Ada yang Salah Kalau Perempuan Bekerja Tidak dari Pukul 8 sampai 17?

“Tuh kerja aja di situ atau kementerian. Anak perempuan kerja yang bener aja, jangan keluyuran nggak jelas.”

Pernyataan itu jelas menyasar saya yang sedang duduk dan menonton televisi. Saat itu sebuah iklan sebuah kementerian hadir. Iklan tersebut lantas memicu seseorang untuk menasehati saya soal pekerjaan.

Saya menjawab tentang apa salahnya selain kayak gitu? Itu juga nggak menjamin banyak hal secara komprehensif, misal wawasan, pengalaman, kebahagiaan, relasi, dan lainnya. Jaminan material memang mungkin terkesan lebih menjanjikan. Ujung-ujungnya tetap, baginya perempuan baiknya kerja “biasa” saja. Keutamaannya di rumah, apalagi kalau sudah berkeluarga.

Tidak berhenti di situ. Adik perempuan saya sebentar lagi akan mengenyam perkuliahan. Saat ini ia bingung jurusan dan kampus mana yang ingin dituju.

“Udah, pilih jurusan yang jelas aja. Jangan yang suka malem dan nggak jelas. Manajemen atau sekretaris gitu. Guru juga enak sekarang terjamin,” ucap seseorang sambil melirik saya.

Jelas itu tertuju untuk saya.

Sudah saking muaknya saya hanya bisa diam membisu. Saya pun memilih menahan kecamuk diri dan melengos pergi ke kamar.

Kejadian serupa tak hanya terjadi sekali dua kali. Berkali-kali, dari awal saya merantau kuliah sampai saya di tingkat akhir dan tengah mengerjakan skripsi. Sinisan itu terus ada. Seolah-olah pekerjaan masa depan saya kalau sesuai jurusan itu bikin saya nggak bener, hidup nggak jelas, bukan perempuan baik-baik, bukan seperti perempuam kebanyakan. Belum lagi realitas gaji tak sebesar kalau kerja yang katanya jelas dari pukul 8 sampai 17.

Selama kuliah memang saya sengaja eksplorasi banyak hal. Mengembangkan diri. Ikut ini itu. Liput ini itu. Ke sana ke mari. Tak jarang liput acara hingga larut bahkan pagi. Akhir pekan pun tak luput bekerja. Kegiatan jelas kok, acara musik. Beberapa kali ke luar kota. Apa yang saya lakukan rasanya jelas-jelas saja. Dan saya menjalani itu semua dengan senang.

Memang apakah nggak jelas itu hanya semata-mata dinilai dari waktu bekerja?

Memang ada yang salah kalau perempuan bekerja tidak dari pukul 8 sampai 17?

Memang ada yang salah saya mau berkarir di bidang ini?

Sejelek itukah citra perempuan kalau pulang larut atau masuk kerja siang? Atau kerja tidak berseragam? Atau tidak kerja di ruang kantor berpendingin udara? Atau tidak melulu mengurus dapur, ranjang, dan urusan rumah lain? Atau ringkasnya tidak seperti gambaran perempuan yang katanya sejati kebanyakan? Salahkah membangun diri terus menerus dan meniti karir yang tidak di jalan kebanyakan perempuan pilih?

Memang kenapa kalau tidak seperti kebanyakan perempuan? Ada yang salah kalau berbeda? Mengapa harus sibuk memikirkan kata orang yang tak tahu apa yang terjadi sebenarnya?

Apakah saya harus jadi sosok perempuan yang kerja dari pukul 8 sampai 17? Menjalani hari demi hari dengan ritme kerja yang sama. Bertemu dengan orang yang kemungkinan itu-itu lagi. Atmosfir kantor yang mungkin bikin wawasan dan pengalaman saya mandek.

Mungkin ada sebagian orang yang memang lebih betah dengan itu semua. Namun, itu bukan saya. Ini hidup saya atau Anda?

Sudah, sudah saya jelaskan mau saya. Minat dan keinginan saya ke depan. Soal apa yang telah saya lakukan untuk membangun diri. Pun sosok-sosok sukses perempuan yang gemilang. Resiko soal gaji dan lainnya pun telah saya utarakan. Saya juga sudah sampaikan tidak akan melupakan urusan keluarga. Saya tidak akan mengulangi hal yang sama: tidak bersahabat karena sibuk kerja.

Harusnya Anda tahu sebenar-benarnya siapa saya. Dan memberi pandangan dengan sebijak-bijaknya tanpa nyiyiran menyudutkan. Mengoyak hati dan selalu bikin gempuran pilihan diri.

Ini baru mau jadi jurnalis, bagaimana kalau bilang jujur saya ingin mengajar di pelosok pedalaman bersama Sokola Rimba.