About (institutional) data management

Assalamu’alaikum wrwb. Selamat pagi rekan.

Post ini berawal dari situs Simlitabmas Dikti. Biasanya saya post di blog Wordpress saya, tapi karena pagi ini “lemot” sekali, maka kali ini saya post di akun Medium saya.

Research platform must include raw data subsystem. Ini karena riset tidak lepas dari data life cycle (lihat gambar berikut).
dipinjam dari situs Joint Information Systems CommitteeUK (https://goo.gl/JwuXnb)

Baru saja saya membuat entry pertama log book di situs tersebut. Platform sisfo ini sebenarnya bisa ditiru di tingkat perguruan tinggi, contoh di ITB ada Sistem Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (SIPPM). Sisfo yang sudah lumayan berumur ini terbilang lengkap dengan menyediakan menu sejak perencanaan (pembuatan proposal), proses (penulisan log book), output (penyusunan laporan). Namun demikian, bilamana memungkinan ada usulan saya, yang sekaligus juga dapat diaplikasikan di sisfo sejenis di tingkat perguruan tinggi, yakni penambahan satu fasilitas lagi untuk mengunggah data mentah (raw dataset). Opsi ini dikenal sebagai data management yang selengkapnya terdiri dari:

  • pengunggahan dan penyuntingan data (data uploading and editing)
  • “penempelan” doi (doi labeling)
  • penghitungan view, read, cite (document impact metric)
Data is citeable. Seperti halnya makalah yang dimuat di jurnal atau dipresentasikan di seminar, data juga dapat dirujuk.

Dataset hasil riset dilengkapi deskripsi singkat identitas data, kapan diambil, bagaimana cara pengambilannya saat ini disebut sebagai “data paper”. Makalah jenis ini “citeable” (dapat disitasi), sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah sitasi. Apalagi bila situs Simlitabmas dapat memfasilitasi dengan label digital object identifier (DOI). No doi ini ibarat NIP PNS yang merujuk kepada satu dokumen tertentu di dunia maya. Tidak mungkin tertukar.

Setting up doc id with doi is the 2nd thing to do. Setelah menunggah dokumen secara online ke dunia maya, selanjutnya pastikan ada doi khusus yang merujuk kepada dokumen tersebut.

Bila data dapat dibagi-pakaikan, maka riset ibu dan bapak akan terus meningkat nilainya. Data dapat digunakan dan dianalisis ulang untuk keperluan riset lainnya oleh peneliti lainnya. Dari sisi “Rp” biaya riset akan terasa murah karena lebih banyak lagi peneliti DN bahkan LN yang memanfaatkannya. Era #openscience adan #opendata terus melaju kencang.

Bila ada waktu luang, silahkan cek ke beberapa repo data gratis sbb:

Bila rekan-rekan ada yang memiliki akun di ResearchGate (RG), saya anjurkan untuk terus memprebarui profilnya. Walaupun RG sebenarnya dibuat sebagai jejaring pertemanan untuk kalangan ilmuwan (bukan repo data yang sesungguhnya), para rekan dapat memanfaatkan menu khusus untuk mengunggah “dataset”. Lain halnya dengan tiga repositori yang saya sebut sebelumnya yang menempelkan kode doi secara langsung kepada file data, RG hanya menyediakan doi untuk dokumen berjenis full paper. Jadi tips saya, dataset dapat diunggah sebagai bagian dari full paper ibu dan bapak sekalian agar mendapatkan kode doi (link to my RG acc).

Sebagai penutup dapat saya sampaikan kembali tiga butir penting artikel ini:

  • data adalah bagian dari riset yang juga harus diukur dampaknya,
  • data adalah komponen yang dapat dirujuk, sebagaimana makalah ilmiah,
  • mengunggah data mentah adalah bagian dari best (recommended) practice di dunia saintifik.

Demikian secuil informasi yang saya ketahui. Mohon pendapat dan masukannya.

Salam, Erwin

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.