Peluang dan Tantangan Hubungan Dagang Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Eropa

Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Luas hutan yang dimiliki Indonesia mampu menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor minyak sawit ke berbagai wilayah, seperti Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur serta Uni Eropa. Minyak sawit sendiri merupakan komoditi andalan yang dimiliki Indonesia dalam kegiatan ekspor Indonesia. Tingginya kebutuhan akan minyak sawit menyebabkan banyaknya negara-negara yang mengimpor minyak sawit dari Indonesia.

Dengan banyaknya permintaan negara-negara lain akan minyak sawit milik Indonesia, tentu hal ini merupakan sebuah peluang dan juga tantangan bagi Indonesia dalam melakukan aktivitas perdagangan internasional dengan negara lain, tidak terkecuali dengan Uni Eropa. Negara-negara yang tergabung ke dalam Uni Eropa merupakan salah satu pengimpor terbesar minyak sawit dari Indonesia. Terlebih lagi, kerja sama Indonesia-Uni Eropa tahun ini sedang gencar untuk ditingkatkan, seperti salah satunya adalah melalui Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang sedang didiskusikan untuk kepentingan dagang kedua mitra ini seperti pengurangan pajak dan hambatan perdagangan. Namun, hubungan dagang Indonesia-Uni Eropa pun tidak selamanya meningkat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia ke Eropa berkurang 5,6% setiap tahunnya selama lima tahun belakangan.[1]

Atas penjabaran diatas, maka tulisan ini akan membahas mengenai peluang dan tantangan Indonesia dalam kaitannya dengan perdagangan internasional melalui ekspor minyak sawit dengan Uni Eropa, serta kepentingan apa yang akan dimanfaatkan Indonesia untuk memenuhi kepentingan nasionalnya melalui hubungan dagang ini. Dengan menggunakan konsep countertrade, maka hubungan yang terjalin antara kedua mitra ini akan dijelaskan lebih dalam.

Countertrade

Countertrade adalah sebuah konsep yang membahas mengenai kegiatan ekspor dan impor suatu negara yang mana dari kegiatan ekspor dan impor tersebut disertakan sebuah perjanjian yang didalamnya berisikan mengenai perjanjian untuk pembelian barang kembali, transfer teknologi dan lain sebagainya.

“Countertrade adalah sebuah penetapan dagang yang mana penjual atau eksportir diharuskan untuk menerima sebagian atau seluruh perjanjian dalam proses pengiriman, dapat berupa sebuah penawaran produk dari negara pengimpor. Intinya, hal ini adalah sebuah purchasing power yang dimiliki oleh negara atau perusahaan untuk mempengaruhi sebuah perusahaan untuk membeli atau memasarkan barang atau konsesi lainnya yang bertujuan untuk membayar barang impor, atau untuk mendapatkan nilai mata uang yang kuat atau teknologi.”[2]

Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Uni Eropa

Uni Eropa adalah salah satu pasar terbesar Indonesia untuk persoalan ekspor komoditi ke luar negeri.

“Uni Eropa, yang mana terdiri dari 27 negara, adalah partner dagang kedua terbesar Indonesia dengan total kerja sama bilateral mencapai Rp. 253 trilyun setiap tahunnya. Ekspor yang dilakukan Indonesia ke seluruh negara-negara eropa berjumlah Rp. 177 trilyun ketika seluruh barang terkirim ke Uni Eropa berjumlah Rp. 75 trilyun.”[3]

Sementara itu, berkaitan dengan ekspor minyak sawit Indonesia, Uni Eropa adalah pengimpor kedua terbesar minyak sawit Indonesia dibawah India pada tahun 2015 lalu. Adapun jumlah ekspor minyak sawit Indonesia tergambar dalam tabel berikut:

Dengan jumlah ekspor Indonesia ke Uni Eropa yang berjumlah 4,23 juta ton tersebut, Uni Eropa tentu merupakan salah satu partner dagang terpenting Indonesia. Ditambah lagi, pada Febuari 2016 lalu, Indonesia berencana meningkatkan hubungan dagang dengan Uni Eropa dan salah satunya adalah melalui pengingkatan ekspor komoditi. Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa telah setuju untuk meningkatkan kerja sama dalam perdagangan komoditi, seperti minyak sawit dan biji kakao.[4]

Kepentingan, Peluang dan Keuntungan Indonesia

Kepentingan yang dibawa Indonesia dalam hubungan dagangnya dengan Uni Eropa adalah sebagai pasar yang besar untuk impor minyak sawit. Indonesia akan selalu menjaga hubungan dagang dengan Uni Eropa karena Uni Eropa adalah pasar yang sangat strategis. “Indonesia dan Uni Eropa akan meningkatkan hubungan dagang dan menunggu negosiasi lebih lanjut.” Kata wakil presiden Indonesia Jusuf Kalla pada bulan Febuari lalu.[5] Dengan begitu, Indonesia tidak akan kehilangan pasar utama ekspor minyak sawitnya.

Selain itu, Indonesia pun memiliki kepentingan lain dengan perusahaan-perusahaan di Eropa. Dengan memiliki hubungan dagang yang baik antara kedua mitra dagang ini, perusahaan-perusahaan di Eropa berencana untuk melakukan investasi di Indonesia.

“Perusahaan-perusahaan di Eropa berencana untuk menyediakan lebih dari 1,1 juta pekerjaan di Indonesia. Uni Eropa tertarik untuk melakukan investasi di bidang infrastruktur, perdagangan, layanan keuangan dan sektor pariwisata,” kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guerend”[6]

Dengan adanya ketertarikan Uni Eropa untuk berinvestasi di Indonesia, tentu hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Indonesia akan mendapat keuntungan selain melalui ekspor minyak sawit dan komoditi lainnya, Indonesia pun akan mendapatkan bantuan seperti yang telah disebutkan diatas. Indonesia pun akan terus meningkatkan produksi minyak sawitnya guna memenuhi seluruh kebutuhan di negara lain.

“Dengan total penanaman minyak sawit saat ini tercatat 7,3 juta hektar, Indonesia dapat memproduksi 21,5 juta ton minyak sawit mentah. Pada tahun 2020 Indonesia diharapkan mampu meningkatkan produksi hingga 40 juta ton. Dengan begitu, Indonesia akan menjadi supplier paling berpotensi bagi Eropa di masa mendatang.”[7]

Hubugan dagang antara Indonesia dan Uni Eropa, khususnya ekspor minyak sawit Indonesia akan memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Analisa

Dengan menggunakan konsep countertrade, maka hubungan dagang antara Indonesia dan Uni Eropa ini dapat dijelaskan. Ekspor minyak sawit yang dilakukan ke Uni Eropa tentu memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Indonesia mendapatkan pemasukan negara melalui ekspor yang dilakukan, sementara kebutuhan Uni Eropa akan minyak sawit akan terpenuhi. Ditambah lagi, Uni Eropa sendiri tidak dapat menghasilkan minyak sawit sendiri, sementara Indonesia yang memiliki hutan yang sangat luas tentu mampu memproduksi secara berlebih hingga akhirnya menjadi komoditi untuk diekspor.

Selain ekspor minyak sawit yang terjadi antara Indonesia dan Uni Eropa, ternyata terdapat hal lain yang terdapat dalam hubungan kedua dagang ini, yaitu investasi berupa infrastruktur, perdagangan, layanan keuangan dan sektor pariwista. Menurut konsep countertrade, importir dapat menawarkan suatu perjanjian dalam kegiatan ekspor-impor kepada eksportir. Dalam hal ini, Uni Eropa berencana untuk melakukan investasi di Indonesia. Dikarenakan posisi Uni Eropa sebagai importir minyak sawit, Uni Eropa memiliki purchasing power yang membuat Indonesia harus menerima penawaran yang diberikan Uni Eropa.

Indonesia sendiri yang berencana untuk terus meningkatkan produksi minyak sawit serta menjadikan Uni Eropa sebagai target ekspor utama, tentu harus menyetujui tawaran yang dilakukan Uni Eropa. Namun dalam hal ini, Indonesia sendiri mendapat keuntungan dari tawaran yang diberikan Uni Eropa, yaitu penyediaan lapangan pekerjaan sejumlah 1,1 juta pekerjaan serta hal lainnya seperti bantuan teknologi. Sebaliknya, Uni Eropa pun akan diuntungkan karena dapat melakukan investasi asing di Indonesia. Dengan begitu, kedua belah pihak akan sama-sama diuntungkan.

Hambatan dan Tantangan Indonesia

Mengenai hambatan dan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam kegiatan ekspor minyak sawit ke Uni Eropa, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh Indonesia. Hal pertama adalah penetapan standar yang diberlakukan Uni Eropa terkait kualitas dari minyak sawit Indonesia. Mereka tidak mau menerima minyak sawit mentah yang mana diproduksi dari penanaman yang berasal dari lahan gambut.[8] Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dikarenakan lahan di Indonesia yang sukar mengalami kekeringan.

Berikutnya adalah regulasi yang ditetapkan oleh Uni Eropa terkait dengan keberlanjutan dari produksi minyak sawit. Melalui Forest Law Enforcement, Government and Trade ( FLEGT) milik Uni Eropa, aturan ini akan mengatur mengenai penebangan kayu.

“FLEGT digunakan untuk kayu, yang mana secara langsung mengakui pemenuhan kayu yang secara legal bersertifikat dari Indonesia dan aturan Uni Eropa melalui Voluntary Partnership Agreement (VPA).”[9]

Selain Uni Eropa memiliki regulasi yang mengatur mengenai penebangan hutan, terdapat juga tekanan dari kelompok lingkungan di Eropa yang melarang untuk mengimpor minyak sawit jika eksploitasi yang dilakukan tidak sesuai dengan aturan yang ada. Faktanya, Uni Eropa akan mengimplementasikan carbon standards yang mana memerlukan memerlukan pemeriksaan karbon emisi pada tahun 2017.[10] Dengan semakin banyaknya aturan yang mengatur mengenai penebangan hutan, Indonesia harus lebih berhati-hati dan perlu meningkatkan regulasi dalam negeri untuk selalu menjaga aturan mengenai penebangan hutan agar sesuai dengan regulasi yang ada, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.

Permasalahan yang terakhir adalah mengenai pemberlakuan peningkatan pajak di Eropa terkait dengan ekspor minyak sawit. Prancis adalah salah satu negara yang akan meningkatkan pajak impor pada minyak sawit.

“Majelis Nasional Prancis setuju untuk mengadakan peningkatan pajak untuk impor minyak sawit mentah dan pengolahannya untuk produksi makanan. Penambahan pajak 90 euro per ton (dikenakan paling tinggi 104 euro per ton tarif impor) akan diimplementasikan pada tahun 2017 nanti. Peningkatan pajak ini adalah bagian dari RUU Prancis mengenai keberangaman lingkungan yang bertujuan untuk mengurangi deforestasi dan melindungi masyarakat Prancis dari dampak negatif mengkonsumsi minyak sawit bagi kesehatan”[11]

Dengan adanya hal ini, tentu menjadi hambatan bagi Indonesia untuk mengekspor minyak sawit dikarenakan pemerintah Prancis tentunya akan mengurangi impor minyak sawitnya pada tahun 2017 nanti.

Kesimpulan

Untuk menyimpulkan tulisan ini, kita dapat melihat bahwa hubungan dagang yang terjalin antara Indonesia dan Uni Eropa adalah sebuah hubungan yang saling menguntungkan. Dengan menggunakan konsep countertrade yang menyatakan bahwa dalam suatu ekspor-impor terdapat power purchasing yang dimiliki oleh importir, yaitu untuk memberikan penawaran pada eksportir. Maka dapat dijelaskan bahwa Uni Eropa selain melakukan kegiatan impor minyak sawit dari Indonesia, juga memberikan penawaran berupa investasi asing di Indonesia. Investasi ini nantinya berupa penyediaan lapangan kerja bagi Indonesia serta bantuan lain seperti pelayanan keuangan, perdagangan dan sektor pariwisata.

Dalam kegiatan ekspor-impor ini, Indonesia akan mendapat keuntungan dari investasi yang akan dilakukan Uni Eropa setelah perdagangan ini terjalin. Selain itu, Indonesia pun berpeluang untuk menjadi pengekspor utama minyak sawit ke Eropa yang ditargetkan terus bertambah setiap tahunnya. Namun, Indonesia pun memiliki tantangan dan hambatan, diantaranya adalah regulasi Uni Eropa yang semakin ketat serta tuntutan untuk menjaga alam dalam proses impor. Juga, rencana peningkatan pajak impor minyak sawit yang nantinya akan mengurangi impor minyak sawit Eropa. Indonesia perlu melakukan pengetatan regulasi dan harus tetap menjaga hubungan baik dengan Uni Eropa.

DAFTAR PUSTAKA

Coca, Nithin.” INDONESIA DOUBLES DOWN ON PALM OIL.” Equal Times. diakses pada 16 Mei 2015. http://www.equaltimes.org/indonesia-doubles-down-on-palm-oil?lang=en#.Vzh4T7h97IU.

“France Step Closer to Higher Palm Oil Import Tax, Indonesia Objects.” Indonesia-Investmens. diakses pada 16 Mei 2016. http://www.indonesia-investments.com/id/news/todays-headlines/france-step-closer-to-higher-palm-oil-import-tax-indonesia-objects/item6614.

Hermansyah, Anton. “Indonesian exports to Europe in decline.” The Jakarta Post. diakses pada 15 Mei 2016. http://www.thejakartapost.com/news/2016/04/19/indonesian-exports-to-europe-in-decline.html.

“Indonesia, European Union to increase trade cooperation.” Antara News. diakses pada 15 Mei 2016. http://www.antaranews.com/en/news/103130/indonesia-european-union-to-increase-trade-cooperation.

“RI seeking free trade barriers for Its CPO exports to EU.” Antara News. diakses pada 15 Mei 2016. http://www.antaranews.com/en/news/71098/ri-seeking-free-trade-barriers-for-its-cpo-exports-to-eu.

Seyoum, Belay. “Export-Import Theory, Practices, and Procedures Second Edition,”New York: The Hawoth Press, 2000.

Yulisman, Linda. “RI proposes trade platform for CPO exports.” The Jakarta Post. diakses pada 16 Mei 2016. http://www.thejakartapost.com/news/2014/03/21/ri-proposes-trade-platform-cpo-exports.html.

[1] Anton Hermansyah, “Indonesian exports to Europe in decline,” The Jakarta Post, diakses pada 15 Mei 2016, http://www.thejakartapost.com/news/2016/04/19/indonesian-exports-to-europe-in-decline.html.

[2] Belay Seyoum, “Export-Import Theory, Practices, and Procedures Second Edition,”(New York: The Hawoth Press, 2000), p.277.

[3] “RI seeking free trade barriers for Its CPO exports to EU,” Antara News, diakses pada 15 Mei 2016, http://www.antaranews.com/en/news/71098/ri-seeking-free-trade-barriers-for-its-cpo-exports-to-eu.

[4] “Indonesia, European Union to increase trade cooperation,” Antara News, diakses pada 15 Mei 2016, http://www.antaranews.com/en/news/103130/indonesia-european-union-to-increase-trade-cooperation.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] “RI seeking free trade barriers for Its CPO exports to EU,” Antara News, diakses pada 15 Mei 2016, http://www.antaranews.com/en/news/71098/ri-seeking-free-trade-barriers-for-its-cpo-exports-to-eu.

[8] “RI seeking free trade barriers for Its CPO exports to EU,” Antara News, diakses pada 15 Mei 2016, http://www.antaranews.com/en/news/71098/ri-seeking-free-trade-barriers-for-its-cpo-exports-to-eu.

[9] Linda Yulisman, “RI proposes trade platform for CPO exports,” The Jakarta Post, diakses pada 16 Mei 2016, http://www.thejakartapost.com/news/2014/03/21/ri-proposes-trade-platform-cpo-exports.html.

[10] Nithin Coca,” INDONESIA DOUBLES DOWN ON PALM OIL,” Equal Times, diakses pada 16 Mei 2015, http://www.equaltimes.org/indonesia-doubles-down-on-palm-oil?lang=en#.Vzh4T7h97IU.

[11] “France Step Closer to Higher Palm Oil Import Tax, Indonesia Objects,” Indonesia-Investmens, diakses pada 16 Mei 2016, http://www.indonesia-investments.com/id/news/todays-headlines/france-step-closer-to-higher-palm-oil-import-tax-indonesia-objects/item6614.