“Boleh nggak kamu beliin aku jangan thai tea lagi. Aku lagi ngurangin banget yang manis-manis.”

Kemarin saya lagi cranky banget. Bawaannya sensi dan pengen terus ngomel nggak berenti dari pagi. Selain lagi stres-stresnya soal pandemi, capek, faktor kerjaan juga jadi momok menakutkan utama belakangan. Mana rame banget RUU Ciptakerja. Ke-cranky-an yang nggak saya pengen tapi mau gimana lagi dirasakan itu akhirnya kena ke orang lain: Mas.

Ujung-ujungnya cranky ke diri sendiri: Ya Allah, kenapa gua bisa sabar dan tahan sama ini orang?

Perkara dibeliin thai tea seliter aja udah senang. Auto ke boost good mood.

Dulu saat Ramadhan, beberapa gelas thai tea mendarat di rumah. Buat buka puasa katanya. Seiring berjalannya waktu thai tea kerap datang ke rumah via ojek online. Momen saat lagi saya bete atau lagi senang atau lagi capek atau hal-hal lain. Saking seringnya, orang rumah saya udah hapal kalau saya minum thai tea dari siapa – Mas. …


Setiap muncul pertanyaan mau makan apa saya pasti bingung dan terserah Mas. Ini benar-benar terserah, bukan ada keinginan terpendam di baliknya. Namun, sudah semingguan ini lidah saya ingin icip makanan Jepang dengan cita rasa lokal yang biasa dijual di pedagang kaki lima pinggir jalan. Meski Kamis Mas bawa saya ke fast food Jepang, masih ada keinginan saya menyantap menu negeri Sakura yang sudah dimodifikasi agar lebih bisa diterima orang Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, malam ini berangkatlah kami ke Pamulang.

Letak warung tenda masakan Jepang yang kami tuju berada di seberang SPBU Pamulang. Pinggir jalan persis dan sederet dengan bengkel yang saya taksir buka hingga sore hari. Spanduk maupun bentuk warung, bahkan menunya sungguh sederhana. Hanya ada dua spanduk: putih dan hijau terang. Di spanduk putih yang menghadap jalan tulisannya pun singkat, jelas, padat berisi tiga menu mereka: teriyaki, yakiniku, dan tempura. Nama tempat makannya pun nihil. Di dalamnya hanya ada tiga meja berlapis taplak merah berbahan plastik. Dapurnya pun tak kalah sederhana: dua teflon hitam legam di atas dua kompor tungku seperti biasa untuk penjual nasi goreng, rak kaca sederhana, dan meja panjang di bagian belakang. …


“Yuk beli Aqua. Cari yang merk kamu. Kamu kan sukanya Pristine.”

Ini belanja bersama kami kesekian. Setelah santap makanan China yang saya suka, tapi Mas nggak suka, mendaratlah kami di supermarket grosir daerah Ciputat. Trolley besar kami geret bergantian, kadang bersama untuk menampung berbagai barang. Dan air minum Pristine jadi salah satu yang kami — Mas — beli. Bukan Aqua, Vit, atau Minerale, tapi Pristine.

Beberapa bulan lalu saya buka pintu, duduk, pasang seat belt. Baru menghela nafas, Mas berucap: “itu ada air di samping.”

Pristine.

Setelahnya sampai sekarang di mobil selalu sedia Pristine yang menjadi penyelamat haus, kewajiban minum air putih, atau lainnya. Bukan satu dua botol, tapi satu dus. Terkadang saya bawa pulang dan menegak habis air putih bertutup botol hijau itu di kamar saat mau tidur. …


Orang-orang itu seperti mengejar sembari membawa berbagai dokumen di tangan. Saya terus berlari dengan rasa takut dan air mata yang terus berlinang. Scene berpindah saat saya sedang duduk di sudut ruangan sambil buka laptop. Lalu scene kembali berganti, saya seperti ada di acara virtual dengan panggung digital dari green screen.

Pukul tiga dini hari saya kembali bangun dari tidur yang nggak nyenyak. Mimpi buruk lagi dan lagi yang kian menyiksa, terutama dua minggu belakangan.

Sekitar empat hingga lima jam sebelumnya saya masih rebahan. Bercakap lewat telepon dengan mood yang kembali anjlok. Padahal sorenya saya sudah bersusah payah menaikkan semangat dan motivasi. Mulai dari bersih-bersih rumah, menyiram tanaman, mengganti sprei kasur, sampai main nggak jelas dengan kucing yang baru beranak empat. …


Image for post
Image for post

Sesaat setelah keluar parkiran, motor matik itu tancap gas menyebrang jalan dan belok kanan. Lalu kian melaju menyusuri selatan Jakarta yang minim penerangan lampu jalan. Terus bergerak sampai memasuki kawasan Jawa Barat. Saya celingak-celinguk. Menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang baru saya sadari jarang ada keberadaannya di sekitar rumah: warkop.

Dulu saya pernah tak sengaja makan malam bersama dosen legendaris nan killer. Itu kali pertama saya berbincang langsung dengan sosok yang kini begitu saya segani. Pernah pula saya santap semangkok Indomie goreng telur rebus tanpa sawi sambil bercakap-cakap bahasa Sunda dengan aa-aa asal Sumedang sebelum interview kerja. …


Hari ini tidak masak. Alasannya aktivitas yang padat. Alasan.

Sarapan hanya teh panas hangat. Buru-buru ngacir karena Go-Car sudah menjemput. Menembus perbatasan Depok menuju tengah Jakarta dengan biaya Rp78.000.

Setengah hari saya bekerja dari kantor. Menunggu produk-produk UMKM yang kantor sudah diseleksi beberapa minggu lalu. Mengeceknya satu per satu. Memeriksa dokumen penilaian. Dan berkeluh kesan dengan rekan kantor secara langsung — akhirnya tidak lagi hanya misuh lewat WhatsApp!

Skip makan siang.

Pulang ke rumah naik Trans Jakarta, lanjut Go-Car lagi. Mandi. Saya kira bisa langsung masak dan makan sayur, ternyata masih harus video call koordinasi soal live malam.

Sebenarnya saya sudah agak was-was kalau makan kelewat telat. Pasalnya, beberapa kali saya harus bolak-balik dokter karena muasal permasalahannya telat makan. Maag saya sudah semakin akut. Lambung sudah luka. Makan seharusnya tidak boleh telat. Dokter penyakit dalam saya dulu sudah wanti-wanti jangan sampai sakit merembet ke mana-mana karena bisa fatal. Saya suka terngiang omelan dokter tua saya dulu itu. Takut, tapi tetap bandel. …


Kacang panjang yang saya dan bapak tanam di rooftop ternyata belum cukup tua untuk dimasak. Beberapa hari lagi baru siap panen. Namun, keinginan masak dan makan kacang panjang sudah terlanjur ada di benak. Alhasil dibelikan ibu di tukang sayur dekat rumah pagi-pagi sekali sebelum saya bangun.

Di dapur ternyata kacang panjang sudah dicuci dan dipotong ibu. Saya tinggal melanjutkan proses masak 3 Juni 2020: memotong lalu menggoreng tempe yang menurut saya kurang bagus — mudah hancur; mengiris bawang putih dan bawang merah; mengiris cabai merah. …


“Chop chop chop chop…”

Saya memotong buncis yang sebelumnya sudah saya bersihkan. Pada saat yang bersamaan saya juga sedang menyimak meeting kantor. Tanpa sadar, ternyata audio aplikasi belum di-non aktifkan. Alhasil, seorang rekan kerja langsung kirim pesan melalui WhatsApp: “Dew lo lagi motong apa”. Buru-buru saya tinggalkan aplikasi yang sialnya saat mau menonaktifkan suara malah error. Bergegas tutup aplikasi dan kembali bergabung ke meeting tanpa suara.

Sejak semalam saya sudah niat akan masak tumis buncis dengan tahu cabai garam. Di kulkas ada buncis yang masih berkualitas baik. Soal tahu cabai garam, saya penasaran dengan resep dari Mas Nuran yang sempat saya baca kalau tepungnya dicampur meizena dan bawang putih ada dua waktu menggoreng. …


Sekitar dua bulan ini muka saya break out parah. Terparah seumur hidup. Pernah sehabis pulang dari Wakatobi agak seperti ini. Namun, ini benar-benar menyedihkan. Sudah saya stres kerjaan, terpaksa mendekam terus-terusan di rumah karena COVID-19, harus juga stres karena jerawat. Saya pun cari cara secepat mungkin agar keluar dari kondisi ini, termasuk yang berhubungan dengan sayur.

Selama WFH ini rutinitas skin care tetap saya lakukan hampir setiap hari. Seprai kasur dan sarung bantal juga rajin saya ganti. Begitupun tetek bengek kebersihan lain. Kalau lagi bercermin, rasaya mau memaki: bangsat, muka gua napa jadi gini dah! …


Image for post
Image for post

“Nggak dikirim nasi bakarnya? Kirim sana.”

Suatu siang pada akhir pekan, secara impulsif saya terpikir akan buat nasi bakar. Momen itu hadir saat sedang menghubungi tukang sayur di pasar dekat rumah. Saya segera tambahkan bahan belanjaan di luar daftar yang sudah ada. Kemangi, teri, dan daun pisang yang jadi komponen utama nasi bakar pun melengkapi bahan masakan sepekan untuk diantar ke rumah.

Pandemi COVID-19 memang membuat jiwa unpredictable saya kian meningkat. Begitu pula kreativitas di dapur. Walau kerjaan tidak lebih ringan sama sekali dibanding sebelumnya, malah sebaliknya, gairah untuk masak yang tak biasa bagi saya terus menggebu. Alhasil curi-curi waktu saya sempatkan masak. …

About

Dewi Rachmanita Syiam

Tentang perjalanan, musik, dan cerita. Saya di Instagram: #JalanBarengDewi

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store