahu arah ini?” sang anak kecil terus bertanya dalam pikiran yang terus membabi butanya. Seketika dia menundakkan kepalanya dan melihat kebawah. Terlihat anak seumuran dengan dia yang sedang berdiri dengan seseorang yang lebih tua darinya. Tapi raut wajah yang disampaikan bukanlah bahagia. Melainkan kesedihan yang terpancar. Sang anak menjadi penasaran dan ingin melihatnya dengan jelas, “Aku, mau melihat dia yang ada dibawah kita” kata Sang anak kepada wanita bersayap tersebut. “Baiklah. Kita akan mendarat kebawah. Sekarang.” Mereka pun mendarat tepat disampingnya. Saat sudah tepat di sampingnya. Teriakan dan cambukan terus saja di arahkan kepada anak yang seumuran dengan sang anak. Ketika saat anak kecil itu sedang diam. Tiba-tiba sehelai lidi menghampiri bagian kakinya

“kamu itu bisa ga sih bekerja?” kata orang yang lebih dewasa

“bibibisa, pak” dengan nada yang ketakutan.

“kalau kamu tidak bekerja dengan benar. Maka kamu akan saya jual kepada orang lain.” Dengan nada yang begitu tinggi.

“jangan jual saya, pak” dengan nada sedih dari si anak.

“makanya, kamu kerja yang benar. Kamu di sini tidak mempunyai siapa-siapa selain saya, paham?!” kata orang yang lebih dewasa.

Anak kecil hanya bisa mengganguk saja. Lalu sang anak bersama wanita bersayap hanya bisa melihat dan meratapi penderitaan dari si anak tersebut. “aku sudah tidak kuat melihatnya lagi, bawa aku pergi dari sini” kata sang anak tersebut. Sang wanita bersayap pun hanya menganggukan kepalanya saja. Maka, mekera pergi dari tempat tesebut, dan pergi sesuai angin yang melintas.

Tibalah mereka berdua ketempat saat matahari mengeluarkan cahaya jingganya dengan begitu indah, dan ditambah desiran suara ombak yang menghantam batu karang dengan suara merdu. Lalu sang anak kecil melihat keindahan yang diberikan oleh sang wanita bersayap tersebut.

“Terima kasih, sudah membawa aku ketempat yang indah sekali” kata sang anak kecil” lalu sang wanita bersayap membalasnya dengan senyumannya.

“kamu kenapa tidak membalas perkataanku” dengan pipi yang bulatkan dan mulut yang di majukan.

“bukannya aku tidak mau menjawab. Tapi, alangkah baiknya kamu berterimakasih kepada sang maha kuasa, bukan kepada aku” kata wanita bersayap.

“kepada sang maha kuasa? Siapa dia?” anak kecil menjadi kebinggungan kembali, karena dia tidak tahu siapa sang maha kuasa tersebut.

“kamu tidak tahu? Sang maha kuasa itu adalah yang menciptakan kamu, aku, dan seluruh isi di alam semesta ini.”sang wanita bersayap pun menjelaskan dengan sangat sabar kepada anak kecil tersebut.

Anak kecil hanya bisa memangguk. Walaupun sebenarnya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh sang wanita bersayap tersebut. Lalu, disaat menikmati keindahan pantai. Terdengar suara memanggil nama sang anak kecil dengan samar-samar dan seperti mengenal suara tersebut.

“sepertinya aku kenal dengan suara ini, tapi siapa?” berbicara di dalam hati.

Sang wanita bersayap pun tiba-tiba melebarkan sayap-sayapnya dan seakan ingin pergi meninggalkan tempat tersebut.

“kamu mau kemana?” kata sang anak kecil

“sudah waktunya aku pergi dan meninggalkanmu disini sendiri” kata wanita bersayap.

“kenapa kamu tega meninggalkan aku disini sendiri? Aku disini tidak ada yang menemani dan aku tidak tahu harus kemana. Aku mohon kamu jangan pergi” kata anak kecil dengan nada yang lemah.

“kamu mendengar suara yang samar-samar? Kejarlah suara itu” kata sang wanita bersayap.

Anak kecil pun terdiam dan tercengang “kenapa dia bisa tahu kalau aku mendengar suara yang begitu samar” kata sang anak kecil di dalam pikirannya.

Tiba-tiba di saat lamunan sang anak tersebut. Pandangannya mulai gelap dan mulut seakan dibungkam oleh kegelapan. Lalu terdengar kembali suara yang memanggil nama sang anak tersebut. “Kirana” masih terdengar begitu samar. Sang anak kecil berusaha untuk mengembalikan pandangannya yang gelap tersebut. Perlahan-lahan pandangannya mulai membaik, dan begitu kagetnya sang anak melihat keadaan sekelingnya. Bahwa, sang anak sedang berada di tempat tidurnya. “Kirana, kamu sudah bangun?” kata wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Lalu sang anak melihat wanita tersebut dengan tatapan yang begitu rindu terhadap wanita yang menghampirinya. “Mamah” kata sang anak tersebut. “aku, aku, aku, kangen sama mamah” kata sang anak sembari bangun dan memeluk wanita yang ternyata adalah mamah nya. “kamu kenapa, nak?” kata mamahnya dengan wajah yang kebingungan. “tidak apa-apa. Aku hanya kangen mamah saja.” Kata sang anak tersebut. Lalu wanita tersebut perlahan melepaskan peukannya dan menyuruhnya untuk mandi. Sang anak pun hanya bisa tersenyum bahagia dan menganggukan kepalanya. “ternyata semua itu hanya mimpi” kata sang anak itu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.