“A-li-e-na-si”: Kritik Marxis terhadap Apa Yang Kau Sebut Sebagai “Kehidupan” Mahasiswa Modern

Siapa bilang analisis Marxis tidak lagi relevan dalam kehidupan modern? Tentu saja masih! Draf tulisan Marx muda misalnya, yang terkumpulkan dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, menjabarkan kritik terhadap asumsi-asumsi ekonomi-politik yang taken for granted — seperti alienasi pekerja, dikotomi kelas, ketimpangan sosial, dan kompetisi pasar. Meski sekilas terkesan kuno, gagasan alienasi (keterasingan) manusia sebagai konsekuensi kapitalisme nyatanya masih relevan dalam kehidupan modern kita — “kita”, dalam artian pelajar dan akademisi. Ya, tulisan ini akan berupaya membahas fenomena keterasingan dalam dunia akademik modern. Semoga upaya saya menulis artikel ini bermanfaat — sadarlah, kamu para mahasiswa seluruh dunia!


Sebelum membahas manifestasi nyatanya, mari kita bahas teorinya terlebih dahulu. Dalam sistem kapitalistik, Marx mengatakan bahwa kemalangan nasib pekerja disebabkan oleh keterasingannya dari esensi manusianya (wesen). Keterasingan ini, disebut Marx sebagai entfremdung/entäusserung, terjadi dalam tiga fenomena yang tumpang-tindih: 1) keterasingan pekerja sebagai kreator dari produk kerjanya; 2) aksi produksi itu sendiri sebagai alienasi aktif terhadap pekerja; dan 3) keterasingan pekerja dari lingkungan sekitarnya — ketiganya akan saya jelaskan secara mendetail di bagian selanjutnya.¹

Pertama, keterasingan pekerja dari hasil kerjanya terjadi karena proses realisasi kerja yang mengharuskan “objektifikasi” nilai kerja dalam produk yang dihasilkan. Marx menjelaskan bahwa proses objektifikasi ini memberikan power terhadap produk kerja, dengan konsekuensi berkurangnya power bagi produsen kerja itu sendiri; alias pekerja.² Dalam sistem kapitalistik, transfer power ini terjadi dalam taraf yang luar biasa — sampai-sampai pekerja yang seharusnya berkuasa atas hasil kerjanya justru “diperbudak” oleh produk tersebut. Ketimpangan kuasa antara produsen-produk tersebut menyebabkan hasil kerja menjadi sesuatu yang other/alien bagi pekerjanya.³ Dengan demikian, muncullah relasi paradoks: semakin besarnya nilai komoditas yang dihasilkan seorang pekerja, semakin tereduksi pula nilai dirinya. Proses produksi komoditas, di saat yang sama, turut mendorong komodifikasi pekerja yang menghasilkan komoditas itu sendiri.⁴ Bagi Marx, konsekuensi nyata dari sistem feedback-loop ini adalah keterasingan manusia dari esensi hidupnya — mengingat Marx beranggapan bahwa makna hidup manusia ditemukan melalui realisasi potensi kerja sesuai dengan aspirasi individualnya.⁵ Ketika kerja justru membuat manusia menghamba terhadap produk kerjanya, tentunya aktualisasi diri akan menjadi mustahil.

Kedua, keterasingan terjadi karena dalam sistem kapitalistik, aksi kerja itu sendiri adalah alienasi aktif terhadap pekerjanya. Kapitalisme menyebabkan kerja menjadi berada di luar esensi manusia; ia menjadi aktivitas yang tidak alami, serta memerlukan pengorbanan fisik dan mental yang luar biasa.⁶ Sederhananya, hal ini nampak dalam separasi siklus life-work yang ditemui dalam pola hidup pekerja. Dalam tataran yang lebih filosofis, Marx menginterpretasikan fenomena ini sebagai pertanda reduksi species-life menjadi individual-life; dicirikan dengan bagaimana aktivitas manusiawi didefinisikan bukan lagi sebagai aktivitas kerja, melainkan sebagai aktivitas hewani yang bertujuan untuk bertahan hidup — semisal konsumsi makanan, tidur, dan prokreasi.⁷ Marx menyebutkan bahwa konsekuensi reduksi species-life ini adalah keterasingan tiap manusia dari manusia lain.⁸ Lebih pentingnya, kapitalisme membuat agensi manusia untuk memilih kerja yang paripurna, daripada kebutuhan hewani yang lebih mendasar tadi, hilang. Mengapa bisa demikian? Dalam sistem kapitalistik, kebutuhan hidup pekerja hanya bisa terpenuhi melalui gaji sebagai imbalan bekerja. Dengan demikian, pekerja yang ingin menjamin keberlangsungan hidupnya — dan generasi pekerja mendatang — harus bekerja, meski aktivitas kerja yang ia lakukan sebatas hanya untuk bertahan hidup.⁹

Ketiga, keterasingan pekerja dari lingkungan sekitarnya terjadi karena relasi keduanya bukan lagi harmonis, melainkan bermusuhan. Argumen ini didasarkan dari pemikiran Marx, yang mengkonsepsikan alam sebagai sebagai ekstensi inorganik tubuh manusia. Pemikiran ini didasari peran ganda alam, baik sebagai penyedia obyek yang bisa diolah melalui kerja — alias penyedia instrumen realisasi potensi manusia, serta pemberi kebutuhan dasar manusia — seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya.¹⁰ Di samping itu, relasi antara manusia dan alam seharusnya berjalan dialektis: manusia mengambil, dan sebagai gantinya memberi kembali ke alam.¹¹ Ketika seorang pekerja memberikan kerjanya ke dalam roda kapitalisme, ia otomatis akan kehilangan “klaim” atas alam — baik dalam kapasitasnya sebagai penyedia obyek kerja maupun pemberi kebutuhan hidup. Ia juga akan berhenti merestorasi alam, dan tidak berkuasa menghentikan kapitalisme mengeksploitasi alam sebesar-besarnya.¹² Sebagai konsekuensinya, relasi antara pekerja tersebut dengan alam akan retak — sehingga dialog antara manusia dan alam tidak lagi berjalan dengan seimbang.

Kemudian, dari ketiga fenomena keterasingan tersebut, siapakah yang bertanggungjawab? Marx berpendapat bahwa lingkaran setan ini bisa ditelusuri hingga ke tangan para pemilik modal, atau kapitalis/bourgeoisie. Ketimpangan alienasi yang dialami pekerja dan kapitalis menyebabkan keduanya berada di dua kutub sosio-ekonomi yang berseberangan — hal inilah yang mendasari konsep dikotomi kelas Marx.¹³ Dari perspektif kelas pekerja, sistem kapitalistik hanya berperan sebagai struktur opresif sekaligus pencipta paradoks: semakin banyaknya nilai yang diproduksi pekerja, justru semakin tidak bernilailah ia; dan semakin ia bekerja keras, semakin timpang pulalah relasi antara kelas pekerja dan kelas kapitalis.¹⁴


Lantas, apakah teori alienasi masih dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari kita? Ya, bahkan teori ini menjadi teori yang tepat untuk menjelaskan keterasingan berlapis-lapis yang kita alami sebagai mahasiswa. Relevansi ini didasari fakta bahwa sistem edukasi modern semakin “dicemari” oleh kapitalisme. Kapitalisasi ini nampak dari bagaimana institusi pendidikan menjadi terkomodifikasi — dengan konsekuensi tereduksinya makna mengajar-belajar menjadi sekedar alat produksi baru, dengan dua tujuan utama: 1) mempersiapkan pelajar sebagai pekerja, serta 2) menghasilkan uang. Mahasiswa bukan lagi berperan sebagai pelajar, melainkan sebagai “pelanggan”: mereka dimanjakan dengan kurikulum minim tantangan yang didesain untuk mempersiapkan mereka terhadap dunia kerja — bukannya menantang dan mengeksplorasi potensi pribadi mereka, sesuai makna pembelajaran yang sesungguhnya: memanusiakan manusia. Sebagai balasannya, “pelanggan” ini harus membayar sejumlah uang sekolah yang jelas-jelas menunjukkan motif sekunder institusi pendidikan: alat penghasil kapital.

Konsekuensinya, pendidikan tinggi menjadi suatu komoditas yang hanya dapat diakses kelas menengah ke atas; ditambah lagi dengan faktor mahalnya investasi yang harus dibayarkan sekedar untuk dapat diterima di universitas. Sederhananya, seseorang harus terlebih dahulu membayar biaya pendidikan formal dari TK, SD, SMP, SMA; ditambah pendidikan informal seperti kursus persiapan ujian nasional — belum lagi dengan segala uba rampainya, seperti buku, seragam, alat tulis, dan lain-lain. Memang, tindakan afirmatif serupa beasiswa telah diberikan oleh universitas bekerjasama dengan organisasi eksternal — tapi tentunya aksesibilitas beasiswa ini terhadap mereka yang benar-benar membutuhkan masih dapat diperdebatkan. Proposal memprogramkan universitas yang lebih aksesibel tentunya akan terhalang dorongan kapitalistik institusi pendidikan sebagai penghasil kapital, seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Situasi serupa juga terjadi di kalangan pengajar, dimana adanya insentif terhadap riset akademik menciptakan dorongan untuk meninggalkan kelas demi proyek yang lebih menguntungkan — saya percaya insentif ini telah memikat beberapa dosen di fakultas saya pribadi. Pendek kata, dapat disimpulkan bahwa kapitalisasi pendidikan nampak dari bagaimana struktur insentif yang menggerakkan roda-rodanya bias terhadap makna sejati edukasi, dan justru memaknainya sebagai alat penghasil uang semata.


Dalam pendidikan yang kapitalistik tersebut, bagian selanjutnya hendak menelusuri bagaimana esensi hidup individual — atau pelajar — dapat tereduksi dari makna sejatinya sebagai manusia (atau wesen-nya). Saya harap kamu dapat merefleksikan bagian ini dalam pengalaman hidup sehari-harimu.

Pertama, pendidikan tinggi yang memaknai edukasi sekedar sebagai proses “persiapan dunia kerja” riskan mengobjektifikasi maknanya, serta mengasingkan pelajar dari esensi kerja yang ia lakukan: belajar. Keberhasilan pembelajaran, yang seharusnya didefinisikan sebagai eksplorasi potensi sesuai dengan aspirasi individual, tereduksi dalam parameter-parameter kesuksesan dalam dunia kerja: aptitude dalam melahap materi, menjawab soal, berkompetisi, berjejaring, dan lain sebagainya. Pembacaan yang lebih sempit mengkritik bagaimana keberhasilan pembelajaran itu sendiri diukur — melalui sistem nilai yang dihasilkan dari serangkaian tugas dan ujian; ia tidak mengukur bagaimana pelajar yang bersangkutan berproses menjadi lebih dewasa, lebih “manusiawi”, di balik evaluasi superfisial tersebut. Agensi pelajar untuk mengerjakan potensinya sesuai dengan kemauannya direnggut, dan ia dipaksa berlari dalam rat race demi mengejar slot lain dalam dunia kerja. Hal ini menyebabkan keterasingan dirinya dari esensi dirinya sebagai pembelajar, dan justru menyebabkan dirinya “diperbudak” oleh parameter keterampilan kerja yang dijelaskan sebelumnya. Banyak dari teman saya pribadi sesama mahasiswa yang terlalu fokus mendapatkan IPK yang sempurna, memenuhi curriculum vitae, berlomba atau menjadi panitia di berbagai ajang, berjejaring “profesional” dalam berbagai organisasi — sampai-sampai mereka lupa untuk mengembangkan diri mereka menjadi manusia yang lebih utuh, melalui eksplorasi minat yang mereka benar-benar sukai. Bagi mereka, mungkin end-goal pendidikan adalah bekerja, bukan memanusiakan diri sendiri.

Kedua, pemaknaan sempit pembelajaran tersebut membingkai proses belajar itu sendiri sebagai alienasi aktif terhadap pelajar. Belajar menjadi sesuatu yang “eksternal”, tidak alami; ia membutuhkan pengorbanan fisik dan mental yang luar biasa. Contoh sederhananya? Simpel, kamu harus mengumpulkan motivasi dan tenaga terlebih dahulu untuk sekedar mengerjakan tugas atau belajar. Aktivitas belajar tidak lagi menarik, karena ia tidak lagi berkaitan dengan minat dan potensi pribadi kita — dan justru berorientasi hanya untuk mengembangkan keterampilan kerja. Dalam kehidupan saya dan kamu, dikotomi work-life menjadi dominan: kehidupan sesungguhnya hanya akan mulai ketika aktivitas belajar selesai. Seperti yang Marx katakan, hal ini menyebabkan alienasi sosial kita dari satu sama lain. Meski keterasingan akibat mis-edukasi ini begitu menyiksa, kita tidak dapat terlepas darinya; mengingat pendidikan tinggi adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk mendapatkan gaji yang dapat membiayai kebutuhan hidup di masa mendatang. Melarikan diri dari sistem opresif ini berarti menyia-nyiakan previlese yang kamu miliki demi masa depan yang tidak pasti.

Sayangnya, pembunuhan pikiran kreatif bukanlah satu-satunya konsekuensi dari keterasingan ganda ini. Dalam lingkungan universitas ranking atas, mayoritas pelajar terbiasa sukses — sampai-sampai sedikit prospek kegagalan saja menghantui mereka.¹⁵ Akibatnya, mereka selalu berupaya doing perfect dalam setiap parameter kesukesan dunia kerja yang telah saya jelaskan. Contohnya sangat sederhana: berapa dari mahasiswa yang kamu kenal, yang berupaya mendapatkan nilai sempurna setiap kali ujian semester? Masalah ini diperkuat oleh tekanan sosial yang mendorong perilaku perfeksionis dan risk-averse, serta pelabelan mereka yang benar-benar mengejar potensi pribadinya sebagai outcasts.¹⁶ Tentunya, tingginya dorongan sukses ini berdampak negatif terhadap kesehatan mental pelajar — survei dari University of California di Los Angeles menunjukkan bahwa tingkat kesehatan emosional mahasiswa di Amerika Serikat ada di level terendahnya selama tiga puluh tahun belakangan¹⁷ (survei setara, sayangnya, belum dapat ditemui di Indonesia). Tidak hanya itu, muncullah konsekuensi lain berupa bagaimana pendidikan tinggi memproduksi lulusan yang cerdas — tetapi kehilangan sense of purpose dan minim pengembangan pribadi.¹⁸ Pemuda-pemudi ini memiliki kapabilitas otak yang mumpuni, etos kerja yang berkualitas, namun tidak punya gagasan apapun yang akan ia kerjakan selanjutnya — dan tidak berkuasa untuk membebaskan diri dari assigned roles dalam kapitalisme.

Pada akhirnya, saya ingin menutup artikel ini dengan sedikit refleksi. Apabila kita mengukur keberhasilan pendidikan tinggi dari kesuksesannya memproduksi pekerja dalam sistem kapitalistik, tentu apa yang kita lakukan selama ini dapat dikatakan berhasil. Namun, tanyakanlah ini pada dirimu sendiri: apakah pantas kita membayar kesuksesan tersebut dengan siksaan berupa alienasi seumur hidup?


Karya lain yang dikutip

[1] Karl Marx dan Friedrich Engels, Economic And Philosophic Manuscripts Of 1844, edisi pertama. (Moscow: Foreign Languages Publishing House, 1961).

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Allen W. Wood, Karl Marx, edisi pertama. (Hoboken: Taylor and Francis, 2013).

[6] Karl Marx dan Friedrich Engels, Economic And Philosophic Manuscripts Of 1844.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Allen W. Wood, Karl Marx.

[10] Karl Marx dan Friedrich Engels, Economic And Philosophic Manuscripts Of 1844.

[11] John Bellamy Foster, Marx’s Ecology: Materialism And Nature, edisi pertama. (New York: Monthly Review Press, 2000).

[12] Ibid.

[13] Karl Marx dan Friedrich Engels, Economic And Philosophic Manuscripts Of 1844.

[14] Ibid.

[15] William Deresiewicz, “Don’t Send Your Kid To The Ivy League”, Newrepublic.com, modifikasi terakhir 2017, diakses 1 Desember, 2017, https://newrepublic.com/article/118747/ivy-league-schools-are-overrated-send-your-kids-elsewhere.

[16] Ibid.

[17] Jessica Glenza, “More US College Freshmen ‘Depressed’ Than At Any Time In The Past 30 Years”, Theguardian.com, modifikasi terakhir 2017, diakses 1 Desember, 2017, https://www.theguardian.com/education/2015/feb/05/college-freshmen-emotional-wellbeing-depression.

[18] William Deresiewicz, “Don’t Send Your Kid To The Ivy League”