Resolusi

Sembilan belas jam sebelum pergantian tahun, tak ada yang spesial. Aku bangun seperti biasa, jam 5 pagi. Jangan tanya, aku pasti tidur lagi. Aku melanjutkan mimpi indahku setelah pertemuan wajib 5 menit dengan Tuhan. Tak ada yang bisa menggangguku dihari libur karena hanya di hari ini aku bisa tidur sepuasnya dan meminta Bapak dan Ibu untuk tidak menggangguku.

Menjalani rutinitas tentu bukan hal mudah bagiku. Pindah tempat bekerja, seperti mimpi buruk. Tapi yang perlu digaris bawahi, aku mendapat tempat kerja yang “layak”dari sebelumnya. Aku harus menuruti keinginan Ibu untuk kembali dari perantauan dan mencari pekerjaan yang tidak jauh dari pandangannya. Ibu khawatir karena aku perempuan, katanya. Meskipun sulit, pekerjaanku sedikit demi sedikit bisa teratasi. Faktanya, ini bukan pekerjaan impianku. Aku harus menjalani pekerjaan yang sebelumnya kupandang sebelah mata, terlebih aku harus mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan lebih dari satu orang. Tapi buktinya, aku bisa mengerjakan itu semua dengan kemampuan yang aku miliki. Aku memang sombong.

Harapan Ibu memang yahud! ditambah doa yang manjur bikin hidup makin mujur. Hidup kami berangsur membaik, Bapak dan Ibu bersyukur akan itu. Setelah ekonomi keluarga menurun, hanya aku yang Bapak dan Ibu andalkan untuk memperbaiki itu semua. Meskipun anak Bapak dan Ibu bukan hanya aku, tapi mereka tak pernah mau meminta pada kakakku yang telah menikah. Sebaliknya, kakakku sering meminta pada Bapak dan Ibu, seringnya mendadak, masalah uang, dan harus ada secepat kilat. Alhasil, Ibu dan Bapak yang kasihan dengan anak-anaknya, dan sudah tak berpenghasilan harus pinjam sana-sini. Jangan tanya siapa yang akan membayar, jelas aku anak terakhir. Aku memang sial.

Untuk menebus itu, Ibu dan Bapak selalu menuruti keinginanku. Keinginanku tak sulit, aku hanya ingin istirahat. Tapi semua sirna ketika pasukan cilik datang dan menghancurkan mimpiku. Rumah kini layaknya taman bermain. Bukan, lebih tepatnya pasar malam. Sangat ramai. Ketiga kakakku membawa semua pasukannya. Mau tak mau, aku bangun. Bergabung dengan pasukan itu.

Bapak dan Ibu senang sekali. Rasanya malam tahun baru adalah momen yang paling ditunggu. Berkumpul bersama anak dan cucu, Ibu sudah menyiapkan berbagai kudapan untuk menunggu pergantian tahun. Bapak menyiapkan segala keperluan untuk menunjang penyajian kudapan yang disiapkan Ibu. Cucu Ibu dan Bapak pun tak ketinggalan menyiapkan kembang api. Tapi yang paling utama disiapkan adalah doa dan harapan terbaik di tahun mendatang. Berbagai macam resolusi telah dipikirkan untuk hidup yang lebih maju kedepannya.

Satu jam sebelum tahun baru, doa dan harapan semua anak telah didengar. Giliran Bapak dan Ibu. Harapan Ibu tetap sama seperti tahun sebelumnya, ia ingin anaknya sehat dan bahagia selalu. Tak ada yang lain.

Giliran Bapak.

Suasana menjadi hening. Semua perhatian menuju ke Bapak. Kali ini keinginan Bapak membuat anak-anaknya diam. Bapak ingin tinggal di tempat anak-anaknya secara bergantian. Ia ingin bermain dengan cucu atau sekedar menjaga dan membersihkan rumah anak-anaknya. Bapak tak punya kesibukan lain, berbeda dengan Ibu yang selalu sibuk dengan pekerjaan rumah dan berbagai macam bahan jahitan pesanan pelanggan. Setelah pensiun 15 tahun lalu, Bapak tak punya kesibukan selain merawat tanaman dan burung yang ia pelihara.

Aku lupa, Bapak dan Ibuku sudah tua. Aku sibuk dengan segala pekerjaanku, keinginanku, dan ambisiku untuk mencukupi kehidupan mereka. Aku lupa, mereka juga butuh waktuku, waktu anak-anaknya. Aku lupa.

Terakhir, di detik-detik pergantian tahun, Bapak mengucapkan:

Bapak tinggal nunggu mati.

— — — — — — — — — —

22:48 | Bekasi, 01 Januari 2018

Like what you read? Give Deasy F a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.