Secangkir Kopi Dini Hari dan Senja

Jejak cerita berawal dari sruput cairan berwarna hitam, beraroma tajam dan khas dari biji bijian, diolah dan diurai dari kulitnya, dipetik dari pohonnya, setangkup biji biji hitam penuh gairah dan beraroma tajam. Kopi namanya, baik disruput ataupun sekedar dihirup aromanya.

Pagi adalah saat yang tepat bagiku untuk merenungkan segala nikmat kehidupan melalui sruputan pertama secangkir kopi. Dimana waktu ini merupakan 2 waktu yang berdekatan antar ambang batas dua perpindahan lintas waktu, yaitu dini hari dan senja. Mengapa? Karena dini hari dan senja adalah waktu yang pas untuk menghindari kemunafikan dan kekotoran nafas manusia dari ucapan yang menghumus waktu dan memekakkan telinga. Dini hari dan Senja adalah saat yang tepat untuk melenyapkan kepenatan hiruk pikuk perkotaan ataupun rasa lelah bekerja di pedesaan.

Bagi saya, kopi merupakan sebuah simbol kepahitan dari bumbu kehidupan yang ditabur melalui keringat, kerja keras, perhatian, dan konsistensi pada pertumbuhan jiwa. Kemudian hal yang tak kalah penting ialah kopi tak pernah berbohong soal rasa. Seberapa banyak gula dan krimer yang dibubuhkan kedalamnya, rasanya akan tetap pahit. Bagi para pecinta manis semerbak kopi bisa saja jadi aroma favorit mereka namun belum tentu dengan rasanya yang kental akan sarkastik dan idealistik yang tinggi. Memang hal hal pahit sejatinya dihindari dari pelik warna kehidupan. Seperti kopi bila tanpa gula, siapa yang berani meminumnya terkecuali mereka yang terbiasa dengan kepahitan hidup?

Beragam jenis kopi dengan permainan rasanya. Entah.. tetap saja kopi hitam polos tanpa gula adalah favorit dan kenikmatan tiada tara. Laksana birahi yang memuncak dan tercetus suara… “ahh….” sangat insentif bukan. Ya seperti itulah kopi dalam benak saya. Menimbulkan perasaan insentif tanpa harus berpikir negatif mengenai seks ataupun kesenangan duniawi seperti manusia penikmat fana disekitar sana.

Semilir angin senja menemani saya yang bercumbu dengan secangkir kopi. Mengingatkan banyak memori kelam dan menyeringai mesra dibalik nikmatnya kehidupan dan kemudian tersenyum bahagia dan berkata “aah… coba ngga sepelik ini hari masa lalu, ngga akan seasik ini ngejalanin hidup”.

Dingin dan redupnya matahari yang muncul dengan malu malu, membuat saya terkenang pada hal hal bahagia didalam sini. Memotivasi untuk terus bergerak dan berpindah pada kenangan baru yang akan terangkai lewat angan. Setiap jengkal jejak cerita yang tersapa lewat lembutnya kenangan, membuat semakin tiada batas rapat antara memori antar orang perorang, antar tempat dan beribu-ribu detik jam yang sudah berlalu kian lamanya. Rindu… melalui secangkir kopi. Membawa nafas euforia sebelum menjalani aktivitas sehari hari. Terkesan seperti kurang kerjaan bukan? Iya. Karna melakukan sesuatu sebelum kembali bekerja adalah hal menyenangkan yang sudah saya jalani sekian lama.

Betapa insentifnya secangkir kopi yang menjadi candu kala berpikir menjadi kebutuhan sehari hari. Orang bilang berpikir adalah proses mengolah pengalaman menjadi skema pengalaman yang baru. Kelak hasil pikiran itu akan menjadi buah matang nan manis setelah semua usai. Kemudian matahari pun terbit.. berpindah pada pagi hari dimana terdapat semangat baru, dan biarkan peluh dan asa terangkai menjadi sebuah semangat dalam raga. Hingga akhir nanti sebagai penutup hari di kesenjangan senja menikmati hari yang sudah dilalui dengan perasaan suka dan duka. Untuk kembali merindukan…. Kopi Dini hari dan Senja. :)

Like what you read? Give Danang Surya Atmaja a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.