Menyusuri jalan yang telah berpeluh lelah. Aku berhenti pada sebuah kedai makan yang terletak setelah belokan kedua di samping pohon yang selalu menengadah ke langit itu. Kedai makan ini sebuah ruangan yang sempit, dengan dinding yang sudah renta. Atap bangunan yang selalu mengeluh sepanjang hujan tiba.

Aku bertemu dua orang senja, Laki-laki dengan kacamata yang setia berpelukan dengan daun telinganya. Dan seorang lagi, perempuan dengan guratan wajah yang lelah. Aku duduk disebuah kursi plastik, dengan meja persegi panjang yang terbuat dari kayu yang nampak muram. Meja yang terletak paling depan diantara barisan meja-meja yang lain. Mungkin meja ini adalah seorang pemimpin.

Kukatakan pesananku pada lelaki tua itu. Semangkuk mie rebus. Disebelah kananku terdapat jendela kaca yang buram. Kulihat embun-embun berkejaran menuruni jendela itu, smentara dibalik jendela nampak sebuah jalan raya yang sunyi. Sepertinya jalan itu merindukan sebuah pijakan kaki. Entah lemah atau pasrah, aku bisa mendengar tangisan mengiba dari ujung jalan.

Pesananku belum juga datang. Kuamati lagi pemandangan di balik jendela kedai makan ini. Persis di depan kedai ini, diseberang jalan nampak sebuah bangunan bekas kantor polisi yang telah lama dikosongkan. Aku bisa merasakan betapa kesepiannya bangunan itu. Jendela yang selalu mengintip mengharapkan mata seseorang menatapnya. Pintu-pintu yang pilu betapa berharap ada tangan seseorang yang akan mendekap daun pintu, kemudian melangkahkan kaki, menyapa lantai yang dingin. Dan sepasang tangan akan merengkuh tembok-tembok yang merana dengan seutas senyum.

Lamunanku terhenti, ketika kudengar suara rapuh dari seorang wanita tua di hadapanku. Istri pemilik kedai membawakan pesananku. Semangkuk mie rebus yang akan segera bercinta dengan lambungku. Malam ini, setelah langit menumpahkan kesedihannya. Meninggalkan sedikit duka di jalanan depan kedai ini, aku menoleh sejenak ke arah jendela di sebelahku. Disana kulihat wajahmu yang sedang tersenyum, kemudian berkata lirih, "Pulang, dan makanlah semangkuk mie rebus buatanku, sebelum mereka menutup peti jenazahku."

Bandungan, 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated David Edwin Stefandi’s story.