Aku dan Kisahku

Manisrejo memang hanyalah sebuah desa, desa yang terletak di kota madiun. Desa yang tidak terlalu terpencil juga tidak terletak di jantung kota. Tatkala kaki menginjakkan di tanah pedesaan, hati akan tertambat jua. Ketenangan dan kedamaian menjadi ciri khasnya. Kebersamaan menjadi semangatnya. Ketulusan warganya menjadi selimutnya. Kesabaran hati menjadi sahabatnya.

Jalinan kasih telah menetapkan kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan ke empat putra-putrinya. Mereka tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar juga tak terlalu tua. Rumah sederhana yang terletak di utara masjid Al Ikhlas. Rumah itu bukanlah rumah yang bagus seperti layaknya rumah yang lainnya. Di bagian atas rumahnya tepatnya bagian belakang rumah, beberapa genting telah retak-retak. Pastilah air hujan masuk dan membasahi lantainya. Namun, semua itu tidaklah menjadikan keluarga ini menjadi iri hati, ataupun menghakimi sang penguasa alam.

Sesungguhnya cahaya penerang terbit dari rumah ini. Terang cahayanya mengalahkan sinar matahari juga rembulan. Sebab cahaya itulah yang memancar dari rumah tersebut yang tidak dimiliki oleh rumah-rumah yang lainnya. Cahaya itu muncul dari wajah Fatoni.

Fatoni adalah anak terakhir dari ke empat bersaudara dan sekaligus kado spesial dari sang pencipta kepada ke dua orang tuanya, karena Fatoni terlahir kembar bersama dengan kakaknya. Namun sangat di sayangkan, Allah terlalu mencintai kakaknya sehingga di umur yang masih sangat belia yakni lima bulan kakaknya telah berpulang di sisi-Nya. Duka pun menyelimuti keluarganya. Orang tuanya telah kehilangan satu permatanya.

Dengan penuh hati-hati dan kasih sayang ibunya mengasuh Fatoni seorang diri. Karena sang ayah harus merantau ke luar jawa untuk menghidupi keluarganya. Namun di usia yang masih belia, usia yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu, justru Fatoni dititipkan kepada sang nenek. Dan ibunya mengikuti menemani ayahnya merantau ke luar jawa.

Di masa sekolah dasar Fatoni, dia harus mengalami beberapa kali mutasi. Dia harus mutasi dari manisrejo ke nganjuk di rumah pamanya dan ke jambi ikut orang tuanya dan yang terakhir kembali lagi ke Manisrejo.

Di masa sekolah menengah atasnya, dia putuskan untuk masuk ke pesantren. Sesuai keinginan orang tuanya. Yaitu di salah satu pesantren di jawa timur yang terletak di kota ponorogo, tepatnya di desa Mayak, Kelurahan Tonatan.

Mendung duka turun ke bumi tat kala Fatoni menyelesaikan sekolah terakhirnya di pesantren, sang ayah yang menjadi payung yang menaungi hujan dan atap yang menghalangi sengatan matahari telah kembali kepada-Nya. Duka Fatoni tak tertanggungkan. Di usianya yang baru menginjak remaja, yang paling membutuhkan arahan seorang ayah untuk menemukan arti seorang lelaki, justru dia harus menjadi yatim. Sungguh, manusia bolehlah merencanakan dan berharap tapi allahlah yang memegang kendali takdir.

Fatoni tumbuh menjadi dewasa tanpa belaian kasih dan sayang seorang ayah. Peran ayah telah digantikan oleh ibunya. Betapapun kepedihannya di tinggal seorang ayah, kehidupan itu haruslah tetap berlanjut.

Hari berganti hari, bulan berganti tahun. Ibu Fatoni telah berusaha memerankan diri sebagai ayah sekaligus ibu bagi Fatoni. Tatkala ia menjadi seorang ayah, ia ajarkan kepada Fatoni bagaimana cara menjadi lelaki yang di takdirkan hidup dalam kekurangan. Tatkala ia menjadi Ibu, ia ajarkan kepada Fatoni apa arti cinta, kasih-sayang serta kelembutan. Dan, tat kala ibu Fatoni memerankan diri sebagai ibu sekaligus ayah, tak lupa ia memberi pengajaran tentang pentingnya mencintai Allah SWT.

Semua pengajaran yang di berikan ibunya mampu diserap oleh Fatoni secara baik. Semakin bertambahnya umur, semakin bertambah pula cahaya wajahnya. Seperti kata pepatah semakin berisi semakin merunduk.

Kini, Fatoni tumbuh menjadi lelaki yang gagah, tampan, bertanggung jawab, sopan-santun tutur katanya, serta alim dalam agama. Biarpun hidup dalam kesederhanaan, dan hanya bermodal kecukupan, tidak membuat Fatoni dan ibunya lupa akan saudara-saudara yatimya. Dia selalu menyisihkan sedikit dari penghasilannya hanya untuk sekedar berbagi nikmat dengan mereka.

Suratan takdir memang telah menghendaki Fatoni hidup sebagai yatim. Betapapun kepedihan di tinggal seorang ayah begitu sangat membekas, namun perjalanan hidup seorang Fatoni harus tetap dirintis dan di perjuangkan.

Inspirasi Lain “Kenapa Harus Mengeluh? Jika Bersyukur Saja Lebih Memperindah Hidup”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.