Kenapa Anak dari Keluarga Tidak Mampu Sulit Sekolah Tinggi?

Simply, karena pemikiran orang tuanya tidak dewasa. Maksudnya?

Desa Konohagakure dilihat dari Gunung Gemblung (Azam, Haki, Aku — kiri ke kanan)

Sudah cukup gemas rasanya menjawab pertanyaan tentang kuliah or generally about study. Keluarga tidak mampu memang banyak tantangan untuk menyekolahkan anaknya, tetapi bukan berarti hal itu menjadi alasan untuk pesimis dengan potensi putra-putri tercintanya.

Berlatar sebuah desa di perbatasan Trenggalek-Tulungagung, jauh dari lekak-lekuk jalan beraspal perkotaan, saya tinggal di tengah lingkungan yang minim akan kualitas pendidikan. Sebuah ironi rasanya ketika saya jauh-jauh berbicara tentang kuliah S3 ataupun tentang konferensi internasional sedangkan masih ada masalah fundamental tentang pendidikan di sekitar saya.

Benar jika Anda beranggapan saya tidak perlu terlalu latah dengan semua masalah di bangsa ini, yet I have to do something though. Yang akan saya utarakan melalui tulisan ini adalah hal simpel yang bisa dilakukan banyak orang. More than 75% of my friends are capable of doing this action! Saya mengacu pada teman-teman di ITB dan teman-teman yang sudah sukses mencicipi manisnya pendidikan tingkat tinggi di Indonesia maupun luar negeri.

“Stop making our lives so exclusive that others find it impossible to learn from!”

Haruskah saya berkeliling desa dan menjelaskan tentang beasiswa ke semua warga? Well, cukup sulit buat mengumpulkan semua warga, sehingga saya memilih masuk ke SMA dan SMP setempat saja untuk bertemu langsung dengan para siswa. Setiap kali berdialog dengan siswa dari daerah (tinggalnya jauh dari kota), mayoritas dari mereka selalu beranggapan kalau kuliah itu susah dan mahal. Pekerjaan yang mereka bayangkan pun jauh dari angan-angan para petinggi negeri.

Para punggawa pemerintahan (Pusat maupun Pemda) sering berbicara tentang generasi muda yang harus mau kembali (dari luar negeri / dari kota lain) untuk membangun daerah asalnya. Jujur saja, pernyataan itu faktanya hanya berlaku untuk segelintir warga Indonesia saja. Well, bang Ricky Elson yang sudah balik dengan segudang inovasi aja ga didukung dengan baik tuh..

Berbicara tentang pemuda daerah dengan pendidikan dan pekerjaan seadanya, saya akhirnya berhipotesis adanya dua penyebab utama, yaitu:

  1. Mereka berasal dari keluarga tidak mampu
    Orang tua sering melarang anaknya untuk berkuliah/bersekolah di tempat yang jauh, kebetulan di Trenggalek memang harus jauh kuliahnya kalau mau kualitas pendidikan yang lebih baik. Tentu saja alasannya adalah uang. Ada beasiswa kan padahal..?! 
     
    Jujur aja, susah banget jelasin tentang beasiswa ini karena saya pasti diminta bantuin buat dapet beasiswanya. Kalau sekolahnya di ITB, tentu saja saya bisa cariin detailnya. Secara umum pasti saya cuma menjelaskan tentang beasiswa Bidik Misi dan LPDP, itupun cukup sulit diterima oleh mereka, alasannya ada di poin No. 2.
  2. Orang tua mereka terlalu menutup diri dengan potensi anaknya
    “Beasiswa ya cuma untuk anak-anak yang pinter banget!”, pernyataan yang biasa dilontarkan oleh orang tua yang terlalu menutup diri dengan potensi anaknya.
     
    Ingatkah dengan teman kita yang ranking 1, 2 atau 3 waktu SD dulu? Kemanakah mereka? Alhamdulillah kalau mereka mampu melanjutkan pendidikan sampai S1 dan sudah mampu menyejahterakan keluarganya. Faktanya, saya dulu SD rangking 9 dari 14 siswa. Saya benar-benar kagum dengan kepandaian teman-teman saya ketika di SD. Saya juga tau ada banyak banget teman-teman saya yang cukup potensial namun ternyata tidak melanjutkan pendidikannya. Ada lagi, sudah kuliah sampai S1 tetapi sangat kesulitan mencari pekerjaan. 
     
    Setiap orang tua memang berhak mengarahkan anaknya sesuai kemauannya. Banyak guru yang pengen anaknya kuliah di kedokteran karena temen-temannya punya anak di kedokteran juga. Trus akhirnya lewat jalur belakang dengan menggelontorkan uang ratusan juta rupiah, true story. Sebagian besar anak yang kuliah berdasar ambisi orang tua, mereka cuma mau buruan lulus dan kerja seperti yang sudah diimpikan orang tuanya. 
     
    Sedangkan untuk orang tua yang kurang mampu, memang sangat banyak tantangannya. Dan tantangan itu menuntut kedewasaan berpikir. Yang saya maksud kedewasaan adalah tentang optimisme mereka mengenai masa depan anaknya. Program seperti Indonesia Mengajar memang sangat bagus, tetapi itu belum ada di semua daerah, termasuk Trenggalek. AIESEC juga bagus, tapi global village belum ada yang diadakan di Trenggalek.
     
    Faktanya, banyak tetangga kita yang anaknya itu juara 1,2 atau 3 di SD-nya namun orang tua terlanjur tidak punya mimpi bahwa anaknya kelak bisa menjadi orang sukses ataupun perpengaruh di Indonesia maupun di dunia. Dalam hal ini kita harus mau berbagi terutama ke siswa-siswi (dan orang tua) di daerah terpencil. Marilah kita lebih terbuka dengan orang lain. I mean, literally mau cerita tentang peluang di dunia pendidikan dan pekerjaan itu seperti apa. Ini yang aku maksud dengan, “More than 75% of my friends are capable of doing this action!”

Apa kamu bangga kalau dibilang berbeda? Saya malah bisa tersinggung kalau pujian itu digunakan sebagai pembenaran atas sesuatu yang tidak bermanfaat. Inilah kenapa saya bilang tentang “Stop making our lives so exclusive that others find it impossible to learn from!”. Jangan sampai orang-orang memandang kita terlalu spesial sehingga membuat orang lain canggung untuk sekedar menyapa ataupun berdiskusi.

Saya sangat bersyukur dikaruniai kedua orang tua yang melek dengan pendidikan meskipun kehidupan kami seadanya. Ayah saya menuntut saya harus kuliah dan harus dapat beasiswa. Bagaimana tidak, pendapatan total di keluarga kami perbulan cuma sejuta — dua jutaan ga mungkin cukup buat biaya saya kuliah kalau tanpa beasiswa. Syukurlah di desa itu serba murah, nasi pecel favorit saya aja harganya cuma Rp 3.500,- , jadi pendapatan sejutaan itu sudah cukup banget alhamdulillah.

Kalau lagi pulang kampung, sempatkan mengobrol dengan siswa-siswa di sekitar rumah untuk berbagi sekelumit cerita dari tanah perantauan. Bermanfaat tidak harus menunggu ketika kita sukses dengan bisnis yang omzetnya puluhan juta/bulan kok! Bismillah aja.. Dan bermanfaat tidak terbatas dengan dunia nyata, itulah kenapa saya menulis ini karena alhamdulillah ada ribuan views perbulannya. Terimakasih sudah membaca!


Sabtu, 30 September 2017
Salam dari Trenggalek,
Dari pemuda pengangguran yang kerjaannya belum jelas karena masih sibuk belajar TOEFL. Mohon doanya biar dapet nilai bagus. aamiin :D

Yang mau baca tulisan lain, silahkan: