6 Alasan Kenapa PhD Lebih Menarik daripada S2 atau Kerja

Alhamdulillah papernya diterima :D

Saya adalah lulusan S1 Teknik Informatika (terhitung sejak minggu lalu) yang sedang bingung mau S2 atau kerja. Awalnya sama sekali tidak terpikirkan kalau ada pilihan lain, yaitu pilihan untuk mengambil PhD program. Jika meniti sejarah kakek buyut saya, belum pernah sekalipun mendengar ada opsi itu untuk lulusan S1.

Sudut pandang dalam tulisan ini pun tidak jauh-jauh dari keadaan lowongan kerja Teknik Informatika dan prospek karir lulusan S2 atau S3 saat ini. Sering kali saya ditanya dengan pertanyaan yang sama, “Hah? PhD langsung? maksudnya, Dan?”, inti pertanyaannya sih itu.

“Pengalaman Daftar PhD di 10 Universitas Amerika | VLOG #8” — — Subscribe to our YouTube channel !

Saya sangat berharap agar lebih banyak orang Indonesia tahu mengenai direct-PhD ini, terutama buat pelajar, mahasiswa dan dosen. Bukan berarti saya menggurui, saya hanya mencoba menyampaikan pengetahuan yang saya dapat dari Professor saya. Baiklah, untuk lebih jelasnya silahkan baca poin-poin berikut. Semoga bermanfaat!

  1. Kesempatan
    Buat saya, kesempatan adalah hal yang paling mahal setelah kesehatan. Kesempatan tiap orang memang beda tapi sebenarnya kesempatan itu bisa kita usahakan. Saya sendiri tidak pernah menyangka bisa mendapatkan tawaran PhD (atau orang nyebutnya S3), tapi sebenarnya tidak se simpel itu. Saya pun juga tidak pernah mengira kalau akhirnya bisa menikah sebelum lulus S1. Buat saya, jika kesempatan itu datang, singkirkan jauh-jauh rasa khawatir akan kegagalan. Saya sangat setuju dengan pendapat Sujiwo Tedjo yang mengatakan :

    “ Menghina Allah itu sederhana, se simpel kamu takut gagal atau takut besok tidak bisa makan.”

    Saya mendapat kesempatan PhD ini setelah sebelumnya mengambil sebuah kesempatan juga. Jadi kesempatan itu ibarat bom atom yang akan mempengaruhi kesempatan-kesempatan selanjutnya. Kalau di awal kamu berani mengambil kesempatan yang menantang, pasti kedepannya banyak kesempatan yang jauh jauh jauh lebih menantang. So, be ready for it!! Bismillah saja..

    Ketika saya tulis artikel ini, saya sudah menjalankan peran saya sebagai research student dengan Professor saya dari University of Chicago selama > 2 tahun. Dulu, kira-kira dua tahun yang lalu, saya bergabung dengan research group ini karena beliau mengatakan bahwa hasil riset saya kelak bisa dipakai untuk mendaftar S2 ataupun PhD di universitas terkemuka di dunia. Hingga sekarang sudah ada 3 alumni program riset ini yang berhasil diterima program PhD di universitas terkemuka di dunia. Bukan hanya saya yang tahu kesempatan itu karena program tersebut terbuka untuk semua mahasiswa Indonesia. Silahkan kunjungi situs ini untuk detailnya.

    PhD yang saya rencanakan insyaAllah ke University of Chicago atau ke UC Berkeley. Bukan hanya keren-keren an, tapi alasannya karena founder Apache Spark (100 times faster than Hadoop) itu dulunya di UC Berkeley tapi baru-baru ini pindah ke UChicago. Kebetulan, dua universitas itu masuk top 10 the best university for Computer Science Student.
  2. Pengalaman
    Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana bisa hasil riset bisa bantu kamu diterima PhD di top university??”

    Paper atau publikasi ilmiah adalah kuncinya. Paper itu adalah rangkuman hasil penelitian atau riset yang dipublikasikan di suatu konferensi atau jurnal. Jurnal dan konferensi pun punya ranking, jangan sampai kita terlena dengan kata-kata “International Conference”. Ketika ada orang yang bilang bahwa papernya diterima di jurnal / konferensi internasional, silahkan tanyakan lebih jauh tentang jurnal / konferensi tersebut.

    Contohnya, saya punya dua paper afiliasi ITB yang terindeks di Scopus dan dipublikasikan di konferensi internasional. Tapi sayangnya paper tersebut tidak bisa saya jadikan modal untuk apply PhD di UC Berkeley. Kenapa? Karena acceptance rate cukup besar dan rating konferensinya jauh kalah dibanding konferensi internasional lain. Simpelnya seperti ini, kalau kamu tahu MIT, Stanford, UC Berkeley, Harvard, itu universitas bagus, maka coba kamu cek apakah ada paper dari mereka yang ikut dipublikasikan di konferensi itu?

    Pengalaman yang didapat dari studi PhD ini lebih ke riset. Semakin bagus supervisor atau pembimbing PhD kamu, pasti publikasi ilmiahnya bisa bersaing dengan peneliti-peneliti lain dari MIT, Stanford, CMU, dsb. Kalau kamu penasaran, coba kamu search tentang MIT Technology Review, disana ada banyak teknologi keren hasil riset yang kebanyakan belum ada di pasaran. Jadi wajar saja kalau sebelum diterima PhD, kamu harus memiliki beberapa paper yang dipublikasikan di top conference (melihat ranking konferensi dan jurnal bisa di SJR) agar lebih mudah diterima. Jangan kaget kalau banyak konferensi internasional yang ga ada di SJR, itu berarti konferensinya masih belum terkenal dan impact factornya rendah. Konferensi / jurnal yang bagus adalah yang tergolong di Q1, contohnya adalah publikasi riset Prof Khoirul Anwar di link berikut.
  3. Pendanaan
    Di US, PhD itu gratis! Semakin bagus universitas tempat kamu PhD, saya semakin yakin kalau biayanya gratis. Bahkan teman saya dapet uang bulanan yang jauh lebih besar daripada beasiswa LPDP. Kuliah PhD bisa gratis karena universitas tempat kamu belajar pasti mendapat biaya research (research grant) yang bisa digunakan untuk membayar tuition fee dan living expenses.

    Kalau saya pribadi memang tidak tertarik dengan beasiswa LPDP karena harus kembali setelah masa studi. Bukan karena saya tidak berjiwa nasionalis, tapi karena saya masih sangat sangat sangat cupu seandainya dipaksa kerja di Indonesia setelah lulus. Lihat saja Arcandra Tahar, saya cukup terinspirasi dengan beliau. Saya ingin kembali ke Indonesia kalau memang sudah mampu memberikan kontribusi yang signifikan. InsyaAllah.
  4. Prospek Kerja / Karir
    Banyak yang merasa kalau dunia riset itu jauh dari uang. Dan banyak yang dengan yakinnya bilang kalau lulusan S3 itu sebaiknya jadi dosen saja. Saya hanya bisa menahan tawa ketika mendengar perkataan itu. hmm..

    Dua minggu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk bekerja di suatu company (di luar negeri) tapi saya urungkan karena Professor saya berpendapat lain. Saya mengambil keputusan yang cukup sulit karena gaji di perusahaan tersebut sangat menggiurkan (sepertinya saya bisa membeli mobil avanza tiap dua bulan sekali seandainya bekerja disana). Tapi ini bukan tentang uang, saya tersadarkan bahwa ada banyak hal yang bisa saya capai selain uang. Saya sangat bersyukur memiliki Professor seperti beliau, berikut adalah kutipan emailnya:

    “ …. your dilemma is exactly the same dilemma as other Indonesian students have, that all of you see “interesting” position in front of your eyes, and you guys quickly fall in love with it and want to go pursue it. Like industry positions in Europe, or other countries, etc. The problem of many Indonesian students that I see is they have a very limited short view of their future plan. They see one good thing in front of them, and they want to take it, but you guys haven’t seen the whole world.

    What I’m offering for your future, I strongly believe, is much much more advanced than what you see there. GIK lab is a ticket to graduate school in US. Why US? Because US is the heart of IT and nobody can deny that. Go to US and “see the world” and get all the advanced IT/CS technology, advances, and opportunities.

    If you eventually go to graduate school, that 1-year in industry won’t give you any big learning curve. You will see that via graduate school and learning curve, your learning curve will be steep, and i really believe that you will lose one year because you delay it.

    Graduate school in US doesn’t mean it’s just a school …. you will see a lot of cool seminars from top industry here, you will go to internships in top industry here, you will see the best of the best conference in respective fields … you will again “see the whole world”.

    You’re a good student, then why limit yourself? Why limit your future?

    Trust me, i’m doing this because again, I want to bring the best of the best Indonesian students to the best global competition level, … and hopefully one day make Indonesia a proud country. “
  5. Impact
    Dengan mengambil PhD, kamu berkesempatan untuk mengerjakan berbagai proyek riset. Kamu bukan hanya sebagai pengguna suatu teknologi, tetapi sangat mungkin untuk berkontribusi sebagai pengembang suatu teknologi baru. Dari semua keilmuan yang kamu pelajari di kelas dan semua teknologi yang saat ini kamu pakai, semua itu berawal dari riset.

    Sekalipun teknologi itu berasal dari company atau perusahaan, mereka mengguyurkan dana yang tidak sedikit untuk mengembangkan teknologi tersebut. Divisi yang selalu melakukan penelitian untuk produk suatu perusahaan biasa disebut RnD (Research and Development). Orang yang bisa bekerja di divisi tersebut adalah orang dengan pengalaman riset di bidangnya. Secara umum divisi tersebut selalu diisi lulusan-lulusan PhD dari universitas terkemuka di dunia.

    Beda hal nya dengan S2, kamu akan lebih banyak belajar tentang hal-hal praktis. Di US, S2 dan PhD itu terpisah dan tidak saling terkait. S2 itu lebih cocok untuk orang yang ingin menambah skill teknisnya. Mereka yang S2 biasanya merupakan pekerja teknis.
  6. Gaji
    Gaji lulusan PhD di US itu besar sekali. Kalau cuma pengen beli Lamborghini insyaAllah keturutan. Sebenernya bukan tentang gaji, tetapi gaji itu akan ikut seiring kamu terus berikhtiar di bidang yang kamu geluti.

“Liburan Thanksgiving Belum Lengkap Tanpa Makan Pete Berjamaah” — — Subscribe to our YouTube channel !

Terimakasih sudah membaca! Mohon doanya semoga lancar persiapan PhD saya dan sampai jumpa di tulisan-tulisan lainnya :)

Baca juga tulisan saya yang lain:

Building-28/R-021, CERN, Geneva, Switzerland
July 25, 2017

“Jalan-Jalan di Kampus Sampe Rockefeller Chapel (UChicago’s Most Iconic Building) | VLOG #11” — — Subscribe to our YouTube channel !

Daniar H. Kurniawan

Written by

Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat! Subscribe to our youTube channel: https://daniarheri.com/IDR-to-Chicago/

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade