Review: Superman and Philosophy (What Would The Man of Steel Do?)

Annisa Utami Kusuma Negara | General Secretary of Deadpool UI

It’s bird, it’s plane, it’s philosophy!

(Superman and Philosophy)

Bicara mengenai pahlawan super kemungkinan besar Superman merupakan gambaran pahlawan super yang paling melekat dalam bayangan kita, kendati Superman bukan pahlawan super pertama, namun sejak diperkenalkan Action Comic tahun 1938 Superman seolah menjadi model pahlawan super yang paling ideal. Jutaan komik, acara televisi, hingga film mengenai Superman telah di produksi membuktikan kesuksesan Superman sebagai figur pahlawan super yang diciptakan oleh Jerry Siegel dan Joe Shuster ini.

Seperti kita ketahui Superman atau Kal- El atau Clark Kent merupakan anak dari planet Krypton yang sampai ke bumi dengan pesawat luar angkasa yang dibuat oleh orang tuanya Jor-El dan Lara untuk menyelamatkan anak mereka dari kehancuran planet Krypton. Kemudian pesawat ini mendarat di pedesaan di AS, Kal-El diadopsi oleh Martha dan Jonathan Kent. Seiring pertumbuhannya, orang tua asuhnya mengetahui bahwa superman bukan anak biasa sehingga kemudian mereka mengajarkan superman untuk menggunakan kekuatannya untuk menolong orang. Ketika dewasa ia akhirnya bekerja sebagai jurnalis untuk Daily Planet di Metropolis. Di Daily Planet ia bertemu dengan sahabat-sahabat dan kekasihnya, yakni diantaranya Jimmy Olsen, Perry White dan Lois Lane.

Sebagai figur pahlawan Superman digambarkan sangat kuat, selalu berbuat kebajikan, namun kenyataannya tidak sesempurna itu, ada sisi dari Superman yang menjadi kontroversi misalnya penggunaan kekuatan supernya untuk melakukan kekerasan meskip untuk intensi yang baik, upayanya mengelabui orang-orang dengan menyamarkan identitasnya sebagai anak manusia bernama Clark Kent, atau bahkan superman bisa saja terlihat seperti ancaman bagi kemanusiaan seperti yang dikatakan Lex Luthor.

Dilema Moral Superman

Layaknya manusia, Superman juga seringkali dihadapi dengan dilema moral, salah satunya pada kisah phantom projector yang juga di sebutkan dalam bagian pembahasan etika oleh Mark D. White. Sebagai sosok yang memiliki kekuatan super, Superman memiliki intensi yang baik untuk menggunakan kekuatannya untuk berbuat kebaikan. Namun niat baik saja tidak cukup, ada banyak kasus dimana Superman harus menentukan pilihan yang sulit, terlebih lagi dengan kekuatan super-nya keputusan Superman memiliki imbas yang luas ke orang lain karena kapabilitasnya untuk melakukan sesuatu yang berada diluar kemampuan manusia.

What I must now do is harder than anything I have ever done before. But as the last representative of law and justice on this world, it falls to me to act as judge, jury … and executioner.

(Superman, dikutip dalam Superman and Philosophy)

Mungkin kita bisa memastikan pilihan mana yang tepat ataupun keliru menggunakan pendekatan etika seperti utilitarian, deontologi ataupun virtue ethics, namun membandingkan argumentasi etis antar — aliran etika-etika tersebut jelas perkara yang sulit. Faktisitas bahwa Superman memiliki kemungkinan untuk keliru dan seringkali menghadapi dilema moral justru merupakan hal yang membuat superman memiliki sisi kemanusiaan. Kendati Superman dapat dikatakan alien dari luar angkasa namun ia dibesarkan oleh manusia (Martha dan Jonathan).

It shows us that, no matter how much his powers distance him from humanity, his need to use judgment to solve moral dilemmas makes him no different from you or me — and serves to ground him no matter where in the universe he may be (White, 2013, hal. 13).

Superman dan Keadilan

Sebagai pahlawan super tentu memiliki tujuan utama untuk “membela kebenaran dan menegakan keadilan” layaknya jargon klise yang selalu menempel pada setiap figur pahlawan super. Namun jalan untuk mencapainya akan mengindikasikan dimana titik pijak yang ia pilih dalam ideologinya sebagai pahlawan super. Saya juga bersetuju dengan Robichaud bahwa bisa dikatakan ada 2 teori yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk menganalisa prinsip keadilan dari usaha-usaha Superman dalam kisah-kisah heroiknya. Pertama yakni model libertarianisme dan liberal egalitarianisme, yang sebetulnya pencerminan dari perdebatan John Rawls dan Robert Nozick antara melindungi hak individu atau juga sekaligus memastikan adanya distribusi kesempatan dan sumber daya yang adil. Kisah Superman didominasi oleh upayanya melindungi manusia dari ancaman entah itu dari adanya bencana, kecelakaan, ataupun musuhnya yang ingin menciderai manusia. Disebutkan juga oleh Robichaud bahwa Superman dapat melihat dirinya layaknya ekstensi dari negara dalam mengupayakan keamanan. Sehingga dapat dikatakan tendensi mengarahkan bahwa Superman merupakan seorang Rawlsian karena jika ia memang seorang libertarian tentu Superman tidak akan memiliki hubungan seperti yang digambarkan dengan pemerintah, misalnya saja ketidaksetujuan itu dapat muncul ketika ia melihat upaya pemerintah yang meminta pajak secara koersif sebagai tindakan yang menciderai hak individu dan bentuk ketidakadilan yang serius, dimana seharusnya hak individu merupakan segala-segalanya. Bahkan menurut saya bukan hanya Superman, banyak dari figur pahlawan bukan sosok libertarian, karena eksistensi pahlawan itu ada karena adanya kesulitan dari orang-orang jadi karakter heroik itu dapat terlihat secara “lebih” gamblang dengan tindakan “menolong”-nya dan pahlawan juga selalu digambarkan sebagai sosok yang disukai semua, maka ia harus menolong siapapun tanpa terkecuali khususnya yang terlihat paling menderita dan berupaya membuat keadaan se-”ideal” mungkin, sehingga yang paling gawat misalnya kita ketahui pada figur Robin Hood yang dianggap sebagai pahlawan kendati ia mencuri untuk dibagikan ke rakyat miskin. Jika cerita tersebut diubah menjadi Robin Hood yang melawan Pangeran John dan Sheriff of Nottingham demi kebenaran dan keadilan mungkin kisahnya tidak akan seterkenal saat ini.

Superman Ikon dari Amerika?

Dalam kasus Superman seringkali dikaitkan dengan Amerika, terasosiasikan melalui kostum yang ia kenakan berwarna merah biru, begitu juga dalam hal pencapaian keadilan, dalam tulisannya Christopher Robichaud juga menyebutkan begitu kentalnya American Way dalam kisah Superman “truth, justice and the American way”. Dalam Action Comic #900 bahkan Superman secara eksplisit menjelaskan apa arti Amerika baginya, ia juga merujuknya dengan gamblang.

That’s what America is about, really. That’s the American way. Life, liberty, the pursuit of happiness — and second chances. None of us are forced to be anything we don’t want to be … People from all over

America — from all over the world — who went to the city to live the lives they wanted, to be the people they wanted to be. That’s the idea that America was founded on, but it’s not just for people born here. It’s for everyone.

-Superman

Kendati begitu, Superman sendiri melepas akhirnya menunjukkan dirinya sebagai cosmopolitan, dimana ia percaya dunia ini terhubung di era pesatnya teknologi ini sehingga dapat dikatakan semua negara sama pentingnya untuk dibela. Tentu kita bisa melihat hal ini juga merupakan bentuk siasat DC comic untuk menarget pasar global, seperti juga yang dikatakan Andrew Terjesen.

Superman manifestasi dari Übermensch?

Dalam Superman and Philosophy, Arno Bogaerts mengatakan bahwa konsepsi Übermensch Nietzsche sebetulnya heroik yang bisa diaktifkan kembali melalui karakter Superman itu sendiri. Meski begitu sebetulnya Übermensch dan Superman ini merupakan dua konsepsi yang bisa juga dikatakan berlawanan. Übermensch Nietzschean berupaya untuk menciptakan nilainya sendiri karena Übermensch akan berupaya untuk mencari kediriannya yang khas dimana tidak dependen dengan orang lain ataupun sosial yang memiliki patokan nilai mainstream, melainkan berupaya membentuk nilainya sendiri, sedangkan figur Superman dalam DC Comic tetap membela sekaligus berada pada nilai mainstream. Übermensch juga digambarkan sebagai sesosok yang memiliki kehendak untuk berkuasa bukan saja berkuasa atas orang lain melainkan juga menegaskan kekuasaan atas dirinya juga, sedangkan Superman sendiri melakukan kebaikan bukan dengan alasan semacam itu, melainkan sesederhana ia ingin melakukannya saja untuk pemenuhan takdir yang dipilihnya. Meski begitu kehendak bebas yang dimiliki superman untuk menjadi superhero dibandingkan supervillian merupakan bentuk kehendak diri juga, yang dengan kata lain mungkin dapat dikategorikan juga sebagai bentuk will to power ala Nietzsche.

Penutup

Secara dominan buku ini membahas sisi etika dari figur Superman, mulai dari judgement, bentuk dilema yang pernah dihadapi, etika atas kepemilikan kekuatannya dan sebagainya. Juga banyak disebutkan kaitannya dengan model Ubermensch pada pemikiran Nietzsche. Pendekatan buku ini menarik karena berupaya mengeksplisitkan apa yang menjadi sisi perdebatan dalam elemen cerita Superman, bukan perkara dia yang selalu menang namun ada relasi yang terbangun antara Superman dengan sekelilingnya yang membuat kisah Superman dapat memberikan filosofis stances yang menarik. Saya senang menutup tulisan yang sangat singkat ini dengan kalimat yang di kutip Bogaerts dari All-Star Superman series;

“Gods achieve their power by encouraging us to believe in them. Superman achieves his power by believing in us.”

Bibliografi

White, M. D. (Ed.). (2013). Superman and Philosophy: What Would The Man of Steel do? West Sussex: Wiley-Blackwell.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Deadpoøl UI’s story.