Manusia itu Lucu

Daniel A. Surya
Sep 7, 2018 · 3 min read

Manusia itu lucu.

Ketika seseorang itu sakit fisiknya, maka ia tidak akan malu untuk pergi ke dokter atau ke health center untuk mendapatkan obat (untuk sembuh).

Tetapi ketika seseorang itu sakit jiwanya (maksudnya: terluka jiwanya entah oleh issue-issue seperti kesepian, kedukaan karena ditinggal oleh orang yang dikasihi, atau luka karena issue-issue seputar relationship), mereka rata-rata enggan untuk pergi ke konselor atau ke mental health department untuk mendapatkan pertolongan.

Mengapa fenomena ini terjadi?

Tebakan saya karena: Ada stigma yang kurang fair (atau kurang tepat) terhadap konseling/konselor. Stigma tersebut beranggapan bahwa seseorang yang di-konseling berarti punya masalah kejiwaan (mental/emotional/psychological issues) dan mempunyai masalah kejiwaan berarti hal yang memalukan.

Stigma ini sangat tidak fair dan “destructive”. Seseorang bisa saja di-konseling bukan karena ia punya masalah kejiwaan (mental/emotional/psychological issues) melainkan karena ia ingin mencegah (being preventive) potensi yang mungkin saja bisa terjadi terhadap jiwanya jika persoalan “A” atau “B” tidak dibahas dengan seorang konselor.

Lagipula, kalaupun seseorang itu di-konseling karena ia punya masalah yang berkenaan dengan jiwa / emosi, salahnya atau jeleknya dimana? Bukankah justru orang tersebut “matang” pengenalan akan masalah kesehatan mentalnya, sehingga ia ingin menemui seorang ahli kesehatan mental (konselor) untuk menolong dirinya? Apa bedanya dengan seseorang yang tangannya patah karena jatuh ketika bermain bola lalu ia ke dokter ahli tulang untuk mendapat pertolongan? Tidakkah kedua-duanya (baik mereka yang punya masalah tangan yang patah maupun masalah tentang jiwa/mental) adalah orang yang “matang” dan “tahu diri”? Mereka tidak bisa menolong diri mereka sendiri, therefore mereka mencari bantuan dari orang lain.

Apa yang bisa kita lakukan agar stigma ini bisa berangsur-angsur rontok dari pikiran kebanyakan orang? Saya ada beberapa usulan praktis:

1. Jika kita percaya bahwa kita adalah mahluk dengan tubuh (fisik) dan jiwa (mental/emosi), maka ita semua perlu jujur dengan kondisi jiwa/mental kita sendiri, sama seperti kita jujur terhadap keadaan fisik kita sendiri ketika tangan kita patah maka kita akan mencari pertolongan. Demikian juga halnya dengan jiwa/mental kita. Jika kita merasa ada beban-beban mental/emosi yang menumpuk, maka segeralah mencari pertolongan.

2. Setelah kita sudah berani jujur dengan kondisi kesehatan mental kita sendiri, yang kedua kita perlu belajar bagaimana mengkomunikasikan luka emosional yang kita alami secara tepat dan transparan. Luka fisik seperti patah tangan itu terlihat jelas dengan mata telanjang, tetapi luka emosional itu tidak terlihat (hanya terasa oleh mereka yang sedang terluka), jadi kita perlu belajar untuk mengkomunikasikan luka emosional tersebut secara tepat dan transparan. Sehingga sang konselor dapat memberikan analisa-diagnosa yang tepat sesuai dengan luka yang diderita. Anda tidak mau kan patah tulang tapi dikasih obat sakit perut?

3. Sekarang dari sisi sang konselor — sebagai konselor kita harus jaga kerendahan hati kita. Hanya karena kita sering menangani kasus, katakanlah soal loneliness, maka tidaklah serta-merta kita itu pasti tahu “obat” untuk mengatasi loneliness. Kita perlu dengan penuh tanggung jawab di hadapan Tuhan mencari tahu apa penyebab yang sebenarnya dan memohon hikmat-Nya baik untuk berkata-kata maupun untuk diam. Selain menjaga kerendahan hati, penting juga bagi konselor untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri. Saya percaya Anda tidak mungkin memeriksakan kesehatan paru-paru Anda kepada dokter yang suka merokok. Demikian juga halnya dengan kesehatan mental. Kita perlu memastikan bahwa kita sendiri menjaga “kebugaran” mental/emosi kita secara berkala: bisa dengan mengerjakan hobby, bercengkrama dengan keluarga atau sahabat, melibatkan diri dalam pelayanan sosial atau gerejawi, dan lain sebagainya.

Btw, apakah saya sendiri seorang konselor? Iya dan tidak. Iya, sebab konteks pekerjaan dan pelayanan saya banyak dipenuhi dengan sesi konseling. Tidak, sebab saya bukan seorang konselor profesional. Apa yang saya tuliskan di sini murni hasil refleksi saya pribadi sebagai seorang konselor di sekolah dan juga sebagai seorang yang butuh konseling.

Kiranya sharing ini bermanfaat bagi teman-teman.

- Daniel Adhi Surya

Daniel A. Surya

Written by

Father • Husband • Minister • Student @vst_edu (currently)