Seni dan Teknologi; Lelehan Ontologi

Oleh: Fathul Purnomo (Founder Deadpool Universitas Indonesia)

Apa yang perlu diperbincangkan secara serius di hari ini selain jajanan nyam-nyam yang sudah sulit dijumpai di pasaran adalah permasalahan perkembang-jamak-ragaman teknologi. Sedari marahnya Zeus pada Prometheus karena telah mencuri api Olympus sudah menuntun kita pada karakterisitik dasar teknologi yang adalah hasil dari padatan sistematika [logis], kreatifitas [imajinatif], progresifitas, dan dualitas [imbas negatif dan positif yang hadir bersamaan]. Kerja sokong atas teknologi yang teknis-pragmatis sendiri sudah mencapai tahap yang kadang menjadikan kita harus berkomat-kamit merapal cogito ergo sum [demi ketercukup-jaminan realitas], sembari tetap memastikan–mampus kau Descartes — bahwa gelas-gelas minuman di atas meja tidak mulai bergerak dan melayang 3 hasta sejajar dengan posisi tulang pelipis. Sedangkan kajian secara reflektif atas teknologi masih berada pada posisi setara dengan kesadaran manusia pra-bipedal — bahkan sampai umur 12 tahun saya masih meyakini memiliki kemampuan terbang. Black Mirror, sebuah serial tv yang akan sungguh menampar nalar semua orang bahwa memperdebatkan agama di zaman ini adalah suatu kesia-siaan, antologi film produksi Channel4 yang kemudian diakuisisi Netflix ini dengan sangat nyata membeberkan wujud nyata dari permasalahan aktual hingga hipotetis akan teknologi.

Komposisi Pembangun

Disutradarai oleh Otto Bathurst dan ditulis oleh Charlie Brooker dengan judul National Anthem pada episode pertama, film ini bisa dikatakan memiliki limit kurang dari nol mendekati integral tanpa cacat, tidak ada satupun pacahan bagian dalam film yang berfungsi sebagai hanya ornamental [secara bangunan film presisi dan memiliki kejernihan fungsi] serta memiliki kuncian struktur yang sungguh baku [alur, sistematika, dan keseluruhannya sangat koheren — logis]. Bahkan hingga tulisan ini dinarasikan, dihadirkannya representasi yang publik, [1] Lauren, seorang perempuan yang menonton berita penculikan Princess Susannah di kamar tidur bersama kekasihnya yang memiliki jenis kulit berwarna — pada kekasihnya bisa dikenai opsi pemenuhan anti rasialitas namun sekaligus dalam realismenya masih diskriminatif sehingga seharian penuh dia harus tetap di atas ranjang dan justru Lauren yang bekerja, [2] rekan-rekan Lauren di Rumah Sakit tempat ia bekerja, [3] sampai pada keriuhan kumpulan manusia di satu kafe, masihlah menyisakan patahan nalar ke-mengapa-an. [4] Kerumunan manusia yang sedang berjalan pasca dirilisnya polling agar Prime Minister melengkapi permintaan sang teroris adalah suatu perwajahan yang mudah diterima common sense. [5] Atau dimunculkannya anak kecil yang sedang bermain gadget bercengkaram di dalam kafe demi menjawab kegusaran ibunya atas apa permintaan dari sang teroris adalah juga hal yang tentulah sahih sebagai representasi dari non-dewasa, ketidaktuaan dan kepiawaian ber-gawai ditambah semburat air muka tanpa dibebani onggokan moralitas tatkala mendengungkan berhubungan seksual dengan seekor babi sebagai permintaan pada PM adalah wujud kemustahilan pakem modern — posmo adalah hidayah untuk mengatakan fuck-you-society. Pecahan-pecahan partikular ini bisa digiring pada satu wadah, yaitu yang publik [para pegawai rumah sakit, satu pasangan kekasih, pemilik kafe, kerumunan orang di jalan], dan dilihat dalam komposisi posisi kuasa dengan yang negasi dari mereka, yaitu pemerintahan [PM beserta jajarannya].

Yang publik dengan pemerintahan di mediasi oleh teknologi intelektual, berupa internet. Yang terpecah menjadi dua jenis, yaitu teknologi intelektual independen seperti twiter, YouTube, dan berbagai platform sosial media lain dan teknologi interdependen yang berfungsi partikular dalam medium teknologi dependen, disinilah jurnalisme bermain — hubungan antara teknologi independen dan inter-dependen adalah bahwa mereka saling mempengaruhi satu sama lain, bahwa BBC menyediakan konten material, sedang basis kerjanya mengekor pada kerangka arsitektural twitter. UKN [United Kingdom Network] sebagai media sentral di film ini, seperti sudah dinisbahkan sebagai kutukan watak medium 2.0 — kerja ulang-alik antara publik dengan penarasi di media, dia tidak hanya befungsi sebagai pemberi berita pada publik, karena di menit ke 22.41 UKN mendapati kiriman paket berupa potongan jari yang diklaim sebagai bagian biologis dari Princess Susannah, berkat cincin zamrud dari pertunangannya. UKN menjadi penghubung antara sang teroris [outsider]: diluar daripada yang sosial] dengan pemerintah.

Medium inilah yang juga telah turut serta mempermainkan rekapitalisasi batas-batas publik dengan yang privat. Film sendiri dibuka dengan terbangunnya PM di kamar tidur [domain yang sangat privat] dikejutkan oleh video penculikan Princess Susannah, Duchess of Beaumont. Tidak berhenti disana, Jane Callow, isteri sang PM bahkan mengetahui berita mengenai suaminya sendiri dari twitter [publik] yang diaksesnya dari kamar tidurnya [privat]. Di patahan scene lain, Suami dari Lauren juga mengakses berita penculikan Princess susannah pada saat masih berada diatas ranjang.

Ranjang selalu berada pada ranah paling privat, ranjang adalah basis material ketelanjangan, hubungan intim, kelahiran dan kematian [sebelum kemudian dipindah ke Rumah Sakit]. Tuntutan agar PM melakukan hubungan seks dengan seekor babi yang dipertontonkan lewat siaran langsung di seluruh tv di UK adalah sebuah pemaksaan dibenturkannya ranah privat dengan yang publik, lebih-lebih tindakan tersebut dilabeli amoral. Bahkan informasi mengenai tindakan pemerintah [PM dan jajarannya] dibocorkan oleh salah seorang pegawai pemerintah dengan imbalan berupa foto organ seks dari Malaika, wartawan dari UKN yang kemudian tertembak oleh regu pemburu karena dikira sebagai bagian dari terorisme ini.

Rapatnya kuncian pada film seakan-akan debu yang dihirup oleh sang aktor adalah juga merupakan bagain dari rancangan film ini, terbukti di menit ke 8.22 berita samar-samar mengenai kontoversi sebuah karya pameran seni adalah justru jawaban dari seluruh film, siapa yang pernah menyangka, karena bahkan suara presenter yang sedang menyiarkannya tidak terdengar jelas, lagipula kemunculannya tidak lebih dari 10 detik.

Cerita film berlangsung linear, namun ada beberapa scene utama yang menjadi permainan, dimana komposisi keseluruhan dari scene ini sudah terangkum sempurna di menit ke 13.50. Sisanya hanya menindaklanjuti dan atau mengulagi scene yang sama. Di beberapa menit akhir film, Millenium Bridge Footage menjadi tempat meluruhnya cerita. Kesukaran prediksi bukan pada alurnya, namun mencocokkan seluruh potongan scene-scene pendek tersebut dan merangkainya menjadi sebuah cerita yang utuh, terlebih episode national anthem berdurasi hanya 43.57, atau mungkin hanya saya, karena sejatinya Carlton Bloom sudah nampak sebagai seorang outsider yang paripurna, dan berprobabilitas besar tertuduh.

Kesadaran dan Teknologi

Teknologi menjadi jembatan yang privat dengan yang publik, tidak hanya sekedar memediasi [kosong] bahkan juga seringkali mengumbar yang privat pada publik [berkonten]. Namun yang menjadi tumpuan utama dalam film ini adalah bagaimana screen culture [budaya layar] telah mentransformasi metabolisme dari ketotalan realitas. Budaya layar telah menggeser kesadaran sosial, jika dahulu layar adalah hanya upaya untuk menggambarkan pecahan dari yang riil — contohnya foto, di abad ini layar telah berhasil merekonstruksi diri dan membengkokkan kesadaran kita dengan simulakra keutuh-penuh-paduan realitas yang diinkubasi di dalamnya. Dan inilah yang disindir oleh Black Mirror. Princess Susannah dilepaskan 30 menit sebelum Michael Callow melakukan adegan hubungan seksual dengan seekor babi yang disiarkan langsung ke seluruh penjuru UK. Pemilihan PM UK, dengan kombinasi seks serta babi bukanlah tanpa sebab. Dalam dunia faktual, David Cameron, mantan PM UK, pernah santer muncul dengan atribusi ledekan ‘Piggate’, karena kabarnya dia pernah menaruh alat vitalnya dalam mulut babi sebagai salah satu ritual inisiasi untuk masuk menjadi anggota dari salah satu klub elit bernama Piers Gaveston Society. Selain berhubungan seks dengan babi, masih ditambah dengan tujuh syarat rincian [sungguh menarik, sutradara menggunakan angka 7, karena simbol ini seringkali dianggap sebagai angka keramat] yang salah satunya adalah adegan tersebut disyuting menggunakan one handed camera [cara ini biasanya digunakan untuk menghasilkan kualitas yang realis].

Imbas serius dari budaya layar kedua yang coba ditempa-satu-kan dalam film ini adalah bagaimana polling sangat berpengaruh terhadap putusan yang dilakukan oleh pemerintah — selain tentu karena kuasa rezim positivistik dalam sosial kita di abad ini. Pada awalnya hanya 25% masyarakat yang menyetujui Micahel Callow harus memenuhi tuntutan sang teroris. Namun setelah terunggahnya video — yang lagi-lagi difasilitasi layar — berupa pemotongan jari manis Princess Susannah — yang ternyata itu palsu karena setelah di tes DNA jari tersebut adalah milik Carlton Bloom — polling agar PM memenuhi permintaan tersebut begitu saja melesat naik menyentuh angka 80%. Tipuan dalam video tersebut yang seharusnya bisa dicermati oleh pakar, luput karena kepanikan yang melanda, yang juga disebabkan oleh kebengkokan kesadaran atas kemunculan layar [berupa video tangisan Princess Susannah] di awal.

Kecepatan dalam budaya layar juga menjadi persoalan tersendiri. Video tersebut sudah bisa di blok 9 menit pasca rilis, namun dengan kecepatan dunia internet, diestimasikan sekitar 50.000 individu bisa jadi telah megaksesnya. Kepanikan yang terjadi bukan hanya karena nyawa sang Princess sedang terancam, namun karena konten dari layar tersebut disaksikan oleh ribuan orang yang juga bersimpati pada tokoh tersandera — Princess Susannah adalah seorang environmentalist dan dicintai media-media.

Maka alih-alih sama dan sebangun dengan realitas material, layar [baca: teknologi] justru membengkokkan yang riil. Andai jika tidak terpaku pada layar, adegan hubungan seks antara PM dengan babi tersebut tidak akan pernah terpenuhi. Carlton Bloom sebagai perancang dari segala kegaduhan ini menyecap beberapa saat adegan yang berlangsung hampir satu jam tersebut dari galerinya, sebelum kemudian dia gantung diri pada menit ke 38.50 tepat di depan layar televisi 14 inci. Apakah ini metafor bahwa orang bisa mati karena layar? Bisa jadi demikian, dan semenjak adegan hubungan seks itu sendiri, sejatinya Michael Callow sudah mati, karena bahkan sampai perayaan satu tahun semenjak kejadian memalukan tersebut, hubungannya dengan Jane, sang isteri, masih belum membaik kecuali saat di depan layar [baca: ironi layar].

Permasalahan di episode awal ini sungguh nyata, walaupun skenario yang disodorkan mungkin terlampau mencengangkan. Karena komposisi penyuplai dari teknologi disana adalah kesemuanya berbasis dari teknologi yang selama ini diedarkan dalam sosial kita di zaman ini. Smartphone, YouTube, dan twitter. Tidak seperti beberapa episode di kemudian yang menghadirkan permasalahan teknologi secara hipotetis yang walaupun pada sejatinya sudah terasa sangat aktual, karena kelinear-an laju progresifitas teknologi.

Lelehan Ontologi Seni

Teknologi telah merubah realitas, dan seturut dengan itu permainan yang dilakukan oleh Carlton Bloom menuai prediktabilitasnya. Imbas lain dari kejadian ini adalah pada art [seni]. Carlton Bloom dikenal karena dianugerahi Turner Prize, sebuah penghargaan seni visual bergengsi di Inggris semenjak tahun 1984 pada mereka para seniman hebat di bawah umur 50 tahun. Dia dituturkan sebagai seorang seniman yang kontroversial, pameran mahakarya-nya menjumput das Mann dari keterlemparan. Dan entah apa yang melatarbelakangi tindakan dia untuk merancang semua kejadian ini, namun selain pertama untuk menunjukkan bahwa budaya layar telah mendekomposisi kesadaran sosial akan realitas adalah bahwa batasan antara seni dan bukan seni sudah semakin kabur di zaman ini.

Di menit akhir dalam film, disembulkan beberapa komentar bahwa adegan PM berhubungan seks dengan babi adalah pijak pertama dari era baru seni di zaman ini. Bahwa seni sudah bukan lagi persoalan insitusi mana yang akan mencemooh suatu karya dengan dampratan kebengisan, namun justifikasi atasnya telah seutuhnya dilepas ke dalam mekanisme sosial. Dinisi lah tesis yang nampak diajukan dalam Black Mirror, national anthem.

Perkara ini bisa dilihat dari puncak orgasmik dari film, ditemukannya Princess Susannah sedang berjalan sempoyongan di Millenium bridge footage. Jembatan ini mulai dibangun tahun 1998, dan diresmikan pada 10 Juni 2000. Yang menarik dari jembatan ini adalah desainnya yang bergaya posmo, walapun jika tidak mengetahui nama jembatan ini, anda bisa mencarinya di Google dengan kosakata ‘modern’ bridge UK. Persoalannyaa adalah, jembatan tersebut hadir sebagai objek seni ataukah piranti pembantu pejalan kaki saja [infrastruktur]?

Beberapa kalangan melihat bahwa justifikasi ontologi dari seni mutlak bersumber dari sang seniman. [1] Seni adalah perkara proses internal kreatif yang melatarbelakangi suatu karya, keterlibatan emosi dan imajinasi, maka inti dari seni adalah proses pembuatannya, pada techne [R.G Collingwood]. [2] Atau seni merupakan yang bisa membeberkan kesan estetis, serta memiliki justifikasi interpretatif [Noel Carroll]. [3] Atau seni adalah persoalan institusi penyokongnya, justifikasi seni dihasilkan dari dunia seni, maka ini sangat terkati dengan setting institutional yang ada dalam sosial [George Dickie}. Selanjutnya seni mulai bergeser, dengan mulai merambah dunia diluarnya, wilayah interpretasi. [4] Dua lukisan yang sama persis bisa di justifikasi sebagai dua karya yang seutuhnya berbeda, ide yang melatarbelakangi, intensi seniman dan penyediaan kekayaan tafsir merubah ontologi seni [Arthur C Danto]. [5] Lebih jauh lagi, penonton akhirnya memperoleh posisi, diantaranya interpretasi atas suatu karya sudah tak lagi mengental dalam kedirian seniman, namun sudah menyebar ke pasar, semenjak segala ide yang merekah dalam otak adalah selalu hasil dari obresan sengkarut juntaian jutaan ide yang sudah selama ini hadir dalam perjalanan peradaban. Karya dilepaskan seutuhnya ke pasar [Roland Barthes]. Sayangnya, hal itu saja tidak cukup, karena posisi penikmat seni masih sebatas patahan akhir pasca disempurnakannya objek seni. Tentu semua bersepakat bahwa intrepretasi adalah bagian dari seni itu sendiri. Namun justifikasi dari suatu benda seni sudah tidak lagi berada pada payung institusi ataupun domain seniman semata, sosial di era ini sudah seharusnya menjadi penentu ontologi dari seni.

Ungkapan “hidup adalah drama itu sendiri”, menandaskan signifikansi atas teori bahwa ontologi seni telah meleleh, karena hidup kemudian diterjemahkan sebagai seni itu sendiri. Lalu sejak kapankah patahan hidup bisa dikategorikan sebagai sebuah karya seni, dan sisanya hanya residu korban konsumerisme. Beberapa kalangan bergurau bahwa menetap sebagai maneken dalam bingkai kaca galeri bisa jadi sangat menyenangkan, terlebih rambahan kapitalisme terhadap ruang tidak pernah menunda sebentar pun apalagi pasca digitalisasi operasional jam, namun nampaknya harus tetap ada limitasi seni. Batas antara realitas dengan benda seni mulai dipertanyakan.

Maka bisa diajukan dua hal bagi sebuah benda memupus menjadi karya seni, yaitu adanya rancangan rencana [Collingwood dan Arthur C Danto] serta menimbulkan kesan estetis [Noel Carroll]. Rancangan rencana ini tentu saja berasal dari sang seniman, dalam film ini digambarkan Carlton Bloom. Rencana dia dengan menculik, meneror, dan berujung pada sampai tidak harmonisnya hubungan PM dengan isterinya adalah mahakarya seni yang sungguh agung. Jika perpecahan rumah tangga tersebut terjadi lantaran konflik perselingkuhan yang terencana katakanlah, maka seluruh imbas dari kejadian ini juga bisa disebut sebagai sebuah sajian seni.

Yang kedua yaitu para penikmat. Para penikmat memberikan justifikasi estetis pada hasil seni tersebut. Yang tidak bisa dinikmati adalah tidak dianggap sebagai yang seni. Dan penikmat bisa jadi adalah seniman itu sendiri. Pasca suatu karya dilepas ke pasar, seniman sudah tidak memiliki klaim sama sekali, artinya pasar [termasuk dirinya sendiri] adalah yang akan menentukan objek tersebut tergiring menjadi objek seni atau bukan.

Dalam film ini, seluruh ketegangan dalam peristiwa terorisme ini sudah bisa disebut sebagai sebuah pertunjukan seni, karena pertama dia dirancang oleh seseorang, dan kegaduhan ini juga mampu dicerap secara estetis oleh penonton [sang PM mulai dari pusing sampai menangis, publik yang masih tidak percaya dengan kejadian ini, Jane yang putus asa, Susannah yang harus menangis ketakutan, dan Bloom yang meranggas menahan sakit karena tangannya ia potong sendiri sekaligus bercampur luap gembira sebab rencananya berhasil].

Definisi ontologi seni yang masih bersifat dikotomis tidak memiliki kemampuan memampatkan dirinya dalam derasnya arus posmodernisme. Pemilahan seniman dan penonton adalah bentuk logika biner, onggokan residu modern.

Seniman terlibat dalam suatu karya seni, dia juga bisa berperan sebagai juga penonton. Bahkan sejatinya semua bisa menjadi perancang, sebab se kokoh apapun suatu bangunan sosial, akan selalu terjadi deviasi di beberapa rambahan tertentu, sosial adalah selalu yang berada dalam gema spasio-temporalitas. Maka dari sini mampu kita lihat bahwa batas seni semakin memuai, meluruh, ontologinya sudah sedemikian berubah. Dan semenjak tata ruang teknologi di zaman inilah ontologi seni berubah.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Deadpoøl UI’s story.