Skhole dan Masyarakat

Akhir-akhir ini banyak gencaran yang dilakukan mahasiswa pada salah satu poin penting tri darma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Mungkin telah banyak bentuk pergerakan dan penyadaran dari berbagai jenis komunitas maupun kegiatan dalam kehidupan kemahasiswaan. Namun, jumlah ini bukanlah menjadi penentu seberapa besar pemahaman dan kesadaran mahasiswa saat ini akan pentingnya mengabdi. Mengabdi adalah kegiatan berbakti, menghamba, dan memiliki kewajiban untuk melayani. Tentunya tujuan mengabdi pun kembali lagi merujuk pada posisi juga peran kita sebagai mahasiswa. Mengapa perlu mengabdi? Karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat, yang membedakan hanyalah kesempatan lebih untuk kami dalam mengemban ilmu yang lebih tinggi. Ilmu inilah yang akan kita pertanggungjawabkan, mau diterapkan seperti apa? Apa hanya akan kita terapkan pada saat kita lulus melepas status sebagai mahasiswa dan menjadi pekerja perusahaan atau lainnya? Coba kita tinjau kembali bagaimana peran mahasiswa saat ini dan seberapa besar peran tersebut dapat mempengaruhi perubahan.
Mahasiswa memiliki peran yang cukup strategis dalam kaitannya untuk melakukan perubahan. Untuk menuju suatu gerakan melakukan perubahan juga diperlukan langkah kecil dalam menyambut tali perjuangan tersebut. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memang bukanlah orang yang memiliki kedudukan dan posisi cukup penting untuk membuat kebijakan di negeri ini. Namun, dengan posisi strategis ini mahasiswa dapat menggali lebih banyak cerita yang selama ini tersembunyi tanpa membawa embel-embel kepentingan politik atau kepentingan lainnya yang dimiliki oleh orang-orang berdasi diluar sana. Kembali lagi, karena hal inilah mahasiswa dapat dengan bebas mengeskplor lebih jauh mengenai permasalahan yang ada. Terutama dan terpenting permasalahan yang mengikat kesejahteraan masyarakat. Menjadi penyambung lidah masyarakat itulah peran kita saat ini. Selain itu, dimana ketika posisi kita sama dengan masyarakat yang membedakan hanyalah kesempatan memperoleh ilmu pada jenjang yang lebih tinggi. Oleh karenanya mahasiswa dapat disebut-sebut sebagai agent of change. Namun kembali lagi, sebelum melakukan perubahan kita perlu menggali lebih ilmu dari realita yang ada, ilmu yang tidak kita dapatkan hanya dari tumpukan buku dalam rak, ilmu kehidupan yang selama ini dialami masyarakat, kehidupan yang selama ini menjadi perjalanan penuh liku bagi masyarakat, tentunya kehidupan yang berbeda dengan kehidupan yang kita alami saat ini.
Skhole itb mengajar ingin membuktikan bahwa peran mahasiswa akan bermasyarakat menjadi sangat penting, ketika kita mengetahui realita sesungguhnya kita akan dihadapkan suatu permasalahan cukup kompleks dan belum tentu bisa kita selesaikan. Namun, lagi-lagi disini kita tidak dapat membentuk solusi secara instan, perlu tahapan yang berkelanjutan untuk dapat menciptakan solusi dan penyelesaian dari masalah yang ada. Kami melakukan kegiatan bernama Gerakan ITB-Mengajar dimana kita sebagai pengamat terjun dalam kehidupan masyarakat secara langsung dengan cara hidup bersama masyarakat dalam kurun waktu 7 hari. Lokasi yang kami tuju adalah Desa Cibeurum lebih tepatnya yaitu Kampung Mekarjaya atau warga lokal biasa menyebutnya dengan Kampung B. Pada pelaksanaannya, kami yang merupakan komunitas di bidang pendidikan memiliki fokus utama pada permasalahan pendidikan di Kampung Mekarjaya. Namun, dibalik fokus utama kami tersebut kami juga menemukan banyak kisah baru yang terkuak dalam kehidupan masyarakat Mekarjaya. Kisah yang dapat memantik hati kita untuk terus memupuk rasa peduli dengan masyarakat. Karena sejatinya, diri ini masih butuh asupan bekal ilmu, kritik, juga pengalaman yang berkesan dan terkenang agar tetap mampu membuat diri ini bermanfaat bagi orang lain.
Kampung Mekarjaya merupakan salah satu kampung yang terletak cukup jauh dari pusat Desa Cibeureum. Akses menuju kesana pun bisa dikatakan tidak mudah. Kalian perlu menyusuri jalan setapak penuh batuan dan licin jika hujan. Jalanan ini juga menanjak dan dikelilingi perkebunan daun bawang yang berlimpah. Faktanya, daerah ini merupakan daerah perkebunan dengan beraneka ragam komoditas. Kami menemukan berbagai macam komoditas tanaman yang segar dan sangat subur seperti wortel, daun bawang, kopi, pisang, kentang, selada, sawi putih, seledri, singkong, dan lainnya. Daerah pemukiman disini tampak padat, setiap kampung berdiri secara terpusat dengan rentan jarak antar rumah warga tidak jauh, cenderung saling menempel antar tembok. Tentunya pekerjaan dominan di kampung ini adalah berkebun. Mereka terbiasa untuk bangun pagi dan melakukan aktivitas berkebun hingga tengah hari. Sembari meninggalkan anaknya untuk sekolah di pagi hari, baik Bapak dan para istrinya pergi berkebun bersama di tempat yang berbeda. Perkebunan ini mayoritas bukanlah milik lahan pribadi warga, warga mekarjaya lebih banyak yang menjadi buruh tani dan bekerja pada lahan milik orang lain. Selain itu, banyak diantara warga disana yang memiliki hewan ternak untuk menambah pemasukkan kebutuhan mereka. Hewan ternak yang dirawat adalah jantan, sehingga tidak akan berkembang biak dan tidak dapat menghasilkan susu untuk dikonsumsi. Mereka berternak dan merawat hanya untuk dijual pada waktunya terutama menjelang idul adha.

Ketika itu, selama 7 hari lamanya tim skhole banyak berhubungan langsung dengan masyarakat. Masing-masing telah terbagi dan ikut menggeluti kehidupan di tiap kepala keluarga, ya kami mempunyai orang tua juga saudara angkat disana. Hubungan kami dengan para warga pada awalnya terbilang cukup sulit beradaptasi, mengingat kemampuan kami yang kurang fasih dalam berbahasa sunda halus. Lambat laun, hal ini bisa teratasi dengan adanya keterikatan kami dengan warga saat saling berkomunikasi. Selain bekerja, aktivitas warga lainnya pun beragam. Masjid di tengah kampung menjadi pusat kegiatan warga sekitar. Selain untuk ibadah, dengan adanya masjid ini masyarakat selalu mengadakan kumpul bersama, mengaji bersama, dan mengembangkan potensi mawaris yang selalu menjuarai dalam perlombaan disekitar desa Cibeureum.

Perhatian kami pada desa ini tertuju pada usia rata-rata masyarakat Mekarjaya menikah adalah 12–17 tahun. Tak jarang kita melihat sang ibu yang memiliki anak rata-rata berumur 3–4 tahun berusia sebaya dengan kami 19–20 tahun. Tentunya hal ini mempengaruhi tingkat pendidikan yang digeluti tiap warga. Setelah lulus SMP rata-rata mereka putus sekolah untuk menikah dan membangun rumah tangga. Masih banyak masyarakat yang memiliki pendapat bahwa dampak sekolah formal tidak dapat terlihat dan membawa kontribusi nyata bagi kesejahteraan kehidupan mereka. Rata-rata orang di kampung ini berpendapat bahwa seseorang yang telah mengenyam pendidikan tinggi hingga SMA maupun bangku kuliah akan sia-sia saja apabila mereka tidak dapat melakukan apa yang telah mereka pelajari. Sehingga, permasalahan lainnya bermunculan ketika mereka dihadapkan pada prioritas kebutuhan dasar dalam membiayai anak. Bagi mereka, pendidikan belum menjadi prioritas utama untuk dipenuhi. Meskipun mereka membiarkan anak mereka untuk bersekolah, namun masalah pembiayaan pendidikan masih terlantarkan. Setelah kami ulik informasi lebih dalam mengenai pendidikan disana, ternyata masyarakat Mekarjaya lebih tertarik dalam belajar agama sehingga adanya pendidikan formal akan di nomor sekiankan. Pendidikan formal di desa Cibeurueum tergolong lengkap, terdapat Sekolah Dasar dimana yang terdekat untuk Kampung Mekarjaya adalah SD Cihalimun 1 dan 2, SMP, Juga SMA. Meskipun jarak SMP dan SMA cukup jauh, akses menuju sekolah pun hanya bisa melalui jalan kaki atau sepeda motor, tidak ada angkutan umum disana.


Itulah sekilas cerita mengenai gambaran akan kampung yang kami kunjungi. Terkadang, keterbatasan dapat membatasi untuk dapat berbuat lebih. Namun, hal inilah yang akan menjadi pelajaran dalam hidup kita. Seberapa ingin kita untuk memperbaiki diri. Seberapa besar keinginan kita bisa diwujudkan, ketika kita mampu. Skhole Itb-mengajar melakukan gerakan ini sebagai langkah awal dalam mewujudkan kesadaran mahasiswa ITB akan pentingnya pendidikan di pelosok negeri ini. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa di Kampung ini kita dapat menemukan berbagai macam masalah pendidikan yang cukup kompleks. Masalah pendidikan yang mungkin berbeda antar satu kampung dengan kampung lainnya, desa satu dengan desa lainnya, kota satu dengan kota lainnya, bahkan pulau satu dengan pulau lainnya. Memang, seperti yang kita tahu pendidikan bukanlah suatu hal yang dapat terlihat dan tergambarkan dengan jelas. Bukti hasil dari terpenuhinya pendidikan pun tidak ada yang bisa menemukannya secara real. Namun menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi dapat bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan dapat membantu kemajuan bangsa karena masa depan bangsa akan aman ditangan masyarakat yang berpendidikan. Hal yang perlu kami yakini dan kami harapkan yaitu satu per satu cerita yang selama ini bisa terungkap, satu per satu orang dapat tergerak, satu per satu masalah yang ada dapat terselesaikan. Jadi, sudahkah kalian menengok masalah sekitar saat ini?
Bandung, 2018
A. Cintya Nur D