Cara Membangun Kritik ke Team

RACHMAT DARDIANSYAH
Nov 3 · 5 min read

Bagaimana cara menjadi bos yang hebat tanpa mengurangi sisi kemanusiaan?

Keterusterangan yang besar akan menghasilkan bos yang baik

Jawab: Keterusterangan yang ekstrem.

Di lingkungan kerja google itu sangat biasa memarah-marahi atasan, Kim Scott sering liat di google untuk cased seperti itu. Satu sisi, Apple yang lebih strict kepada para karyawan nya, beda banget sama yang di pake oleh Google.

Dan, Bagaimana cara menegur tim tetapi juga memberikan impacts, bagaimana tim tersebut mendengar dan membuat perubahan?

Memberikan Impact pada setiap proses kritik yang kita bangun.

Kita ambil cased dari sebuah buku yang ditulis oleh Kim Scott, berjudul Radical Candor: Be a Kickass Boss Without Losing Your Humanity

Diceritakan bahwa Kim Scott, Sandburgh, dan CEO Google Aerik Smith sedang melakukan meeting penting. Adegan Kim Scott menunjukkan angka-angka, Aerik Smith merasa WOW sekali, amazing banget dan sangat memuji-muji dsb.

Presentasi berhasil dilakukan dan diselesaikan dengan sukses, tapi ternyata selesai meeting Sandburgh mengajak meeting ‘lanjutan’ Kim Scott. Dan akhirnya di belakang layar, mereka ketemuan lagi di sebuah kafe.

Dan Sandburgh membuka dengan kalimat seperti ini: “Kamu akan memiliki karir yang cemerlang di Google!”

Kim menilai, Sandburgh melakukan itu untuk menarik perhatiannya. Karena dia punya tiga start up yang gagal, karena itulah yang membuat kim akhirnya tertarik perhatiannya. Dijelaskan oleh Sandburgh, ada tiga hal yang menurut dia karir Kim Scott bakal bagus.

Disini pelajarannya, Kalo kita ingin memberikan pujian, pujilah secara spesifik!

Karena kalo tidak spesifik, tidak dalem, arahnya kemana gatau, itu biasanya lip service aja. Contoh kalo kita kasih pujian,kita spesifikin bagian yang mana yang bagus, apa yang bisa ditingkatkan dsb.

Sandburgh melanjutkan, “Saya banyak belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan dari bosnya.”

Kata kim, “Iya, terimakasih atas pujiannya, tapi saya tau ini ada sesuatu yang salah kan disini?”

Sandburgh melanjutkan, “Kamu kan orang yang sangat fokus untuk melakukan sesuatu agar menjadi lebih baik, aku mengerti, dan aku juga seperti itu, dan kita belajar lebih banyak dari kegagalan dan keberhasilan.”

Sandburgh menjelaskan, “Kamu terlalu banyak bilang emmhhhhh didalam presentasi”

Kim, “Ya, saya tau saya memang seperti itu, emang saya lakukan”

Tapi yang menarik disini, Sandburgh langsung memberikan solusi yang sangat spesifik. THIS THE KEY!

Biasanya kita memberikan kritik tajam ke tim itu cuma kritik saja, tapi kita tau ternyata memang tidak pernah ada solusinya, dsb.

Tapi Sandburgh langsung memberikan solusi yang spesifik untuk Kim berkembang. Kemudian melanjutkan dengan kalimat solusi, ”Mau tidak saya kasih public coach. Google akan membayarnya”

Memberikan solusi dengan spesifik

Misalnya kita gak harus kasih solusinya seperti training premium, sebenernya banyak cara buat kita bisa running hal yang kira-kira bisa bantu mereka seperti buku, video youtube, artikel, dsb.

Jangan sampe gak ngasih solusi!

Kemudian Kim menjawab gini, “Maaf, saya bukannya gugup sebenernya tapi saya ada masalah”. Kemudian Sandburgh menganggap kim sangat resist/defence, akhirnya dia coba lagi.

Kemudian masuk lagi dia dengan kritiknya, “Kamu orang yang sangat pintar yang saya tau betul tentang itu. Dan Banyak mengucapkan emmhh..emmmh akan membuat kamu keliatan bodoh.”

Diulangin lagi dan lagi untuk memberikan solusi seperti itu buat ngeyakinin dia.

Apa pelajarannya?

Sandburgh tidak menghalangi dirinya dalam mengkritik, walaupun hasilnya bagus. Dalam kemajuan sebagai tim, harusnya tidak takut buat kritik walaupun sesukses apapun, kalo kita mikir ini ada yang salah, ya speak up.

Sandburgh disini mengajarkan, “Hasil yang bagus itu tidak boleh menghalangi untuk melakukan kritik/masukan apa yang perlu diperbaiki”. Kalo kita merasa ada yang salah, walaupun lagi bagus, trus kita tidak mau memberikan masukan lagi. Itu salah sih.

Dan Sandburgh melakukan secara langsung, tidak didepan umum. Di ingatkan, diberikan solusi, kemudian dijelaskan secara rinci dan spesifik.

Rasulullah juga menyarankan seperti itu. Kalo menegur itu, tegurlah ditempat sembunyi-sembunyi. Jauh sebelum Sandburgh mengajarkan kita seperti itu.

Sandburgh tidak menutup-nutupi kritiknya diantara pujian-pujian, seperti sandwich yang biasa orang lain lakukan. Pujian Kritik Pujian. Jangan men-sandwich kritikan yang kita suka diantara pujian-pujian. Itu tidak baik. Kalo emang kita bilang dia bagus, ya kita bilang dia bagus. Begitu juga sebaliknya. Selesaikan penjelasan rincimu.

Kaya Sandburgh yang menyelesaikan pujian-pujiannya, diselesaikan duluan semuanya. Jangan ada pujian lagi setelah kita kritik, beresin tuh pujian. Biar apa? Biar tidak bias, dan poin-poin tujuan dari proses kritiknya juga tercapai dan yang paling penting di ingat oleh yang menerima kritik. Kurang baik juga efeknya, cenderung orang akan lupa juga jika kita terlalu banyak memuji-kritik-memuji-kritik dan seterusnya.

Yang harus kita lakukan?

Betul-betul kasih solusinya. Kita harus memberikan kritik secara gentle, lembut, tapi langsung dan detail solusinya.

Contoh lagi, Mas Jaya Setiabudi. Ngomongnya pelan-pelan, tapi kaya bawa tongkat buat mukulin. Marah-marah itu bukan solusi, mending ngomong pelan-pelan tapi berdampak. Ngomongnya ga perlu marah-marah. Orang yang paling berimpact itu orang yang ngomongnya direct. Jadi Goals-mu dalam mengkritik apa?

Kritik yang membangun itu penting, tapi yang lebih penting kritik tersebut betul-betul harus berimpact.

Inget kita itu tidak selamanya memimpin, mungkin aja tim yang kita pimpin sekarang, next ya memang sudah waktunya memimpin. Dan sebagai leaders semua yang kita lakukan menjadi contoh dan inspirasi bagi bawahan anda untuk ke bawahannya lagi.

Kita mau menjadi leader seperti apa? Apa yang ingin kita tanamkan?

Mungkin, apapun yang kita tanam (kerjakan) hari ini akan menjadi caranya mereka (ketika someday menjadi pemimpin) dalam menegur bawahanya nanti. Karena menjadi lebih bijaksana akan selalu menjadi hal paling penting dalam menghadapi segala situasi. Demikian, Terima Kasih. #Cheers #KeepLearning #KeepSharing #DoIt

Narasi: Rachmat Dardiansyah

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade