Lampu Pijar Yang Merindu

Kerinduan, sebuah kata kerja yang membawa perwakilan dari emosi dan pikiran. Melanglang buana menghancurkan waktu, hanya demi meluapkan asa. Kerinduan bisa membangun juga menghancurkan. Disaat terindah adalah ketika kamu bisa merasakan kerinduanmu terluapkan dengan baik, walaupun hanya sekedar berkomunikasi.

Tetapi kerinduan juga bisa menghancurkanmu dibalik ke-asaan menanti waktu, menunggu kabar sekedar mendengar ocehan yang sering sekali diucapkan, layaknya pola kebiasaan. Kebiasaan karna asupan emosi yang membuat siapa saja nyaman berada didekatnya. Berpijak kokoh pada kenyamanan dan kepercayaan, kerinduan merasuk sukma seseorang yang menanti datangnya waktu untuk berjumpa kembali.

Bahagia ketika mendengar suara dan perkataannya, baik terlihat maupun tersembunyi dibalik tingkah laku yang menyenangkan. Larut dalam waktu untuk menikmati luapan rindu yang selalu tertahan.

Terpuruk ketika tidak mendengar suara dan perkataannya. Dengan menyimpan rasa dalam penyendirian menanti sang waktu. Terpecah karena lamunan yang menghantui segala bentuk pikiran mengambang. Hancur karena sebuah prasangka dikarenakan ketidakpuasan sisi ego hanya untuk sekedar meluapkan perasaan.

Layaknya oksigen eksistensinya selalu ada di udara, memberikan nafas kehidupan. Sebuah ketenangan bila kita menghirupnya dalam dalam untuk waktu yang lama. Rileks… Nikmat… dan tenggelam dalam waktu. Selalu menyenangkan dan menenangkan :)

Sebuah ketidakmungkinan diantara ketidakpastian menanti waktu. Untuk memaksakan kehadiran karna rindu, candaan….., bisikan…., senyuman…., dan gelak tawa dalam kebersamaan.

Mungkin, ini sekedar peringatan seperti sebuah lampu…
apakah ia akan semakin redup,
ataukah semakin menyala,
seiring waktu…
kitalah yang mengusahakannya. bukan menantikannya.
Seperti pijaran yang menyala-nyala.
Sebuah lampu terlihat konstan nyalanya dikarenakan ada jutaan letupan letupan api dalam satu detiknya.
Tidakkah kamu menyadari, terkadang letupan2 itu terhalang karna berbagai hal?
Lampu yang masih baru memang begitu konstan nyalanya, tetapi apabila usianya memasuki senja. Nyalanya akan mulai terdapat celah hening diantara jutaan letupan oleh sang waktu dibalik penyediaan sumber kehidupannya saat sudah semakin sering dinyalakan karena hari sudah menjelang gelap.

Pijaran lampu, adalah romantisme yang menarik bagi saya.
ada dua kumparan kawat rapuh yang saling terhubung, menyalakan emosi bahagia dan meredupkan cahaya ketika sang waktu, untuk beristirahat karna datangnya matahari. Apabila salah satu kumparan mulai cacat digerus sang waktu maka keduanya tidak akan bekerja maksimal menghidupkan sesuatu yang bernama cahaya. Yang selalu mereka butuhkan untuk membangkitkan tujuan sebelum pagi menghampiri dan saatnya mereka untuk beristirahat menikmati larutnya lelah.

Karena malam, adalah waktu ketika seseorang meluangkan waktu bersama dengan seseorang yang dinantinya… seperti pijaran bola lampu yang menyala, memberikan ketenangan dan penerangan hanya dengan berawal dari kebersamaan sepasang kumparan kawat, bersumber energi yang bernama keinginan untuk menikmati sang waktu.

Aku selalu ada disebelahmu, bersamamu merakit cahaya bersamaan dengan kebahagiaan, bersumber pada emosi konkrit berupa harapan untuk selalu menerangi sebuah jalan yang akan kita tempuh bersama. Mengarungi sang waktu melalui rindu diantara celah letupan kecil yang menghilang sampai dengan bersama,…. menutup mata.

16/02/2017
20:15
Seseorang yang terjebak realita, dan egonya bernama rindu disaat malam menanti.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.