Esensi

Tadi sore saya bertamu ke dua tempat kursus terkait EDM di Bandung. Letak keduanya berdekatan, satu di Jalan Kancil, Buah Batu dan satu lagi di Jalan Palasari. Walau lokasi yang berdekatan, esensi EDM yang mereka ajari bagi saya cukup berjauhan.

EDM nampaknya memang kian menjadi sebuah trend di masyarakat. Berbondong-bondong orang ingin jadi DJ atau mengidolakan DJ. Banyak acara pula yang berlomba-lomba undang DJ untuk meramaikan suasana. Tak ayal, kursus-kursus menjadi DJ pun produksi lagu EDM kian menjamur di berbagai wilayah, termasuk Bandung. Hal itulah yang saya dan beberapa rekan coba rekam, khususnya terkait mata kuliah Jurnalistik Spesialisasi Desk Lifestyle.

Sebelum liput dua tempat kursus DJ di Bandung ini saya sudah riset kecil-kecilan. Mulai dari memantau media sosial, strategi marketing yang terlihat, hingga berbincang dengan beberapa orang. Saya sudah memproyeksikan dua tempat ini memang memiliki kualitas yang berbeda.

Nyatanya?

Benar saja. Bukan soal equipment atau teknik per-DJ-an yang diajar ke murid, tapi wawasan dan ideologi yang secara tidak langsung mereka beri.

Tempat pertama berlokasi di sebrang sebuah lapangan bola. Bangunannya tua nan sederhana sekaligus cukup panas, kecuali ruang-ruang studionya yang dilengkapi AC. Baru saja saya dan rekan berhenti di depan gerbangnya, seorang bapak tua sudah menyapa dan menyambut. Dengan ramah dan halus khas Sunda ia bertanya keperluan kami datang sekaligus menjelaskan tentang tempat kursus itu. Ia persilahkan saya dan rekan masuk ke bangunan yang di dindingnya dihiasi foto-foto DJ, salah satunya Avicii saat tampil di DWP. Bapak tua itu langsung arahkan kami ke sertifikat-sertifikat kelulusan yang terpampang dan cerita lulusan kursus itu yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti dosen, dokter, mahasiswa, dll. Ia juga perbolehkan kami melihat studio-studio yang ada sembari menunggu pemiliki DJ school tersebut. Dari obrolan dengan si Bapak, terlihat betul ia cukup kuasai dunia EDM. Dengan fasih ia breakdown genre-genre sekaligus DJ-nya, kultur EDM, kualitas DJ, dan sebagainya. Dari obrolan dengan pegawainya saja sudah berkualitas bagi saya.

Kualitas itu makin terlihat saat berbincang dengan pemilik kursus DJ yang awalnya berfokus pada produksi musik digital. Sudah berdiri sejak sekitar lima tahun lalui itu, ia memang memfokuskan kursusnya untuk tak sekadar mencetak orang-orang asal. Ia menekankan kualitas ketimbang kuantitas. Bukan hanya omong kosong bagi saya, hal itu terbukti dari kualitas jawaban dari pertanyaan yang saya lontarkan. Hadirnya buku sekaligus majalah luar negeri terkait EDM sebagai referensi pun nilai plus terkait kualitas di tempat itu. Bahkan dengan terang-terangan ia berani menyinggung negatif muridnya yang ingin belajar hanya untuk sekadar mencari popularitas atau uang atau pacar belaka.

Bagaimana dengan tempat di deretan toko buku Palasari?

Aneh. Janggal.

Dua kata itu yang bisa saya lontarkan untuk kursus DJ di sana, lebih tepatnya ke pegawai yang menunggu. Sayang, saya belum berkesempatan mewawancari pemiliknya, sehingga belum dapat kupas lebih jauh DJ school itu. Pesan saya lewat aplikasi Whatsapp tak kunjung dibalas.

Namun, kualitas yang berbeda bagi saya sudah terlihat jelas. Memang bangunannnya lebih terkini dengan warna dinding modern disertai typography nama-nama DJ dunia, tapi kualitas pegawainya saya sayangkan. Mengapa saya berani bilang begitu? Hal-hal dasar yang coba saya tanya tidak mampu dijawab dengan alasan tidak dari awal kerja di sana.

Saat masuk ke bagian tempat kursus itu sudah terlihat linglung, baik saya dan rekan maupun penjaganya. Saya sudah terangkan maksud tujuan berkunjung, tapi pegawai yang masih muda itu hanya diam melongo di mejanya. Saya dan rekan bahkan saling tatap-tatapan seolah mengerti keadaan yang aneh ini. Kami pun harus memastikan dapat bertanya tentang DJ school itu ke siapa.

Sembari membawa Vape, pegawai itu duduk depan saya dan mencoba meladeni pertanyaan demi pertanyaan saya. Hal dasar yang saya tanya pertama: sejak kapan dan bagaimana awal berdiri DJ school tersebut. Jawabnya tidak tahu dan melempar ke pemilik yang saat itu tidak ada. Pertanyaan-pertanyaan lain pun dijawab serupa, bahkan terkait materi yang diberikan kepada murid dan dominasi latar belakang muridnya. Terkait genre, saya penasaran apa yang DJ school ini coba ajarkan. Jawabnya: di sini kalau program Basic itu Progressive dan Trap. Hanya itu?

Menurut saya aneh. Itukah cerminan EDM yang coba diberikan DJ school tersebut? Berangkat dari kualitas pegawainya saja bagi saya cukup menilai kualitas DJ school-nya. Belum lagi melihat pembelajarannya. Mugkin inilah yang hasilkan DJ-DJ instan minim esensi EDM. Kultur EDM itu sendiri nampaknya tak diberi, murni teknik agar cepat bisa dan manggung sana-sini raih popularitas.

“EDM memang makin populer, tapi juga esensi EDM itu sendiri semakin hilang,” Wiwied.