Merasakan Energi Asia

Saya sempat menulis bahwa salah satu alasan saya kembali ke Jakarta adalah karena menurut saya Jakarta lebih menggairahkan ketimbang Singapura. Jakarta, dengan kesemrawutan yang ada, terasa lebih hidup dan berenergi. Saya merasakan hal tersebut setiap kali berlibur ke Jakarta di saat libur semester.

Namun, setelah setahun kembali, saya harus jujur kalau saya tidak terlalu merasakan energi yang saya rasa ada di Jakarta. Sejauh ini terasa sama saja dengan Singapura. Mungkin ini memang aslinya Jakarta dan saya baru merasakan sepenuhnya ketika saya benar-benar tinggal dan hidup di Jakarta. Atau saya yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak sadar dengan bagian-bagian lain Jakarta yang tidak tersentuh keseharian saya. Saya tidak paham. Yang pasti, terkadang saya merasa energi itu kini tidak ada.

Tentu saya bisa mencoba mencari jawaban mengapa apa yang saya rasa ada itu ternyata tidak ada. Salah satu kemungkinannya adalah Pilkada Jakarta 2017 yang memecah belah masyarakat Jakarta dan membuat Jakarta terasa berbeda dari sebelumnya. Ketika kita membuka media sosial, sulit sekali untuk tidak menemukan konten bertemakan pertengkaran antara cebong dan kampret. Hhhh. Saya harus akui bahwa saya pun terkadang terpancing untuk ikut serta membahas hal-hal politik yang tidak perlu. Mungkin energi yang dulu saya rasakan terbuang dengan sia-sia oleh polarisasi politik ini.

Tetapi kalau boleh jujur, dengan mengesampingkan pilihan politik, selama setahun bekerja saya belum lagi merasakan adanya perubahan berarti di Jakarta. Jikalau dulu setiap kali saya pulang saya selalu terkesan dengan perbaikan layanan Transjakarta yang jauh lebih baik dari zaman saya SMA dulu, kini yang setiap hari saya lihat adalah daerah Tanah Abang yang semakin semrawut. Kalau dipikir, mungkin energi itu muncul dari adanya perubahan dan dari perubahan itu muncul harapan untuk masa depan yang lebih baik; dan saya belum merasakan perubahan yang menghasilkan harapan sejauh ini.

Kemudian datanglah Asian Games 2018, yang dengan berani mentemakan diri sebagai “Energi Asia”. Saya merasa akan banyak yang berpikir “buset pede amat merasa diri sebagai energi Asia”. Tapi bagi saya pribadi, tema ini menjadi sangat menarik karena disini saya harap saya bisa melihat apakah energi itu — yang saya ingin rasakan — benar-benar ada.

Pada awalnya saya merasa Asian Games tidak akan mencapai level animo yang ditargetkan. Kita sempat tahu kalau pada awalnya desain logo dan maskot Asian Games 2018 termasuk jelek. Kemudian beberapa bulan sebelum ini spanduk-spanduk yang bertebaran di jalanan hanyalah “Sukseskan Asian Games 2018” yang kadang disertai foto pejabat manapun, seakan-akan acara ini hanya akan menjadi media mereka untuk cari panggung. Ketika seharusnya yang menjadi protagonis adalah para atlet untuk menambah rasa penasaran, kita malah disuguhkan dengan atraksi para pejabat yang sudah tidak asing. Baru beberapa minggu jelang Asian Games saya baru mulai mengetahui target yang kita canangkan dan melihat wajah-wajah para atlet muncul di jalanan.

Hari-hari awal menjelang pembukaan Asian Games pun tidak banyak berita positif yang muncul. Yang ada malah berita negatif seperti Kali Item di depan Wisma Atlet yang bau. Saya sendiri mengalami sistem pembelian dan penukaran tiket yang kacau ketika ingin menyaksikan pertandingan sepakbola Taiwan vs Indonesia; dimana kategori tiket berubah tiba-tiba, tiket saya baru keluar sehari sebelum pertandingan, dan proses penukaran tiket di Stadion Patriot Bekasi sangat lamban dan “dimeriahkan” oleh banyak calo. Ya, KiosTix terlihat inkompeten, bahkan pembeli tiket upacara pembukaan harus antri berjam-jam untuk menukarkan tiket yang sudah dibeli secara daring di kantor mereka.

Namun, upacara pembukaan Asian Games ini mengejutkan saya dan kita semua yang mungkin sudah sempat pesimis. Saya tidak perlu membahas bagaimana upacaranya karena kita semua sudah tahu seperti apa, tetapi upacara pembukaan ini menunjukkan keseriusan kita dalam menjadi tuan rumah dan sukses menimbulkan animo yang luar biasa di masyarakat.

Pembukaan ini juga ternyata hanya awal. Atlet kita pun dengan gemilang menunjukkan performa terbaiknya dan secara diluar dugaan berhasil jauh melebihi hasil. Saya tahu kita hanya dua kali mampu meraih lebih dari lima medali emas setelah Asian Games 1962, kini kita malah mampu memperoleh 31 medali emas dan hampir mencapai dua kali lipat target semula. Saya tahu kalau biasanya prestasi tuan rumah akan meningkat jauh karena olahraga yang penilaiannya berdasarkan juri biasanya akan memfavoritkan tuan rumah, namun 14 dari 30 medali emas yang diraih berasal dari cabang olahraga dengan sistem balapan atau poin. Begitu banyak dari mereka yang juga— terlepas medali yang diraih — membuat kita terharu ketika mereka membawa bendera atau menitikkan air mata saat menyanyikan lagu kebangsaan.

Tetapi yang paling membahagiakan adalah bagaimana antusiasme masyarakat kita terlihat selama berlangsungnya Asian Games ini. Banyak teman saya yang tidak pernah membahas Asian Games, tiba-tiba tertarik untuk bahkan membeli tiket pertandingan olahraga yang awalnya kurang populer. Lalu bagaimana kita semua yang tidak datang langsung pun menyaksikan olahraga manapun yang disiarkan di layar kaca. Di kantor sama-sama nonton bareng Jojo di final bulutangkis putra. Media sosial dipenuhi konten-konten positif mengenai atlet kita. Walaupun masih ada saja mereka yang sepertinya hidup untuk berkelahi, kita terasa satu selama Asian Games.

Bagaimana kita mengapresiasi para peraih medali juga sangat membanggakan. Kita mulai belajar membanjiri akun media sosial atlet kita dengan apresiasi setinggi-tingginya. Lalu ada banyak video dimana para peraih medali diarak keliling kota asalnya. Pemerintah juga luar biasa, yang ternyata mengeluarkan peraturan baru untuk perbaikan prestasi olahraga nasional setelah hasil SEA Games 2017 tidak memuaskan. Dalam waktu satu tahun peraturan itu sudah membuahkan hasil. Hari ini, semua atlet menerima bonus yang dijanjikan sebelum Asian Games 2018 resmi ditutup. Senang sekali karena sepertinya kita sekarang menyadari bahwa bangsa yang besar memang bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.

Selama dua minggu ini, tak henti-hentinya saya terharu melihat para atlet mengekspresikan kebanggaannya setelah berhasil mengharumkan nama bangsa dan bagaimana media sosial kita bergelora dengan kebahagiaan melihat atlet kita berprestasi. Saya belum pernah merasakan euforia seperti ini sebelumnya, sekalipun saya berada di Jakarta sewaktu SEA Games 2011 dan di Singapura sewaktu SEA Games 2015. Belum lagi bagaimana damainya hati melihat tagar #RukunIndonesiaku di media sosial yang muncul setelah pelukan Hanifah ke Jokowi dan Prabowo.

Saya juga tersenyum setiap kali melalui Jalan MH Thamrin dan Sudirman yang kini terlihat sangat cantik setelah bersolek untuk Asian Games 2018. Sejak berkuliah di Singapura saya selalu bertanya-tanya kapan Jakarta bisa memiliki prasarana sebaik di Singapura. Memang masih banyak area di Jakarta masih jauh dari kata bagus, tetapi kedua jalanan ini seolah menunjukkan kalau kita bisa membuat infrastuktur yang berkelas jika kita memang merencanakannya dengan baik.

Pada akhirnya, Asian Games 2018 ini menjawab pertanyaan saya soal energi yang saya cari. Ternyata energi itu memang benar adanya, dan bahkan lebih dahsyat dari yang saya kira. Kita hanya butuh untuk bersatu dan konsisten berbenah untuk menciptakan energi tersebut dan mengarahkannya ke kegunaan yang tepat. Saya sangat berharap Asian Games 2018 ini menjadi titik balik bagi kita untuk kembali bergairah dan bahu membahu memaksimalkan potensi yang kita miliki. Dan menunjukkan kalau kita memang Energi Asia.

David Orlando Kurniawan

Written by

A curious learner and hopefully a good thinker. Product Manager @Traveloka, NTU Singapore and SMAK 1 Jakarta alumnus.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade