Antara Lempuyangan-Kiaracondong

Anjas, balik dari Jogja bener-bener kayak abis mudik, cuy! Carrier 40L yang terlihat seperti 65L saya angkat dan letakkan di rak dalam kereta. Tas selempang Niion yang kekinian itu saya kalungkan di tubuh. Tak lupa, para barang-barang titipan saya simpan di bawah kursi 10D gerbong 2.

Antara Lempuyangan-Kiaracondong saya menatap ke jendela yang memantulkan wajah ibu bapak di kursi sebelah. Dalam perjalanan ini saya banyak berbincang dengan kawanan seperkeretaan Kahuripan. Mulai dari mbak-mbak yang kuliah di Stikkes demi alasan tinggal di Jogja, ibu-ibu dari Madiun sama tujuan-Kiaracondong, dan lainnya termasuk para bocah yang berseliweran antarkursi. Namun, bukan obrolan realitas itu yang menjadi inti perjalanan ini. Antara Lempuyangan-Kiaracondong bermuara pada tentang kedewasaan dalam berpikir dan bersikap.

Saya senang berteman dengan banyak orang, siapa dan di mana saja, termasuk lewat medium manapun. Saya pun tidak membeda-bedakan apakah dia perempuan atau laki-laki. Bagi saya, semakin banyak teman, baik di realitas atau maya, semakin baik. Banyak teman, banyak cerita. Banyak teman, banyak pelajaran pula yang bisa diambil. Pun tentang kedewasaan yang bisa diperoleh lewat jaring-jaring pertemanan.

Cerita ini saya tulis di kereta sesaat setelah mendapat pesan menggemparkan lewat salah satu media sosial. Saya sejatinya tak terkejut-terkejut amat dengan pesan dari seorang perempuan muda itu. Hal yang membuat kaget adalah pesannya yang terkesan “melabrak” saat tidak ada hal yang seharusnya dilabrak. Sopan santun tidak saya lihat di pesan itu, yang ada malah kentalnya emosi walau saya hanya sekilas membaca lebih jauh karena malas meladeninya.

Tiba-tiba dapat pesan lewat media sosial lain. Gerak-gerik agar menutupi segalanya saat seharusnya tidak ada yang harus ditutup-tutupi. Saya terjebak di antara dua orang, padahal saya tidak paham mengapa harus berada di pusaran kisah mereka berdua. Sedari masih awal bersama hingga berakhir, saya yang jauh dari mereka sempat terbawa dalam permasalahan hubungan mereka.

Saat melihat jendela, saya juga melihat diri saya sendiri. Samar-samar menjadi refleksi diri. Apa ya saya yang salah ya berteman dalam dengan banyak orang. Apa ya saya yang kurang dewasa ya saat menilai orang lain pun dalam bersikap. Padahal bagi saya semua masih menjadi teman biasa. Pun jalan bersama berdua, makan berdua, atau lainnya pun masih teman biasa ke banyak orang.

Just friend.
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dewi Rachmanita Syiam’s story.