Amanah untuk Lillah
Kadang sedih melihat kegelisahanku tentang suatu hal yang mungkin orang lain menganggap itu adalah hal wajar yang selalu di hadapi semua orang. Tentu, setiap waktu tak jarang kita akan menemukan masalah ini. Tapi aku ingin menyampaikan isi pikiranku selama ini.
Sebenarnya apa yang dimaksud amanah oleh teman sekalian? Dari yang kuketahui amanah adalah salah satu teladan rasulullah yang telah ditanamkan pada diri kita sejak kecil yang memiliki arti dapat di percaya. Tak jarang aku mendengar kata-kata semangat seperti “Saat amanah membuatmu lelah kuatkan hatimu dengan lillah”. Lalu sudahkah kita mengetahui arti sebenarnya dari Amanah itu sendiri? Lagi-lagi aku ingin memberikan opini terkait sorot pandang melihat kehidupan yang ku jalani.
Semakin kita dewasa maka berbagai tantangan pun bermunculan. Tantangan ini satu per satu menghampiri kita beriringan dengan lini umur yang terus bertambah, bebannya pun kian meningkat. Disamping itu muncullah amanah yang sering kita kaitkan dengan tanggung jawab seseorang yang tak dapat ditinggalkan. Namun, banyak diantara kita yang sulit untuk membedakan ‘masalah’ dan ‘amanah’ termasuk diriku. Mungkin perbedaannya terletak pada penilaian dalam bentuk negatif atau dalam bentuk positif. Apakah hanya sekedar itu? Ternyata amanah memiliki makna lebih dari itu. Pribadi masing-masing lah yang bisa menilai akan amanah yang diemban sebagai suatu beban hidup atau tantangan yang harus dilewati.
Amanah biasa digunakan banyak orang untuk mengganti istilah dari tantangan hidup yang kita jalani tadi. Sangat menarik memang ketika kita menggunakan pilihan hidup kita untuk melangkah menuju semua tantangan. Bahkan sering kita mendengar kata-kata mutiara seperti “Amanah tidak salah memilih pundak” namun pertanyaanku yaitu, dalam hidup ini berarti apakah Amanah yang berlari menuju kita? ataukah kita yang berlari mengejar amanah?
Terkadang pula kita hidup tak jauh dari sifat ingin memiliki lebih. Ya, manusia kadang hidup dalam keserakahan. Aku pun takut, bahwa aku juga bisa dikatakan serakah. Tapi, mari refleksi diri. Banyak kawan-kawanku yang sebegitu berkeinginan untuk mengemban suatu amanah. Melahap semua kerjaan di tempat manapun. Menyibukkan diri untuk kepentingan sendiri. Dan ada pula yang menyibukkan diri untuk melupakan masalah lain. Satu amanah datang, amanah lain datang, tentu tak akan tega bila amanah tersebut kita biarkan. Namun, yang ku khawatirkan adalah akankah kita hanya tergiur dengan suatu prestise dari amanah tersebut? Lalu seberapa sanggup kita memprioritaskan semua amanah tadi?
Lagi-lagi aku ingin berkata “Amanah tidak salah memilih pundak” tapi akankah kita bisa bertanggung jawab atas amanah tersebut. Sedih rasanya bila melihat disana ada yang sedang mengemban banyak amanah, dan ia telah memprioritaskan berdasarkan keinginannya, kemudian salah satu amanah yang ia pegang terbiarkan begitu saja, amanah pun tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sedih rasanya bila mendengar yang disana mendapatkan tawaran hanya untuk memenuhi daftar riwayat diantara banyaknya tulisan promosi diri. Bukankah amanah telah memilih pundak yang benar? Akankah amanah tersebut tergeserkan dan jatuh berserakan? Dan semua ini diserahkan kepada pribadi masing-masing. Aku hanya ingin berpesan, mungkin di luar sana masih banyak orang yang berkeinginan lebih untuk mengemban amanah mu itu, mungkin di luar sana banyak orang yang berusaha mati-matian pula untuk bisa meraih amanah itu, mungkin di luar sana banyak orang yang ingin memperjuangkan keberhasilan amanah yang telah kamu pegang itu. Bersyukurlah, kamu telah terpilih sebagai pemegang amanah. Dan kembali lagi kepada pengertian awal amanah yaitu dapat dipercaya. Semoga ketika amanah itu datang menghampiri, kita bisa mengikuti suri tauladan rasulullah sebagai orang yang tak sia-sia untuk dapat dipercaya oleh orang lain dan tentunya Allah SWT.
Salam, A Cintya Nur D