Arrival (2016): Bahasa, Kemanusiaan, dan Takdir

Oleh Dini Adanurani | Vice-Director of Creative Board Deadpoøl Universitas Indonesia, Mahasiswa Filsafat UI

Ketika 12 UFO mendatangi titik-titik acak di muka bumi, ahli linguistik Louise Banks (Amy Adams) yang sedang bergumul dengan masa lalunya, direkrut militer yang diwakili Colonel Weber (Forest Whitaker) untuk mencari tahu tujuan mereka datang ke Bumi. Bekerja dengan ilmuwan Ian Donnelly (Jeremy Renner), Louise berusaha mendekati mereka, “menyamakan frekuensi” demi kelancaran komunikasi. Karena komunikasi ‘adala koentji’.

Arrival diangkat dari sebuah cerita pendek, The Story of Your Life oleh Ted Chiang. Setelah menonton filmnya yang megah, sudut pandang penikmat saat membaca cerita sedikit dipersempit, sebab cerita pendek ini kurang memberi perhatian kepada latar suasana kekacauan global dan militer yang sedang terjadi. Tapi bagi yang ingin mengulik lebih dalam hubungan pribadi Louise dan penjelasan dari teori-teori linguistik dan fisika dari Arrival, cerita ini sangat direkomendasikan.

BAHASA DAN KEMANUSIAAN

Faktor utama yang membuat Arrival menjadi kesegaran baru di ranah fiksi ilmiah adalah fokusnya terhadap linguistik. Seluruh konsep film ini bergantung kepada subjek humaniora yang “melekatkan manusia dan peradaban, namun menjadi senjata pertama yang dikeluarkan dalam kondisi konflik” — kalimat yang dikutip Ian Donnelly dari pengantar buku Louise Banks.

Donnelly juga berkomentar kepada Banks dalam film, bahwa ia “meneliti bahasa seperti ahli matematika”. Menarik untuk melihat bahasa yang sehari-hari saya dan anda perlakukan sebagai alat untuk memenuhi keinginan pribadi, dalam film ini diperlakukan sebagai objek penelitian — tak ubahnya katak yang dibedah dalam eksperimen biologi. Ketika tim bahasa harus menyampaikan pertanyaan tujuan para alien datang ke bumi, pertanyaan itu dikupas habis menjadi inti-inti yang harus dipahami pihak alien tersebut agar bisa memahami pertanyaan itu secara keseluruhan: misalnya, alien harus terlebih dulu memahami kata tanya, dan mengetahui perbedaan maka ‘you’ secara singular dan jamak. Bahasa sebagai konsep sejatinya sangat rumit — manusia bisa memahami begitu banyak hal sampai bisa berkonversasi verbal dan non-verbal seperti sekarang. Situasi menjadi filosofis ketika kita harus menggali, apa yang membuat manusia bisa memahami sesuatu, dan bagaimana cara mentransfer pemahaman itu ke orang lain.

Dalam film-film sci-fi, teknologi umumnya digunakan dengan tujuan eksploitasi. Manusia sudah mengacaukan planet bumi, jadi, saatnya kita mencari planet baru untuk dikacaukan! Oh, kita belum pernah melihat makhluk ini sebelumnya, ayo kita tangkap dalam tabung kaca lalu kita teliti. Kalau tidak, digambarkan sebaliknya — manusia-lah yang dikejar-kejar alien jahat. Di sisi lain, bahasa dikenal sebagai cara berdiplomasi yang paling damai, di mana kedua pihak menyatakan apa yang mereka inginkan, dan mencari cara untuk berkompromi. Di tengah kekalutan militer berskala global, para tokoh utama kita hanya berusaha mencoba mengetahui maksud pihak alien. Dalam situasi ini manusia dan alien setara, keduanya sama-sama pihak luar yang berusaha mencari landasan yang sama, sekalipun pengetahuan dan cara berbahasa pihak alien lebih kompleks daripada manusia.

Para ilmuwan dalam Arrival berusaha saling memahami dengan cara bertukar konsep dengan para alien, baik dalam bahasa (memperkenalkan konsep seperti nama spesies, nama pribadi, kata kerja, kata ganti, dll) dan dalam matematika dan fisika (mendemonstrasikan konsep-konsep seperti geometri, aljabar, dan kalkulus). Kembali lagi kepada hakikat bahasa, sebagai alat yang digunakan untuk membangun konsep. Kedua pihak boleh jadi melihat realita dengan cara yang berbeda, namun ketika kedua pihak menggunakan bahasa untuk menuangkan realita versi masing-masing ke dalam bentuk konsep yang dapat dimengerti keduanya, terjalinlah pengertian dan interaksi lebih lanjut.

HIPOTESIS SAPIR-WHORF

Arrival didasarkan pada hipotesis Sapir-Whorf, prinsip linguistik yang berpandangan bahwa struktur bahasa mempengaruhi cara pandang penggunanya. Ada dua versi hipotesis ini, versi pertama adalah relativisme linguistik, bahwa bahasa mempengaruhi pikiran dan perilaku seseorang. Namun versi ekstremnya, determinisme linguistik, meyakini bahwa bahasa mempengaruhi kognisi seseorang dan menentukan realita seperti apa yang mereka persepsikan. Dalam artikel Marissa Martinelli untuk Browbeat, ia mewawancarai seorang ahli linguistik dan kognitif Universitas Illinois, Betty Birner, tentang pengalaman menonton Arrival sebagai seorang ahli linguistik, dan seberapa akuratnya film itu terhadap teori yang ada. Menurutnya, meskipun determinisme linguistik yang dicomot untuk menjadi fondasi film ini teori yang kurang populer di antara para ahli, teori tersebut sudah diadopsi dengan tepat.

Teori ini dikembangkan dalam film berdasarkan sebuah pengandaian: jika manusia berhasil mempelajari bahasa alien dari dimensi lain yang mampu mempersepsi waktu secara nonlinear, akankah manusia dapat mempersepsi waktu dengan cara yang sama?

Heptapod memahami waktu sebagai sesuatu yang nonlinear; serangkaian kejadian yang eksis dalam saat yang bersamaan, sementara batas-batas waktu melebur. Ini yang dijelaskan sebagai moda kesadaran serentak (simultaneous consciousness) dalam The Story of Your Life, berbeda dengan kesadaran sekuensial (sequential consciousness) yang dimiliki manusia. Dalam kesadaran serentak, masa kini dapat dianalogikan sebagai satu titik yang ada dalam peta besar yang bisa mereka lihat secara utuh. Otomatis mereka tahu apa yang akan terjadi di masa depan, meskipun mereka tidak memahaminya sebagai “masa depan”.

Namun berdasarkan akal sehat, apakah hal ini bisa benar-benar terjadi di dunia nyata? Katakanlah, manusia berhasil mempelajari bahasa tersebut. Berdasarkan hipotesis Sapir-Whorf, bahasa ini akan mempengaruhi cara pikir manusia — dalam hal pemecahan masalah misalnya, manusia akan mampu berpikir dengan pola out-of-the-box dan mengajukan solusi yang tidak biasa, karena terbebas dari kekangan sudut pandang manusia yang linear. Tapi manusia takkan bisa melihat realita dalam level kesadaran yang sama dengan para alien tersebut. Manusia hanya mampu melihat representasi waktu sebagai hubungan sebab-akibat; tidak sebagai waktu itu sendiri, karena waktu berada di luar kesadaran sekuensial yang mampu dicapai manusia.

Pada akhirnya, inilah yang disebut fiksi ilmiah. Diskrepansi antara hal yang mungkin terjadi secara logis dan fisis dengan pertanyaan “what if” yang tak berakhir inilah yang menghidupkan jiwa dari suatu film.

REALITA HEPTAPOD DAN DETERMINISME

Dalam film, diperlihatkan kilasan-kilasan peristiwa yang akan datang dalam kehidupan Louise Banks, dan bagaimana ia memutuskan untuk mengikuti alur itu sebagaimana mestinya. Masa depan memang memberikannya “resep untuk menyelamatkan dunia”, namun juga menunjukkan bahwa hubungan yang akan dibinanya dengan Ian Donnelly gagal dan anak mereka meninggal karena sebuah penyakit kronis.

Secara moral, resolusi film ini memberikan berbagai pesan: untuk “merangkul” takdir, pentingnya mengalami sesuatu secara langsung, dan bahwa kebahagiaan dalam hidup adalah hal yang layak dialami sekalipun bersifat sementara. Namun, dari sudut pandang filosofis hal ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah manusia benar-benar punya kehendak bebas?

“Jika kau bisa mengetahui alur hidupmu dari awal sampai akhir, akankah kamu mengubahnya?”

Kalimat yang diucapkan Louise Banks di akhir film mengindikasikan adanya kemungkinan manusia bisa mengubah alur hidup yang telah ditentukan sebelumnya. Namun ia memutuskan untuk menerima takdir dan menjaga rangkaian peristiwa tersebut.

Keberadaan free will ini telah menjadi perdebatan filosofis sejak lama, dan nampaknya takkan berakhir. Solusi masalah ini dijabarkan lebih jelas dalam versi cerita pendek dibandingkan versi film: bahwa kehendak bebas itu nyata dalam konteks kesadaran sekuensial. Namun dalam moda kesadaran serentak, batas-batas antara kebebasan dan keterpaksaan mengabur. Keduanya sahih dalam konteks yang berbeda. Kerangka berpikir dan berperilaku heptapod dijabarkan lebih jelas di cerita pendek The Story of Your Life: tujuan-tujuan kolektif mereka selaras dengan kronologi sejarah yang sudah ada. Mereka hidup hanya untuk menjadi lakon dalam guratan naskah sejarah yang dapat mereka baca.

PENUTUP

Film mencapai titik lempar terjauhnya pada pengungkapan bahwa heptapod datang ke Bumi untuk menghadiahkan bahasa mereka kepada manusia, dan sebuah rumus kompleks yang tidak dijelaskan fungsinya dalam film. Dibekali kunci untuk masa depan, para manusia diharapkan untuk membantu para heptapod tiga ribu tahun kemudian.

Dalam kilasan-kilasan masa depannya, ditampilkan bahwa Louise Banks akan menerbitkan buku mengenai bahasa heptapod, dan mengajarkannya kepada masyarakat. Banyak konsekuensi akan peristiwa ini yang tidak diceritakan dalam film, yang dapat dimaklumi, mengingat tujuan film ini hanyalah untuk menceritakan perjalanan Louise sendiri. Namun, apa yang akan terjadi jika sebagian besar populasi manusia menguasai bahasa heptapod dan mampu melihat masa depan? Apakah keadaan akan damai sejahtera karena mereka memegang “resep menyelamatkan dunia”, atau justru manusia masih akan memulai peperangan dan bencana kemanusiaan hanya demi melakonkan realita yang tertera? Bagaimana dengan orang-orang yang akan melakukan banyak hal yang mereka tidak pahami hanya karena mereka melihat diri mereka melakukan hal tersebut di masa depan? Apakah otak manusia bisa berevolusi menjadi serupa dengan heptapod, atau mereka hanya akan mengadaptasi cara berpikir ini sampai batas tertentu?

Secara garis besar, Arrival dieksekusi dengan apik sehingga pesan di balik film tersampaikan, namun masih meninggalkan ruang spekulasi yang menyenangkan.

Diadaptasi dari tulisan di blog penulis: https://jesuismager.wordpress.com/2017/01/11/arrival-2016-bahas-bahasa-dalam-sci-fi/https://