Mau Mengajak Pasangan ke Luar Negeri? Perhitungkan 9 Hal Ini

Beberapa hal yang saya sebutkan di bawah ini berlaku secara umum, tanpa memperhitungkan negara tujuan mana yang ingin kamu datangi.
Saya ingin menulis ini karena tidak jarang menjumpai seseorang yang sudah berkeluarga namun enggan membawa pasangannya ke luar negeri ataupun orang single yang berencana tidak akan membawa pasangannya hingga dia settle (menetap) di negara tersebut. Alasan yang mereka utarakan memang sangat variatif dan situasional.
Sedikit latar belakang tulisan, hingga saat ini saya hanya memiliki pengalaman mengajak istri ke beberapa negara di Eropa saja (honestly, banyak kok orang lain dengan pengalaman yang lebih banyak tentang mengajak pasangannya). InsyaAllah bulan depan main (mampir) ke Kuala Lumpur dan 3 bulan lagi ke Langkawi untuk konferensi.
“Jangan menunda untuk booking transportasi ke dan selama di negara tujuan + booking hotel atau akomodasi tempat kamu akan tinggal bersama pasanganmu nanti.”
Saya orang yang suka merencanakan sesuatu jauh-jauh hari, sehingga keputusan untuk booking tiket pesawat + hotel untuk 4 bulan kedepan tidaklah aneh. Alasannya simpel, yaitu karena saya ingin segera mendapat kepastian itinerary (perjalanan) dan ingin mendapat harga yang cukup bagus. Insyaallah di tulisan selanjutnya akan membahas tentang cara menyiapkan travel itinerary yang hemat.
Well, berikut 9 pertimbangan agar kamu lebih yakin dan bersemangat merencanakan perjalanan bersama pasanganmu:
- Status Hubungan
Saya yakin tidak semua yang membaca tulisan ini sudah menikah. Bahkan biasanya yang cenderung suka jalan-jalan ke luar negeri itu adalah mereka yang masih berpacaran, yang masih mengaggap dirinya muda. Beda halnya dengan orang yang sudah menikah yang cenderung dianggap orang sudah tua yang lebih cocok untuk stay di suatu tempat. :D
Saya menuliskan poin-poin pertimbangan lainnya dengan asumsi pasanganmu itu adalah istri atau suamimu karena ini bukan tentang jalan-jalan atau travelling tetapi tentang susuatu yang lebih formal, misalnya: studi lanjut, riset, konferensi, dsb. - Akomodasi
Pastikan akomodasi dari kegiatanmu itu mengizinkan atau memungkinkan untuk ditinggali pasanganmu. Jangan ragu untuk menanyakan tentang kemungkinan buat ganti kamar atau pindah penginapan kalau memang diperlukan. Saya awalnya tidak yakin untuk menanyakan tentang prosedur mengajak istri ke Swiss, tapi ternyata postingan saya di grup Facebook cukup direspon dengan baik. Awalnya cuma iseng nanya tentang pengalaman teman-teman, trus akhirnya sampai nanya tentang tipe kamar / akomodasi. Jujur saja saya baru tahu kalau ada tipe kamar studio itu setelah ke eropa ini. FYI, itu adalah tipe kamar lengkap dengan dapur dan kamar mandi dalam. - Visa
Ini cukup ribet untuk negara tertentu. Sebagian besar negara mengharuskan keluarga Anda punya tabungan yang cukup untuk meng-cover biaya kehidupan selama di sana. Jangan ragu untuk cek ke website resmi kedubes negara tujuan. Awalnya saya mengira kalau nanya temen aja sudah cukup, tapi ternyata saya sampai telpon ke call center kedubes di Swiss buat memperjelas pengurusan visa istri saya. Selain itu, saya juga pernah terkendala visa di jepang sehingga harus membatalkan rencana ke sana bersama istri. BTW, silahkan baca cerita istri saya yang pernah ditolak visa nya dan akhirnya diterima.
- Ditolak Visa Schengen. Duh!
- Ditolak Swiss, Akhirnya Dapat Visa Schengen dari Perancis!!! - Kebijakan Afiliasi
FYI, afilisasi adalah lembaga atau perusahaan atau institusi yang menaungi kamu selama berada di negara tujuan. Kebijakan afiliasi ini bermacam-macam, dan sangat dibutuhkan untuk menunjang proses pengurusan visa. Kamu cukup kirim email ke contact person yang kamu tahu dan mulailah bertanya dari hal yang paling simpel, misalnya: “Apakah mungkin jika saya membawa pasangan (spouses) saya selama kegiatan / studi ini?”. Banyak orang memandang sebelah mata the power of email, tapi buat saya itu adalah alat komunikasi paling utama untuk mempersiapkan berbagai hal selama di negera tujuan. - Izin
Izin ini tentu saja izin dari orang tuamu dan orang tua pasanganmu. Saya suka gagal paham kalau ada orang tua yang melarang anaknya bepergian jauh apalagi mau ke luar negeri. Yasudahlah, itu hak mereka. Mungkin ada alasan yang sangat mendesak untuk hal tersebut. Stay positive! :) - Biaya Hidup
Ini bisa kamu tanyakan ke teman-temanmu yang pernah tinggal disana dan juga bisa kamu search di internet. Jangan suka berasumsi dan puas dengan satu sumber. Cek puluhan sumber terpercaya agar kamu tidak salah perhitungan ketika sampai di negara tujuan. Baca Sel Rose de l’Himalaya, tulisan istri saya tentang biaya hidup jika kamu penasaran tentang kehidupan kami di Swiss. - Pengalaman
Well, yang namanya di luar negeri itu tidak sesimpel di Indonesia. Sekalipun kamu akan punya banyak teman Indo di negara tersebut, tetap saja kamu butuh survival skill (keahlian bertahan hidup) yang bagus. Pengalaman itu berharga! Kalau memang belum pernah ke luar negeri, jangan sungkan-sungkan nanya ke temen yang pernah kesana. Kalau memang berniat bawa pasangan, jangan ragu untuk bertanya ke temen atau orang sekitarmu yang pernah membawa pasangannya ke luar negeri.
Bayangkan saja nanti di negara tujuan itu kamu harus naik transport yang mana, belanja makanan (halal) dimana, buang sampah dimana, cara milah sampah seperti apa, dsb. Intinya, kamu harus siap dengan beragai hal. Mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) itu lebih simpel daripada menjalani kehidupanmu di sana. So, be ready for everything! Saya pernah menuliskan sedikit pengalaman selama saya di Jepang 2 tahun yang lalu di tulisan Flashback #070915: From Bandung to Japan with Love . - Kesibukan
Kesibukan pasanganmu selama di negara tersebut sangat sangat sangatlah penting untuk kamu diskusikan. Ini bisa bervariasi, mulai dari memasak sampai ikut kerja part time. Ga lucu aja kalau kamu sibuk dengan kerjaan atau studimu kemudian melupakan kegiatan pasanganmu. Ini cukup penting karena banyak penelitian yang bilang kalau orang tanpa kesibukan itu rentan terkena gangguan psikologis. hmm.. - Lingkungan
Kalau kamu atau pasanganmu itu orang yang introvert, sepertinya kalian bakal punya banyak pertimbangan tentang lingkungan tempat tinggal. Kalau saya tinggal dimana pun seneng-seneng aja selama lingkungannya aman. :)

That’s all! Semoga catatan singkat ini cukup menjawab jika ada yang bertanya atau mengajak diskusi tentang membawa pasangan ke luar negeri. Terimakasih sudah membaca. Tunggu tulisan saya selanjutnya tentang LHC Detector dan Paris Trip! :D