Dapat Juara di Hackathon Tahunan CERN?

Alhamdulillah, hasil begadang 2 hari tidak sia-sia. Ini pertama kalinya saya mengikuti hackathon setelah sejak lama berwacana pengen ikut. Awalnya sih ga niat dan ga ada ide dan ga berekspektasi untuk menang. Intinya, saya cuma iseng aja :D
Kata hackathon memang cukup familiar buat kami, anak teknik informatika. Itu adalah lomba membuat produk (berbasis IT) yang biasanya dikerjakan secara on site selama akhir pekan, 2 harian. Di Indonesia ajang ini cukup populer sebagai ladang mengumpulkan uang, teman-teman nyebutnya “e z money”. Bagaimana tidak, hadiah yang ditawarkan saja bisa sampai ratusan juta rupiah hanya untuk sesuatu yang dikerjakan semalam.
Melanjutkan cerita saya, kebetulan minggu lalu di CERN ada hackathon tahunan yang bebas diikuti oleh siapapun yang bekerja di CERN, baik anak undergraduate, master ataupun PhD student. Lomba tersebut sudah diadakan sejak tahun 2012, tahun ini adalah yang ke-5 kalinya. Lomba tersebut sudah diumumkan sejak jauh-jauh hari bahkan sebelum saya sampai di CERN. Saat mengetahui akan diadakan lomba itu, saya sama sekali ga kebayang akan ikut, apalagi membayangkan akan menang.
Saya orangnya memang penakut, tapi saya tidak mau hanya diam dan hanya menjadi penonton. Meskipun saya menyadari kalau ilmu saya kalah jauh dibandingkan dengan civitas CERN yang lain, saya akhirnya memaksakan diri untuk mencoba dengan embel-embel “iseng”.
“Lebih baik mencoba dan gagal, daripada kamu tidak mencoba sama sekali.”
Bermodal iseng, saya meyakinkan diri untuk membatalkan rencana jalan-jalan ke Paris dengan iming-iming bisa jalan-jalan ke London gratis jika mendapat juara I pada ajang Webfest ini. Kalau kamu cukup menguasai ilmu “iseng” ini, kamu bisa bermimpi yang ngasal + ngawur banget tanpa takut gagal. Pikir saya, gagal pun ga apa-apa, keknya udah pasti kalah juga di lomba ini. Disisi lain, kalau menang ya Alhamdulillah, lumayan bisa ke London gratis!
Dua hari sebelum perlombaan dimulai, saya tidak punya tim dan tidak punya ide sama sekali. Pas dikantor, saya denger beberapa anak sangat antusias mendiskusikan ide mereka dan banyak anak-anak lain yang sudah memprediksi tim mana saja yang akan menang. Sekali lagi, “Saya mah apaa atuuh??”
Di sore hari sepulang dari kantor, saya bilang ke temen saya (namanya Varun) kalau hari Sabtu ini saya tidak jadi ke Paris. Terus saya iseng nanya apakah bisa gabung tim dia. Eh, ternyata saya diajakin gabung beneran. Sampai detik itu saya berpikir kalau saya hanyalah pelengkap dan hanya akan ikut-ikutan aja dengan ide tim si Varun. Tapi ternyata semuanya berubah setelah aku bilang kalau aku punya akses ke berbagai VR devices yang ada di CERN, termasuk Microsoft Hololens, Oculus Rift, Google Cardboard, HTC Vive, dan sebagainya.
“We could make a difference!”
Mereka cukup bersemangat karena tahu bahwa ada kemungkinan untuk menjadi tim pembeda. Dari 37 anak Openlab, 200-an anak summer student, dan ratusan anak technical student, hanya saya yang mengerjakan riset berkaitan dengan VR dan mixed reality. Dengan kata lain, sangat kecil kemungkinan untuk tim lain mengembangkan software di perangkat-perangkat tersebut.
Pada sore hari itu akhirnya kami berdiskusi di suatu taman deket hotel. Saat itu tim kami beranggotakan 6 orang yang berasal dari India, UK, Indonesia, dan ada satu negara lagi, lupa. Kami berdiskusi cukup lama, sekitar 2 jam hingga waktu maghrib mulai habis. Karena diskusi cukup seru, akhirnya saya meminta izin sebentar untuk shalat di taman itu.
Ga ada mushala, ga ada tempat wudhu, hmm..
Dalam situasi yang random gini, saya juga harus bisa berpikir “out of the box”. Akhirnya saya shalat beralaskan jaket dan rumput lapangan. Kebetulan di sekitar taman memang banyak potable water (kran air minum) yang bisa saya salah gunakan untuk wudhu :D

Nah, kami pun akhirnya sepakat buat mengikuti Webfest dengan ide membuat game 3D pada perangkat Microsoft Hololens. Hololens itu adalah perangkat masa depan yang bisa membantu kamu berinteraksi dengan hologram. Susah sih jelasinnya, pokoknya keren banget parah! Itu hanya sebuah kaca seperti kaca mata, tetapi punya processor dan lensa khusus yang bisa merender (menampilkan) benda buatan 3 dimensi.
Berbeda dengan VR (Virtual Reality), Microsoft Hololens ini termasuk kategori mixed reality. Kenapa mixed? karena kamu masih bisa melihat benda nyata disekitarmu. Benda 3D yang ditampilkan oleh Hololens ini juga bisa disesuaikan dengan lingkunganmu, misalnya kalau kamu naruh benda (hologram 3D) di bawah meja asli, maka benda hologram itu ga akan kelihatan kalau kamu lihatnya dari atas meja. Fitur itu dinamakan Spatial Mapping.
Tapi masalahnya, saya baru dua minggu bermain-main dengan perangkat itu.

Bermodal nekat, kami pun mengikuti perlomabaan sesuai dengan ide awal. Namun tim kami saat ini hanya tinggal 4 orang. Dua orang yang lain meninggalkan kami karena tidak yakin dengan ide ngawur dan skill kami. hehehehe..
Sejujurnya banyak banget banget banget hal detail seru yang ingin saya ceritakan selama pengerjaannya, tapi nanti kepanjangan dan terlalu teknis. Singkatnya, kami menemukan ratusan permasalahan yang mau tidak mau harus kami selesaikan. Apalagi dengan kenyataan bahwa saya satu-satunya orang yang bisa mengimplementasikan fitur si Microsoft Hololens. Susah banget banget! Tidurku pun cuma 3 jam, padahal 3 temen India ku tidurnya > 6 jam. Terlebih lagi, bug / error nya Microsoft Hololens SDK (Software Development Kit) itu masih jarang yang nyelesaiin karena teknologi ini masih tergolong baru dan jumlah developernya sedikit banget.
Aku cuma berpikir, “Kalau aku menyerah dengan bug (error) ini, pasti timku cuma berhenti sampai di sini.”
Bermodal semangat itu, akhirnya aku berhasil mengimplementasikan gesture recognition, voice recognition, dan spatial mapping feature untuk aplikasi yang kami kembangkan.

Akhirnya saat presentasi akhir pun tiba. Sesuai prediksi sebelumnya, kami ternyata menjadi satu-satunya tim yang menggunakan VR/AR device. Walaupun kesempatan menangnya cukup besar, tapi kami tidak mau ke Ge Er an. Teknologi kami memang paling keren, tapi tidak affordable (terjangkau) karena harga Microsoft Hololens itu sendiri sekitar $3000 dan hanya available di US.
Dan sesuai judulnya, bermodal iseng-iseng ikut, kami akhirnya dianugerahi juara ke-3 dalam ajang Webfest 2017 ini. Alhamdulillah! Unbelievable!!
Terimakasih yang sudah membaca sampai akhir. Jangan sungkan untuk berkomentar ya! See you on another story!
30 July 2017
from St Genis Pouilly, France
with love :)