Menyulitkan Diri Sendiri: Mengapa Saya Memilih Berkomuter

Kita sering menganggap pemerintahan di Indonesia memiliki moto “Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?”. Lucunya, saya sendiri terkadang mempersulit hidup saya dengan sengaja. Salah satunya adalah dalam hal memilih tempat tinggal.

Sejak Februari kemarin, saya memutuskan untuk kembali ke rumah orang tua saya di Harapan Indah setelah enam bulan tinggal di kos dekat kantor saya. Sebuah keputusan yang sulit dipahami banyak orang, sekalipun beberapa teman kantor saya juga melakukannya.

Pada awalnya, saya merasa kalau tujuan utama saya untuk tinggal di kos tidak tercapai. Saya awalnya tinggal di kos supaya dekat dari kantor, yang harapannya bisa menambah waktu di luar jam kerja yang bisa digunakan untuk melakukan hal lain; misalnya untuk belajar, bermain, atau membaca buku. Tetapi pada kenyataannya, waktu itu sering tidak didapat. Saya jadi sering berlama-lama di kantor untuk nongkrong dengan kolega karena saya merasa saya punya banyak waktu. Jikalau saya punya waktu cukup banyak, kasur kos akan membuat saya cepat tertidur sekalipun malam masih panjang.

Maka setelah tujuan itu tidak tercapai, pilihan saya adalah untuk bertahan di kondisi sekarang (tetap tinggal di kos) atau kembali ke kondisi lalu (tinggal di rumah orang tua) dan mencoba mencari celah untuk mengurangi ketidaknyamanan yang ada. Saya kemudian memilih opsi kedua. Saya memilih untuk kembali berkomuter setiap hari ke kantor.

Tetapi di samping alasan di atas, bagi saya pribadi ada beberapa alasan lain untuk menjelaskan mengapa saya memilih untuk kembali berkomuter untuk kegiatan sehari-hari:

Menghindari hidup yang datar-datar saja

Ini aneh. Orang berlomba-lomba mencari hidup nyaman, saya malah tidak mau karena merasa hidup nyaman terkadang terlalu datar. Tetapi alasan ini jugalah yang dulu menjadi salah satu alasan saya kembali dari Singapura ke Jakarta. Saya tidak suka hidup yang begitu-begitu saja setiap hari.

Lalu mungkin ada yang berkata, “Gimana gak begitu-begitu aja, Vid? Lo kerja setiap hari di tempat yang sama. Melakukan hal yang kurang lebih sama. Jam kerja yang sama. Memang akan menjadi rutinitas kan?”

Betul.

Aktivitas saya di satu jam pertama setelah saya bangun selalu sama. Saya berangkat pagi di jam yang kurang lebih sama. Pekerjaan yang tadi sudah disinggung, juga merupakan rutinitas harian. Banyak komponen hari saya yang memang didesain untuk menjadi rutinitas.

Justru itulah berkomuter menjadi penting. Berkomuter di Jakarta memberi ruang untuk ketidakpastian menjadi bagian dari hari saya. Ketidakpastian ini yang dapat menciptakan riak-riak di hari saya yang akan datar tanpanya (yah elah kok kesannya jadi kayak romantis begini).

Sebagai AnKer alias anak kereta Jalur Bekasi, ada banyak komponen ketidakpastian di dalam perjalanan saya. Apakah saya keburu mengejar kereta, sampai kapan kereta saya mesti ngetem menunggu disusul kereta jarak jauh, atau sampai kapan kereta saya harus menunggu selesai “pergantian jalur” sebelum bisa masuk stasiun.

Lalu apa yang didapat dengan ketidakpastian itu? Yuk lanjut dulu aja bacanya…

Melatih mental

Berkomuter di Jakarta, selain penuh dengan ketidakpastian, juga penuh dengan tantangan. Sesuai dengan pepatah banyak orang “Jakarta itu keras!”

Ada banyak tantangan kalau naik CommuterLine, terutama di jam sibuk. Mulai dari masuk keluar kereta yang mungkin setengah mati, di dalam kereta kadang kita merasa seperti ikan pepes, lalu menunggu kereta disusul, dan tantangan lainnya.

Sementara itu, saya kehilangan tantangan diatas ketika saya tinggal di kos. Semua lancar-lancar saja karena saya hanya perlu jalan kaki sepuluh menit dari kos ke kantor. Setiap hari seperti itu.

Buat saya, tantangan dalam berkomuter ini melatih mental saya. Menempa mental saya untuk sabar dan tahan banting ditengah ketidaknyamanan yang ada. Melatih saya untuk lebih peka terhadap situasi di sekitar saya. Pisau sekalipun sudah diasah, pada akhirnya tetap perlu diasah supaya tetap tajam; maka sekalipun saya nyaman secara ekonomi, saya tetap memilih berkomuter untuk “mengasah” kemampuan tahan banting saya.

Melatih kreativitas

Batasan sering kali menyebabkan kita menjadi kreatif. Dalam konteks berkomuter kita pun menemukan batasan, misalnya kita hanya bisa mengikuti jadwal keberangkatan yang sudah ditentukan atau kita hanya bisa keluar stasiun dari pintu yang sudah disediakan. Nah dengan batasan-batasan yang ada, secara tidak sadar saya dituntut untuk kreatif. Misalnya? Banyak.

Perjalanan dari Kranji ke Gondangdia seminimalnya membutuhkan waktu 35 menit sekali jalan. Ada waktu yang jika tidak digunakan akan terbuang sia-sia. Jadi saya berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk mengisi waktu yang ada di sepanjang perjalanan. Dan hasilnya, setiap harinya perjalanan kereta saya diisi dengan bermain flashcard bahasa asing atau membaca Kindle/Blinkist.

Lalu dengan limitasi yang ada, saya ingin mencoba meminimalkan waktu tempuh keseluruhan. Maka kemudian saya mencari tahu jadwal keberangkatan kereta dari stasiun awal, lalu menghitung durasi waktu tempuh dari titik awal ke stasiun, dan disesuaikan supaya waktu tunggu di stasiun berkurang. Saya kemudian berpikir lebih jauh lagi sampai ke menentukan jadwal CommuterLine ke Bekasi mana yang memiliki waktu tempuh terpendek berdasarkan jadwal keberangkatan kereta jarak jauh di Gambir/Senen dan juga menentukan gerbong mana yang harus saya naiki berdasarkan pintu keluar di stasiun tujuan.

Ya, menurut saya kreativitas saya cukup terlatih dengan perjalanan harian ini.

Memaksakan adanya waktu bengong

Ini mungkin alasan teraneh dalam tulisan ini.

Tetapi saya baru menyadari kalau saya perlu waktu bengong setiap harinya setelah saya tinggal di kos, dimana saya tidak pernah bisa bengong karena selalu ada saja gangguan dari gawai atau hal-hal lainnya.

Ketika saya berkomuter, saya mempunyai sekitar 45 menit waktu di ojek per hari dimana satu-satunya hal yang saya bisa lakukan (kecuali kalau diajak berbicara sama pengemudinya) adalah bengong.

Kenapa saya perlu waktu bengong ini? Karena ketika saya bengong, otak saya akan mencari topik apapun untuk dipikirkan supaya tidak bosan. Di sinilah pikiran saya mendapatkan kesempatan untuk melayang kemana-mana, mengeksplorasi hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Pikiran saya masuk ke mode difusi. Tidak jarang saya terpikir akan suatu hal penting yang seharusnya saya kerjakan di kantor ketika saya bengong. Siapa tau kalau bengong di ojek adalah versi Jakarta 2018 dari bengong di bawah pohon apel ala Isaac Newton tahun 1687 ketika dia menemukan hukum gravitasi.

Membuka mata akan kondisi Jakarta yang nyata

Sebagai kelas menengah Jakarta yang bekerja di perkantoran dan hidup dari mal ke mal, mudah sekali untuk berada di dalam kesan bahwa Jakarta kini sudah megah.

Betul, Jakarta memang sudah semakin maju. Tetapi daerah-daerah kumuh masih dapat dijumpai di banyak tempat di Jakarta. Daerah ini seringkali tidak terlihat dari jalanan karena tersembunyi di balik ruko atau bangunan apapun, namun banyak sekali yang berada di sepanjang rel CommuterLine. Berkomuter membuat saya menemukan pemandangan rumah-rumah kumuh di sepanjang perjalanan atau mendengarkan lagu dangdut ketika sedang menuju Stasiun Jatinegara di malam hari.

Bagi saya pribadi, pemandangan ini menjadi pengingat kalau pekerjaan rumah kita masih banyak untuk menciptakan keadilan sosial itu. Bahwa salah satu beban yang harus saya pikirkan adalah, “apa yang bisa saya lakukan supaya orang-orang ini bisa mempunyai kehidupan yang layak?”. Saya menjadi terus menerus diingatkan kalau perjalanan saya — atau mungkin kita semua — masih panjang.

Written by

A curious learner and hopefully a good thinker. Product Manager @Traveloka, NTU Singapore and SMAK 1 Jakarta alumnus.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade