Di sebuah ruang kosong aku menangkap sebuah pola penuh warna kelabu bertaburan dengan aroma pohon cemara. Aroma semacam ini yang dulu pernah kujumpai setiap pagi di sebuah tempat dimana ada banyak tawa anak-anak yang berkeliaran memenuhi angkasa, berdampingan dengan kabut tipis pegunungan. Mereka, sekumpulan anak lelaki yang dilahirkan dari kesejatian diantara sinar mentari pagi yang pemalu. Masing-masing diantara mereka dikaruniai jiwa yang lepas. Semesta mengijinkan mereka untuk terbang bebas di angkasa. Dan membenamkan tubuh mungil mereka ke dalam awan-awan. Bagi mereka, bumi ini adalah taman bermain dan juga ruang keluarga. Setiap malam di pelataran sebuah gedung perkantoran yang lusuh. Anak-anak ini akan menyalakan api unggun, kemudian mereka bercakap-cakap bahkan ketika malam mulai terlelap. Dan di sepanjang pagi sampai sore hari, sebelum senja menampakkan diri. Mereka merajut kehidupan dengan penuh kerelaan. Mendampingi semesta menghabiskan waktu. Mencatat kisah-kisah manis, dan juga menaburkan sedikit kebahagiaan di antara rintik-rintik hujan.

Aku masih menatap ruang kosong yang sunyi ini. Kupejamkan mataku, kubiarkan kisah anak-anak periang ini tinggal di kepalaku. Kemudian, kubiarkan Tuhan menaruh hujan di kedua bola mataku.

Bandungan, 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated David Edwin Stefandi’s story.