Malam Terakhir Warok Suronaga

Sebuah cerpen oleh Danif Pradana


Angin berhembus dengan begitu kencang. Aku bisa mendengar dengan jelas suara kelelawar yang tengah berpesta pora menyambut kegelapan malam. Mereka patut berbahagia. Karena mereka sudah menunggu kesempatan ini sejak lama.

Sebanyak 20 obor menyala, tiada hentinya memberikan cahaya di dalam candi ini. Tanpa terasa sudah dua jam lebih aku bersemedi. Memanjatkan doa kepada Betari Durga. Memohon kekuatan agar seluruh kegelapan di alam semesta berkumpul di tempat ini.

Tidak lama lagi, Warok Suronaga akan datang ke candi ini. Ia akan menyetubuhi diriku dengan penuh nafsu. Lubang anusku akan dihujam dengan batang keperkasaannya. Aku akan mengerang kesakitan dan dia akan tertawa puas.

Ya, aku adalah gemblak yang baru saja ia pinang tadi pagi. Gemblak adalah laki-laki tampan berusia belasan tahun yang dipelihara oleh seorang warok dalam kurun waktu 3 tahun untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Karena apabila mereka berhubungan intim dengan seorang wanita, maka kesaktian yang dimiliki seorang warok akan hilang.

Ini merupakan malam pertamaku sebagai seorang gemblak. Dan ini juga merupakan malam terakhir dia sebagai seorang warok.

“Warok Suronaga harus mati!” Kata orang-orang di kampung.

Mereka cukup beralasan. Warok Suronaga adalah seorang pengkhianat bangsa yang bergabung dengan Kompeni. Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia membantai orang-orang di desa sebelah dan menculik para wanitanya untuk dijadikan budak seks para Kompeni. Sebagai imbalannya, ia mendapatkan harta yang berlimpah-limpah.

Sungguh perbuatan yang sangat biadab. Semua orang menginginkan dia mati. Namun dia terlalu sakti. Tidak ada satupun orang yang berhasil mengalahkannya. Sekalipun ia dikeroyok, namun tetap saja ia berhasil melumpuhkan lawan-lawannya. Akhirnya orang-orang di kampung pasrah. Tidak bisa berbuat apa-apa. Warok Suronaga menyadari hal itu. Karena itulah dia tetap cuek tinggal di kampungnya.

Walau demikian, sebagian orang di kampung tidak menyerah. Salah satunya adalah ibuku, yang merupakan pemimpin dari sebuah perkumpulan rahasia yang mendedikasikan hidupnya untuk membunuh para warok, terutama Warok Suronaga yang kesaktiannya begitu terkenal hingga ke negeri seberang.

Bisa dibilang bahwa perkumpulan yang dipimpin ibuku ini adalah masyarakat gelap pertama yang ada di Nusantara. Mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas namun misterius. Dalam kesehariannya mereka tetap berperilaku wajar layaknya orang yang hidup di kampung ini.

Namun bisa dibilang bahwa kunci kesuksesan dari rencana pembunuhan ini berada ditanganku. Benar, akulah yang akan membunuh Warok Suronaga. Akulah yang akan menghentikan keangkuhannya.

Lantas orang bertanya, bagaimana aku akan membunuhnya? Aku tidak memiliki kesaktian sedikitpun. Aku juga tidak memiliki senjata khusus yang mampu menusuk tubuhnya. Tapi ada satu rahasia besar yang orang tidak tahu mengenai diriku.

Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan tulen. Bukan seorang laki-laki yang selama ini dipercaya oleh Warok Suronaga maupun sebagian besar masyarakat kampung. Sejak lahir aku sudah dikodratkan untuk menjadi sosok yang nantinya akan membunuh Warok Suronaga. Karena apabila dia menghujamkan batang keperkasaannya ke lubang anus seorang perempuan, maka tamat sudah riwayat kesaktiannya.

Tidak mengherankan sejak lahir aku sudah dipersiapkan untuk tumbuh sebagai seorang laki-laki. Sekalipun wajahku terlihat cantik, namun ketika rambutku dipontong pendek maka aku terlihat sebagai laki-laki yang tampan. Khusus untuk payudara, aku diberikan terapi khusus yang membuatnya tidak tumbuh terlalu besar seperti perempuan pada umumnya.

Rencana ini rupanya berhasil. Warok Suronaga sangat tertarik denganku. Dari sekian banyak gemblak yang pernah ia pinang katanya aku adalah yang paling tampan. Hingga suatu hari ia datang ke rumahku membawa berkarung-karung beras, gula tebu, buah-buahan, ringgit emas, dan dua ekor sapi.

Ia datang melamarku. Nafsunya begitu membara ketika melihat wajahku. Aku merasa jijik. Tapi aku sadar, aku adalah bagian dari sebuah rencana besar yang akan mengubah kehidupan di kampung ini untuk selamanya.

Lalu bagaimana jika Warok Suronaga mengetahui bahwa aku adalah seorang perempuan tulen? Aku tidak memiliki batang keperkasaan layaknya seorag laki-laki. Mendengar hal itu ibuku tersenyum. Ia sudah memikirkan hal itu sejak lama.

Dulu diceritakan bahwa ibuku menggali kuburan seorang laki-laki belasan tahun yang baru saja meninggal. Dengan sebuah golok ia memutilasi alat kelamin mayat laki-laki tersebut dan membawanya pulang. Entah bagaimana caranya, dengan sebuah ilmu guna-guna ia menempelkan alat kelamin tersebut padaku. Sejak itulah aku berkelamin ganda.

Rupanya ibuku adalah keturunan dari seorang janda sakti yang dulunya pernah menyebarkan tulah mematikan di tanah ini. Sang janda saat itu berhasil dibunuh. Tapi orang lupa bahwa keturunannya masih hidup dan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Mereka membaur dalam masyarakat. Dan ibuku adalah salah satu keturunannya.

Sayangnya kesaktian yang dimiliki ibuku tidak sebanding dengan kesaktian yang pernah dimiliki leluhurnya. Oleh karena itulah ia tidak sanggup untuk berhadapan langsung dengan Warok Suronaga. Dan satu-satunya cara untuk membunuh Sang Warok adalah dengan menggunakan akal dan sebuah perencanaan yang begitu mendalam. Ya, itulah aku. Aku adalah sebuah alat yang sudah dipersiapkan sejak lahir untuk membunuh Warok Suronaga.

Dan bukan itu saja. Ada lagi rencana gelap yang sudah dipersiapkan ibuku beserta para anggota dari perkumpulan rahasia ini. Rupanya mereka telah meracik sebuah pelumas khusus yang sengaja dioleskan ke duburku. Dan apabila sang Warok memasukkan batang keperkasaannya ke dalam anusku, tidak saja dia akan kehilangan kesaktiannya, tapi batang keperkasaanya akan meleleh seketika. Dengan demikian, ia akan mati tanpa keperkasaannya.

Tanpa terasa angin malam semakin kencang. Suara desauannya yang menghantam pepohonan terdengar sangat menakutkan. Kelelawar malam terdengar semakin berisik. Mereka mengeluarkan suara-suara yang menyayat telinga. Hawa panas masuk ke dalam candi. Aku masih khusuk dalam semediku. Tapi aku tahu, waktu telah tiba.

Tiba-tiba terdengar sebuah langkah kaki memasuki candi ini. Walau suara langkahnya ringan, namun terdengar jelas. Cahaya dari obor memantulkan sebuah bayangan hitam yang terus membesar, hingga akhirnya mengisi seluruh ruang dalam candi ini. Langkah kaki terus mendekat. Lalu berhenti.

Aku membuka kedua mataku.

Suasana menjadi sunyi senyap.

***