To Indonesian academia: stop using those index for quality benchmark
Post medium saya ini ditulis untuk menjawab keresahan di kalangan dosen dan peneliti mengenai penggunaan Scopus index dan yang lainnya (misal: Thomson Reuters) secara berlebihan.
Saran saya buat rekan-rekan dosen dan peneliti yth adalah: terus menulis dalam Bhs Indonesia (dan dalam Bhs Inggris) akan lebih baik.
Scopus, Thomson Reuters, keduanya hanya lembaga pengindeks berbayar. Yang tidak ada dalam dalam daftar mereka belum tentu jelek dan yang ada di dalamnya tidak semuanya bagus. Yang dimaksud bagus dan jeleknya pun, sebenarnya adalah praktek penanganan naskah oleh redaksi jurnal, apakah sesuai dengan kaidah akademik atau tidak. Sama sekali bukan mengenai kualitas dari makalah bahkan kepakaran sang penulis. Gunakan jg indeks DOAJ dan Sherpa Romeo yang diakui oleh komunitas #OpenScience secara luas.
Saran saya untuk ibu dan bapak yang sedang menjabat di Dikti dan berbagai universitas, “Please stop using scientific index for quality benchmark! Why? Simply because they’re not”.
Baca juga blog post saya ini.
Ps: sekali-sekali pakai tanda seru