Sejarah dan Pemososisian Ulang Ganja

Oleh Dhira Narayana [Direktur Lingkar Ganja Nusantara]

Buku Hikayat Pohon Ganja (2011) yang LGN terbitkan beberapa tahun silam menyebutkan bahwa tanaman ganja sudah menemani manusia sejak 10.000 SM. Hal ini ditegaskan dengan ditemukannya tembikar yang didekorasi dengan pola yang didapat dari hasil menempelkan tali tambang dari serat ganja sebelum tanah liatnya mengering di Taiwan.

Selain itu, pada tahun 2138 SM di sebuah makam daerah Xi’an, provinsi Shaanxi, ditemukan kertas berbahan dasar serat ganja. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa perkembangan dunia kita saat ini begitu bergantung pada kertas. Tengok saja kitab-kitab suci maupun buku-buku pengetahuan yang selama ini membius kita dengan kalimat-kalimatnya, semua ditulis di kertas. Sebelum masa itu, pengetahuan di tulis di batu-batu, kulit-kulit kayu, maupun kulit binatang yang mengakibatkan beratnya beban memikul bahan-bahan tersebut.

Ilmu tersebut mulai keluar dari tanah Cina ketika Dinasti Tang ditaklukan oleh kekhalifahan Abbasid pada perang “Talas” tahun 751 Masehi. Tawanan dari Cina pada perang tersebut dibawa ke Samarkand dan dipaksa untuk membuka rahasia mengenai bahan dan proses pembuatan kertas. Pada tahun 794, pabrik kertas pertama berdiri di Baghdad dan menyebar ke seluruh wilayah kekuasaan bangsa Arab. Berkat bangsa Arab pula akhirnya bangsa Eropa mengenal penemuan yang bernama kertas dengan bahan baku serat batang ganja, yaitu dengan didirikannya pabrik kertas pertama oleh orang Arab di Spanyol pada tahun 1151.

Selain serat batang ganja, ternyata kandungan alamiah tanaman ganja juga telah mengobati berbagai penyakit manusia semenjak tahun 2900 SM. Kitab Pen Tsao Ching, yang berasal dari kumpulan catatan Kaisar Shen Nung, menyebutkan kegunaan ganja untuk menghilangkan sakit datang bulan, malaria, rematik gangguan kehamilan, gangguan pencernaan, dan penyakit lupa. Dan ternyata kegunaan ganja sebagai pengobatan ini telah dipraktekan di seluruh daratan Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika dengan keunikan masing-masing.

Berdasarkan penelitian etnologi yang dilakukan Siegel pada tahun 1989 (Hikayat Pohon Ganja, 2011) menyatakan bahwa sistem saraf manusia tersusun sedemikian rupa untuk merespons zat-zat “memabukkan” seperti halnya kita merespons makanan, minuman, dan seks. Oleh karena itu, Siegel menyebutkan bahwa pencarian akan zat-zat untuk merubah kesadaran merupakan dorongan keempat pada manusia setelah makan, minum, dan seks.

Hal ini dapat kita konfirmasi apabila kita menengok sejarah ganja dalam spiritualitas bangsa-bangsa terdahulu. Kitab Zend-Avesta yang dipopulerkan oleh Zoroaster mengajarkan tentang khasiat tanaman misterius bernama “soma” atau “haoma”, yang kemudian diketahui adalah ganja. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa siapapun yang mengonsumsinya akan memiliki sebagian kekuatan dari dewa.

Dalam agama Hindu, ibadah harian di sore hari biasanya diiringi dengan menghisap ganja yang dilakukan oleh semua orang yang hadir (Fisher, 1975). Dalam beberapa ritualnya, agama Hindu juga mengharuskan penganutnya melemparkan batang ganja ke api agar asapnya dapat mengusir musuh dan kekuatan jahat (Aldrich, 1977).

Di tanah nusantara, kami mulai melihat dan menyadari peran ganja dalam bidang pengobatan, kuliner, maupun spiritualitas. Kitab Tajul Muluk yang kami dapatkan di tanah Aceh menyatakan bahwa ganja dapat mengobati penyakit kencing manis atau diabetes. Sedangkan bijinya dipakai masyarakat Aceh sebagai bumbu masak. Jejak-jejak spiritualitas ganja dapat kita lihat di dalam filosofi keris nusantara. Secara sederhana keris dibedakan menjadi tiga bagian, bilah, ganja, dan pesi. Hal tersebut mengandung arti bahwa manusia (pesi) memerlukan perantara (ganja) untuk mencapai Kesempurnaan (bilah).

Pengetahuan tersebut kemudian sirna dalam dunia modern ini. Menanam, merawat, menggunakan, menjual, membeli ganja adalah perbuatan kriminal. Di Indonesia hal tersebut ditandai dengan ratifikasi Konvensi Tunggal PBB pada tahun 1976 oleh Soeharto. Hal ini yang kemudian menjadi landasan diberlakukannya UU Narkotika di Indonesia, sampai detik ini.

Dan yang menentukan merah-hitam-nya kebijakan PBB adalah negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, para pemegang hak veto; AS, Inggris, Rusia (dulu Uni Sovyet), Cina, dan Prancis.

Akibat dari pengelolaan dunia yang berlandaskan kepada sistem global kapitalisme adalah eksploitasi tanpa batas dari berbagai aset dan akses kapital dunia; eksploitasi dan monopoli tanpa batas terhadap berbagai sumber daya alam tak terbarukan, perampokan, dan penggundulan hutan, eksploitasi senilai ribuan metriks ton per hari di Freeport, dan di berbagai aset kapital dalam bentuk bahan baku (sumber daya alam) di seluruh penjuru dunia, penindasan terhadap buruh, monopoli benih, monopoli pupuk, kerusakan kualitas kesuburan tanah, pembunuhan secara sistematis terhadap petani dan budaya agraris kita, dll, dsb, dst.

Dalam kasus ganja, kita sama-sama dapat melihat monopoli yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. Pertama, Cina-Prancis-Rusia, masing-masing memonopoli produksi serat ganja dengan jumlah yang mengejutkan 24.000 ton (79% produksi dunia), 4.300 ton (14% produksi dunia), dan 300 ton (1% dari produksi dunia). Dengan itu mereka memonopoli 95% produksi serat ganja di dunia. Kedua, Inggris dan Amerika, mereka memonopoli industri pengobatan. Inggris dengan perusahaannya yang bernama GW Pharmaceuticals dan produknya yang bernama Sativex. Sedangkan di Amerika dengan ganja mentah (belum diekstrak menjadi obat) yang sudah mulai diperdagangkan di 24 negara bagiannya.

Dalam dunia yang mengenakan sistem kapitalisme, yang tumbuh subur adalah masyarakat yang hiper-konsumtif. Itu sebabnya saat ini kita menyaksikan berbagai kerusakan ekologi yang sudah mencapai taraf sangat mengkhawatirkan karena alam dipandang sebagai komoditas bukan guru atau sumber pengetahuan.

Menurut Komaruddin Hidayat dalam Hikayat Pohon Ganja (2011) alam berarti juga ayat atau tanda petunjuk agar manusia menggali apa yang diisyaratkan oleh tanda petunjuk itu. Jika kita berhasil melakukan riset atau interogasi empiris-sistematis mengikuti kaidah-kaidah sains terhadap alam, kita akan memperoleh formula ilmu. Sedang sayangnya di Indonesia, membicarakannya saja masih ditabukan. Sungguh disayangkan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Deadpoøl UI’s story.